‏إظهار الرسائل ذات التسميات الطهارة - Bersuci. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات الطهارة - Bersuci. إظهار كافة الرسائل

الاثنين، 8 أبريل 2013

40. الطهارة: Najis Pada Kaki Lalat

PERTANYAAN :
Acul Toer
Bagai mana hukumnya najis yang di bawa kaki lalat.,?

JAWABAN :

Masaji Antoro
Tergolong najis yang di Ma’fu (diampuni)

قال شيخنا كالسيوطي تبعا لبعض المتأخرين إنه يعفى عن يسير عرفا …وما على رجل ذباب وإن رؤي
( قوله وعما على رجل ذباب ) أي ويعفى عن النجس الذي على رجل الذباب في الماء وغيره
فهو معطوف على قوله عن يسير عرفا
( وقوله وإن رؤي ) أي يعفى عنه مطلقا سواء رؤي أم لم ير
فإن قيل كيف يتصور العلم به وهو لم ير أجيب بأنه يمكن تصويره بما إذا عفى الذباب على نجس رطب ثم وقع على شيء فإنه لا ينجس
ويمكن تصويره أيضا بما إذا رآه قوي البصر والمنفي رؤية البصر المعتدل
Berkata Guru Kami seperti Imam as-Suyuuthy dengan mengikuti ulama-ulama muta-akhkhiriin “Sesungguhnya dima’fu (diampuni) sesuatu yang menurut ‘urf naas (penilaian orang banyak) dianggap sedikit… ...
seperti sesuatu yang terdapat pada kaki lalat meskipun dapat terlihat.
(Keterangan sesuatu yang terdapat pada kaki lalat) artinya dan diampuni najis yang terdapat pada kaki lalat yang hinggap pada air atau lainnya
(Keterangan meskipun dapat terlihat) artinya hokum diampuni kenajisannya mutlak baik najisnya terlihat atau tidak.
Bila dipertanyakan “Bagaimana dapat digambarkan mengetahui najisnya sementara dikatakan najisnya tidak terlihat ?”
Maka jawabannya “Penggambarannya :
(1) semisal lalat yang hinggap pada benda najis yang kemudian dia berada pada suatu benda maka benda tersebut tidak menjadi najis.
(2) Najis yang terdapat pada kaki lalat tersebut dapat dilihat oleh orang yang memiliki penglihatan yang amat tajam tapi tidak dapat dilihat oleh mata orang pada umumnya".
I’aanah at-Thoolibiin I/88
Wallaahu A'lamu Bis Showaab

http://www.piss-ktb.com

39. الطهارة: Mengulangi Niat saat MANDI WAJIB

PERTANYAAN

Muhammad Bisri Musthofa

Assalamualaikum pertanyaan titipan :
Bila mandi besar dengan cara dicicil apakah ketika ingin menyempurnakan mandi harus ada qosdu (tujuan) untuk meneruskannya mohon disertai referensinya sekian terima kasih wassalamualaikum

JAWABAN

Hakam Ahmed ElChudrie

TIDAK PERLU, karena muwaalah dalam mandi wajib hukumnya sunnah

ولو نوى رفع الجنابة وغسل بعض البدن ثم نام فاستيقظ وأراد غسل الباقي لم يحتج إلى إعادة النية
 ( قوله لم يحتج إلى إعادة النية ) أي لعدم اشتراط الموالاة فيه بل هي سنة فقط
 كما صرح به في المنهاج في باب التيمم
Wa law nawaa raf'al janabati wa ghosala ba'dhol badani tsumma naama fastaiqodzo wa aroda ghoslal baaqi lam yahtaj ila i'adatin niyyah..
(qouluhu lam yahtaj ila i'adatin niyyat) ay li'adamisytirothil muwalaati fih bal hiya sunnatun faqoth..


Artinya : Bila seseorang niat mandi JNANABAT dan membasuh sebagian anggauta tubuhnya kemudian tidur dan setelah ia bangun ingin membasuh sisa-sisa anggauta tubuhnya yang lain maka tidak dibutuhkan pengulangan niat

(keterangan maka tidak dibutuhkan pengulangan niat) karena tidak adanya sarat muwaalah (terus-menurus) dalam mandi wajib.Hukum muwaalah dalam mandi wajib hanyalah sunnah
I'anah at-Thoolibiin 1/75

[http://0.facebook.com/home.php?sk=group_196355227053960&view=doc&id=282540791768736&

38. الطهارة: Cipratan Air Ketika Kencing Di Sungai

PERTANYAAN :

Toni Imam Tontowi

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ، حمدا وشكرا لله
، بسم الله الرحمن الرحيم

deskrisi masalah :si Otong kencing di sungai , karena air kencingnya langsung mengarah ke air sungai maka ada percikan halus yang mengarah kemana mana dan diantaranya ada yang mengenai sarungnya.

pertanyaan :termasuk air apakah percikan tadi ?monggo dibahas pelan pelan ....

Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad

JAWABAN :

Hadlro Maut

واما الرشاش بسبب صدم البول او البعرة للماء الكثير فطاهر

tarsyikhul mustafidin 15

Ghufron Bkl

bila kencing pd air banyak najis bila percikan itu jelas berubah salah satu sifaty ato jelas berupa kencing.i'anah 1/32

ولو بال فى البحر مثلا فارتفعت منه رغوة فهي نجسة إن تحقق أنها من عين النجسة أو من المتغير أحد أوصافه بها والا فلا

i'anah 1 / 32

37. الطهارة: Najiskah Bulu Ayam Dan Sayap Laron

PERTANYAAN :

Shinta Yach Gi
apakah bulu ayam & sayapnya laron itu najis bila sudh terpisah dgn tubuhnya? tolong dijawab


JAWABAN :

Masaji Antoro
‎>>

فرع في أجزاء الحيوان الأصل أن ما انفصل من حي فهو نجس الشعر المجزوز من مأكول اللحم في الحياة والصوف والوبر والريش فكلها طاهرة بالاجماع
والمتناثر والمنتوف طاهر على الصحيح ويستثنى أيضا شعر الآدمي والعضو المبان منه ومن السمك والجراد ومشيمة الآدمي فهذه كلها طاهرة على المذهب وهذا الذي ذكرناه في الشعور تفريع على المذهب في نجاسة الشعر بالموت

CABANG, menjelaskan tentang bagian-bagian tubuh binatang
"Sesuatu yang terpisah dari binatang yang masih hidup hukumnya najis"
Rambut yang di cukur dari binatang yang halal dimakan saat hidupnya, serta bulu (dari semacam wool domba), dan bulu (dari semacam binatang kelinci) dan bulu (dari semacam burung, LAR-java pen.) semuanya dihukumi SUCI dengan kesepakan para Ulama, sedang bulu yang dicabut darinya hukumnya SUCI menurut pendapat yang shahih.
Dikecualikan juga rambut manusia dan amggota yang nyata darinya, ikan, belalang, ari-ari manusia semuanya hukumnya semua juga suci menurut pendapat yang bisa di jadikan Madzhab.
Roudhotut Thoolibiin I/15
================

( وما قطع من حي فهو ميت إلا الشعور المنتفع بها في المفارش والملابس وغيرهما ) الأصل في ذلك حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل عن جباب أسنمة الإبل وأليات الغنم فقال ما قطع من حي فهو ميت وفي رواية ما قطع من بهيمة وهي حية فهو ميت ويستثى من عموم ذلك شعر المأكول وريشه وصوفه ووبره إذا انفصل في حياته بقطع أو قص فإنه طاهر وكذا ما تناثر أو نتف في الأصح

"Sesuatu yang dipotong dari barang hidup hukumnya mati (najis) kecuali rambut yang bisa dimanfaatkan untuk tikar, pakaian dan lain sebagainya berdasarkan hadits Nabi riwayat Abi Said alkhudhri saat Nabi ditanya tentang Jubah yang terbuat punuk unta dan pantat kambing, Nabi menjawab
"Sesuatu yang dipotong dari barang hidup hukumnya mayat, di riwayat lain "Sesuatu yang dipotong dari binatang yang hidup hukumnya mayat"
Dikecualikan dari keumuman hadits ini rambut dari binatang yang halal di makan dagingnya bulu2nya, bila dipotong saat hidupnya dengan memotong, mencukur maka suci (ulama sepakat) begitu juga yang dicabut menurut pendapat yang shahih (ulama berbeda pendapat).
Kifaayah Al-Akhyaar I/521

الأحد، 7 أبريل 2013

33. الطهارة: Petis dan Terasi, Najis atau Suci ?

Hudai Maulana
Pertanyaan:
assalamualaikum...mo tanya, bgmn hukumnya petis? Dan kriteria petis yg menajiskan terhadap pakaian.
PETIS DAN TERASI, NAJIS ATAU SUCI ?

Oleh : Siroj Munir


Petis adalah makanan yang dihasilan dari pengolahan kaldu / sari udang atau ikan yang diberi bumbu-bumbu,sehingga berbentuk pasta yang berwarna cokelat kehitaman dan mempunyai aroma yang khas. Petis dapat dibuat dari udang atau ikan yang masih utuh,namun terkadang juga dibuat dari sisa-sisa udang pemanfaatan limbah kepala dan kulit atau sari ikan dari pembuatan pindang.Sedangkan terasi adalah bumbu masak yang dibuat dari ikan atau udang yang difermentasikan yang berbentuk seperti pasta dan berwarna hitam coklat, kadang ditambah dengan pewarna sehingga menjadi kemerahan.

Jika terasi atau petis tersebut dibuat dari ikan yang sudah dibersihkan kotorannya tentu tak jadi persoalaan, yang jadi masalah adalah kalau ikan yang dipakai dalam pembuatan terasi atau petis itu belum dibersihkan kotorannya.Ulama’ madzhab Syafi’i berbeda pendapat dalam hukum kotoran ikan.

Pendapat pertama menghukumi najis kotoran ikan,seperti yang dikemukakan oleh Syeh Abu Hamid,.Al Qodhi Abit Thoyyib menambahkan jika kotoran ikan dihukumi suci maka jika ikan tersebut digoreng tanpa dikeluarkan kotorannya minyak goreng tersebut dihukumi mutanajjis. Pendapat yang menghukumi najisnya kotoran ikan adalah pendapat yang ashoh menurut Syeh Al Buroihami. Menurut Imam Nawawi ini adalah pendapat yang diakui dalam madzhab.Ulama Iraq dan sebagian golongan ulama’ Khurosan juga mengikuti pendapat ini, sedangan sebagian ulama’ khurosan meriwayatkan satu pendapat yang lemah bahwa kotoran ikan hukumnya suci.

Sedangkan menurut pendapat yang kedua, kotoran ikan dihukumi suci,salah satu alasan yang dikemukakan oleh pendukung pendapat ini adalah bahwa jika bangkainya dihukumi suci,maka kotorannya pun tentu dihukumi suci, karena dalam bangkai pun tentu ada kotorannya. Imam Ibnu Hajar, Imam Ziyad dan Imam Ar Romli dan ulama’ lainnya juga menyepakati ketetapan huum bahwa kotoran yang terdapat pada ikan-ian kecil dihukumi suci dan boleh dimakan,karena itu benda-benda yang terkena kotoran tersebut seperti minyak goreng tidak najis bila terkena kotoran ikan tersebut.Bahkan menurut Imam Ar Romli hukum ini juga berlaku bagi ikan yang besar. Penulis kitab Al Ibanah menilai pendapat yang menghukumi suci kotoran ikan adalah pendapat yang Ashoh,bahkan Imam Al Rosyidi menganggap bahwa pendapat yang menghukumi najis kotoran ikan adalah pendapat yang lemah, dan mengklaim bahwa pendapat yang menghuumi suci kotoran ikan adalah pendapat yang mu’tamad. Wallohu A’lam.

Referensi :
1. Al Wasith, Juz : 1, Hal : 154
2. Al Bayan, Juz : 4 hal : 525
3. Al Majmu’, Juz : 2 Hal : 550
4. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 15
5. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 15
6. Fathul Jawad, Hal : 44
7. Hasyiyah al Rosyidi Al Fathil jawad, hal : 44

1. Al Wasith, Juz : 1, Hal : 154

الثَّانِي رَوْث السّمك وَالْجَرَاد وَمَا لَيْسَ لَهُ نفس سَائِلَة فَفِيهِ وَجْهَان أَحدهمَا نجس طردا للْقِيَاس وَالثَّانِي أَنه طَاهِر لِأَنَّهُ إِذا حكم بِطَهَارَة ميتتهما فكأنهما فى معنى النَّبَات وَهَذِه رطوبات فى بَاطِنهَا

2. Al Bayan, Juz : 4 hal : 525

قال الشيخ أبو حامد: وأما السمك الهازي: وهو السمك الصغار، الذي يقلى ببغداد ولا يخرج ما في جوفه من الرجيع.. فلا يحل أكله ورجيعه فيه؛ لأن رجيعه نجس، فلا يحل أكله.
فعند الشيخ أبي حامد: روث السمك نجس وجها واحدا، وفي دمه وجهان.
وأما صاحب " الإبانة ": فقال: في روث السمك وجهان، كدمه، أصحهما: أنه ليس بنجس.
فعلى هذا: يحل أكله قبل أن يخرج.

3. Al Majmu’, Juz : 2 Hal : 550

وَقَدْ سَبَقَ أَنَّ مَذْهَبَنَا أَنَّ جميع الارواث والدرق وَالْبَوْلِ نَجِسَةٌ مِنْ كُلِّ الْحَيَوَانِ سَوَاءٌ الْمَأْكُولُ وَغَيْرُهُ وَالطَّيْرُ وَكَذَا رَوْثُ السَّمَكِ وَالْجَرَادِ وَمَا لَيْسَ لَهُ نَفْسٌ سَائِلَةٌ كَالذُّبَابِ فَرَوْثُهَا وَبَوْلُهَا نَجِسَانِ عَلَى الْمَذْهَبِ وَبِهِ قَطَعَ الْعِرَاقِيُّونَ وَجَمَاعَاتٌ مِنْ الْخُرَاسَانِيِّينَ وَحَكَى الْخُرَاسَانِيُّونَ وَجْهًا ضَعِيفًا فِي طَهَارَةِ رَوْثِ السَّمَكِ وَالْجَرَادِ وَمَا لَا نَفْسَ له سائل

4. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 15

فائدة : نقل عن البريهمي أنه قال فى الأصح أن ذرق السمك والجراد وما يخرج من فيها نجس وفى الإبانة أنه طاهر

5. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 15

وقد اتفق ابن حجر وزياد و م ر وغيرهم على طهارة ما في جوف السمك الصغير من الدم والروث ، وجواز أكله معه ، وأنه لا ينجس به الدهن ، بل جرى عليه م ر الكبير أيضاً

6. Fathul Jawad, Hal : 44

قال البندنيجي : سألت الشيخ أبا حامد عن سمك يقلى وفيه الروث هل يؤكل ؟ فقال : هو طاهر اه. وفى تعليق القاضي أبى اطيب : انه لو قلى سمكا وفى بطنه الروث تنجس الزيت بما فى بطنه من الروث وتنجس السمك اه. والصحيح الأول

7. Hasyiyah al Rosyidi Al Fathil jawad, hal : 44

قوله فقال هو طاهر : معتمد, وقوله تنجس ضعيف

32. الطهارة: Hukum Menelan Mani/Sperma

PERTANYAAN
Cikong Mesigit

السلام عليكم..
sblmnya mhn maaf mgkn krn aga fornografi.tp hkm itu jls jd hrs di jlskn jg.
Fertanyaan inbox dr slh seorg cewek: bgmn hkm menelan air mani??? Sy ndak bs mnjwb jd dilemfar kesini.lanjud....fencerahan.


JAWABAN
Masaji Antoro
Waalaikumsalam wr wb

Khilaf, pendapat yang mashur TIDAK HALAL menelan mani

* (فرع)
هل يحل اكل المنى الطاهر فيه وجهان الصحيح المشهور أنه لا يحل لانه مستخبث قال الله تعالي (ويحرم عليهم الخبائث) والثانى يجوز وهو قول الشيخ أبي زيد المروزى لانه طاهر لا ضرر فيه

(CABANG)
"Bolehkah menelan mani yang suci? Ada 2 pendapat, dan yang benar dan masyhur bahwasanya itu tidak halal karena mustakhbats (menjijikkan) seperti Firman Allah SWT
"Dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk"(QS. 7:157).
sedang menurut AsSyaikh Abi Zaid alMarwazy menghukumi boleh karena mani adalah barang suci dan tidak ada DHOROR (bahaya) didalamnya"
(Al-Majmu' alaa Syarh Almuhadzzab II/556)

Neil Elmuna
At-TaQriirootus Sadiidah> sayyid hasan alkaaf > hal 128 >

hukmul maniyyi > fiihi tsalaatsatu aQwaal :
1. maniyyu jamii'il hayawaanaati Thoohirun illamaniyyal kalbi walkhinziiri wa far'i ahadihimaa.. wahuwa Qoulul imami an-Nawawiy.. wahuwal mu'tamadu..
2. maniyyul aadamiyyi Thoohirun wa maniyyu ghoirihi najisun .... wahuwa Qoulul imaami arRoofi'iy.
3. maniyyul aadamiyyi wa maniyyu kulli hayawaanin ma-kuulin Thoohirun ... wa maniyyu ghoiril ma-kuuli najisun.

Ta'riifu annajaasati lughotan : " kullu mustaQdzarin"
wa syar'an bil haddi : " kullumustaQdzarin yamna'u shihhatash Sholaati haitsu laa murokhkhisho".
Ta'riifuhuu bil 'addi < adat, menurut watak normal manusia> :" kullun min jamii'i maa yu'addu mustaQdzaron 'indal 'aadati.. wahiya
1. albaulu 2. alghooithu 3. addamu 4. alQoi-u 5. alwadiyu 6. almadziyyu 7. alkhomru 8.annabiidzu 9.kullu muskirin maa-i'in 10.alkalbu 11. alkhinziiru 12. far'u ahadi kalbi awil khinziiri 13. almaitatu 14. sya'ru almaitati 15. 'azhmu almaitati 16. labanu maa la yu-kalu lahmuhu 16. sya'ru ghoiril ma-kuuli idza infashola fii chaali chayatihi 17. almaa-u as-saa-ilu idzaa khoroja minal ma'iddati..

Dari semua uraian diatas dipastikan bahwa air mani manusia itu suci dan tidak termasuk dlm kategori najis baik menurut definisi syara' ataupun menurut perhitungan benda2 yang dinilai najis oleh ketentuan fiQh..

namun air mani itu dinilai dari dzatnya memang suci namun soal boleh "ditelan"< dikonsumsi> atau tidak? hmm?

dikutif dari: http://www.piss-ktb.com

31. الطهارة: Mimisen (Keluar Darah Dari Hidung) Saat Shalat

 PERTANYAAN

Ahmad Hanafi
Assalamu alaikum. Titipan p'tanyaan.
Sewaktu shalat mimisan (keluar darah dr hidung), batalkah shalatnya? Mhn brikut ktb rujukannya.


JAWABAN

1. Masaji Antoro

Waalaikumsalam wr wb
Ditafsil :
Bila darahnya sedikit, maka tidak membatalkan shalat. Apabila darah yang keluar banyak dan mengenai sebagian dari badan dan pakaiannya, maka wajib membatalkan shalatnya, meskipun shalat jumat.

فائدة : قال في التحفة : ولو رعف في الصلاة ولم يصبه إلا القليل لم يقطعها ، وإن كثر نزوله على منفصل عنه ، فإن كثر ما أصابه لزمه قطعها ولو جمعة ، وإن رعف قبلها واستمر فإن رجى انقطاعه والوقت متسع انتظره وإلا تحفظ كالسلس اهـ.

"Faidah: Mushannif (pengarang kitab) berkata dalam kitab Tuhfah: “Andai seseorang mimisan didalam shalat, dan darah yang keluar hanya sedikit, maka tidak membatalkan shalatnya. Apabila darah yang keluar banyak hingga mengenai bagian badan yang lain. Apabila darah yang mengenai bagian badan lain sangat banyak, maka seseorang yang sedang shalat itu harus membatalkan shalatnya meski dia sedang shalat jumat. Bila mimisan keluar sebelum shalat dan keluar terus, namun dimungkinkan mimisan berhenti dan waktu shalat masih cukup, maka dianjurkan untuk ditunggu hingga berhenti, apabila tidak mungkin ditunggu hingga berhenti, maka hidung disumpal saat shalat sebagaimana orang yang beser".
Bughyat al Musytarsyidin Halaman 53

2. A Nafik Halim
 ولو رعف في الصلاة لم تبطل و إن لوث بدنه مالم يكثر
بشرى الكريم 1/91
Keluar darah dari hidung/mimisan pada waktu shalat tidak membatalkan shalat sekalipun mengenai anggota badan. Dengan sarat darah yang keluar tidak banyak.
Busyral karim 1/91
tambahan : untuk ukuran banyak dan sedikitnya darah yg keluar di kembalikan pada 'Uruf

sumber: http://www.piss-ktb.com

30. الطهارة: Memasak Dengan Bahan Bakar Dari Barang Najis

PERTANYAAN :

Sulis Tyos
Assalamu'alaikum...saya mau nanya,.apa hukumnya memasak,merebus air dg menggunakan biogas yg mana bahan dasarnya dr kotoran binatang ternak atau manusia yg difermentasi menjadi uap gas,padahal bahan dasar tsb najis..monggo...


JAWABAN :

Masaji Antoro
Wa'alaikumsalam

Hukum asapnya bila memang itu terbuat dari kotoran, tetep najis. Hanya saja karena memasaknya tidak secara langsung maka tidak masalah, bahkan dalam kitab Bughyah andai lansungpun bisa suci hanya dengan membasuh dhohirnya meskipun rasa kotoran tersebut masih terasa pada makanannya

ومن المحكوم بنجاسته البخار الخارج من النجاسة المتصاعد عنها بواسطة نار ، إذ هو من أجزائها تفصله النار منها لقوتها لأنه رماد منتشر لكن يعفى عن قليله ، وشمل ذلك دخان الند المعجون بالخمر وإن جاز التبخر به لأن المتنجس هنا كالنجس ، وما لو انفصل دخان من لهب شمعة وقودها نجس أو من دخان خمر أغليت ولم يبق فيها شدة مطربة لنجاسة عينها ، أو من دخان حطب أوقد بعد تنجسه بنحو بول .

Tuhfah AlMuhtaaj I/247

================ ودخان انفصل من لهيب شمعة وقودها نجس

Hasyiyah jamal alaa almanhaj I/522

=================
مسألة : ي) : لحم عليه دم غير معفوّ عنه ذر عليه ملح فتشربها طهر بإزالة الدم ، وإن بقي طعم الملح كحب أو لحم طبخ ببول فيكفي غسل ظاهره ، وإن بقي طعم البول بباطنه إذ تشرب ما ذكر كتشرب المسام ، كما في التحفة

Bughyah I/34

http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/351574298198718/

29. الطهارة: Apakah Keputihan Membatalkan Sholat

PERTANYAAN :

Thiyah RizQie
Bagaimana hukumnya apabila seorang wanita sedang keputihan, waktu ia berwudu keputihannya tdk kluar. Tapi ketika sholat baru dapat 1 atau 2 rokaat keputihannya kluar sdikit.
Itu sholatnya batal tidak ya ???Di hentikan wudu lagi atau dilanjutkan ???


JAWABAN :

Nur Hasyim S. Anam
Da’imul hadats yang hendak salat fardlu, wudlunya wajib dilaksanakan setelah masuknya waktu salat. Setiap akan bersesuci (wudlu/tayamum), wajib membersihkan kemaluannya dengan air atau istinja’ dengan benda padat dsb. Lalu menyumbat lubang kemaluannya dengan sejenis kapas yang suci.Bila setelah disumbat hadasnya (darah/kencing) masih merembes keluar, ia wajib memakai pembalut dan bercelana dalam yang kuat.Untuk pria hal ini dilakukan dengan cara membalut kepala penis lalu mengikatnya.

Semua ini dilakukan bila memang;
1. Tidak membahayakan diri; misalnya menimbulkan rasa sakit atau panas dengan terhentinya aliran darah. Bila hal itu dirasa membahayakan / menyakitkan, maka boleh tidak melakukan penyumbatan atau pembalutan.
2. Tidak berpuasa. Bagi mereka yang berpuasa tidak boleh melakukan penyumbatan. Sebab bisa membatalkan puasa.

Jika setelah disumbat atau memakai pembalut hadasnya masih merembes keluar karena darah/kencingnya sangat kuat –bukan karena kurang kuat dalam membalut-, tidak menjadi masalah. Artinya salatnya sah, karena wudlunya tidak batal. Berbeda halnya jika hadas tersebut merembes karena kurang kuat dalam membalut.

Ketika menyumbat tidak boleh ada bagian kain/kapas penyumbat yang keluar, atau berada pada vagina/penis bagian luar. Meskipun sedikit. Sebab bila ada penyumbat yang keluar ke vagina/penis luar –walaupun hanya sehelai benang-, maka salatnya tidak sah. Sebab dianggap membawa barang najis. Yang dimaksud vagina bagian luar adalah daerah yang tampak ketika sedang jongkok buang air.

Semua hal di atas (membasuh kelamin, menyumbat sampai dengan salat) harus dilaksanakan setelah masuknya waktu dan tidak boleh lamban. Bila setelah wudlu, ia tidak langsung salat, maka wudlunya batal. Kecuali jika kelambanannya tersebut untuk kemaslahatan salat, semisal untuk menutup aurat, menunggu adzan /iqamah, mencari arah qiblat atau menunggu jamaah.

Perlu diketahui bahwa, wudlu bagi orang yang selalu berhadas (termasuk mustahadhah) hukumnya sama dengan orang bertayammum. Dalam artian, niat wudlunya sama dengan niat tayammum. Tidak boleh niat wudlu sebagaimana biasa.
Contoh niat wudlu bagi mustahadhah adalah;
a) niat wudlu agar diperbolehkan salat Ashar,
b) niat wudlu agar diperbolehkan membaca al-Qur’an, atau lainnya.
Satu kali wudlu yang diniatkan untuk salat fardlu hanya dapat dipakai untuk satu kali salat fardlu dan beberapa salat atau ibadah sunnat, sampai dengan keluarnya waktu salat. Jadi misalkan wudlunya untuk salat Zuhur, maka setelah melakukan salat Zuhur ia boleh melaksanakan ibadah-ibadah sunnah yang lain –tanpa mengulangi wudlunya– sampai keluarnya waktu Zuhur. Setelah itu wudlunya dianggap batal.

Da’imul hadats yang setelah wudlu hadasnya (darah/kencing) berhenti cukup lama (cukup untuk salat dan wudlu), maka wudlunya batal. Demikian juga sebaliknya, wudlu yang dilaksanakan saat darahnya berhenti (lama) tersebut batal dengan keluarnya darah.Mustahadhah yang memiliki kebiasaan kadang-kadang darahnya bersih (yang lama) dan kadang-kadang keluar, wajib melaksanakan salat dan wudlu pada saat masa bersih. Kecuali bila khawatir kehabisan waktu salat. Maka wajib wudlu dan salat pada saat darahnya mengalir, tanpa menunggu masa bersih.Mustahadhah yang jika melaksanakan shalat berdiri darahnya lebih deras daripada saat duduk, maka harus shalat dengan duduk.

Wallahu A’lam.


http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/335696603119821/

28. الطهارة: Jika Imam Ingat Punya Hadats atau Najis Setelah Shalat


Aldy Maula

Peratanyaan:
Bgmn jika seorang imam ketika di akhir sholat ingat klo dirinya py hadast atau najis,...
Apkh harus menyampaikan pd ma,mum,..?
Apakh si imam n ma,mum hrs mengulang sholatnya,...?
Tor nowon....


JAWABAN
Masaji Antoro
  Jika najis yang dibawa oleh imam itu tampak jelas sekira makmum memperhatikannya, najis tersebut dapat terlihat, maka imam wajib memberitahu dan makmum wajib mengulang shalat, namun menurut pendapat Imam Nawawi tidak wajib i’adah (mengulangi sholat).

Jika najis tersebut samar, maka :

~ Bila makmumnya bukan masbuq, imam tidak wajib memberitahu dan makmum tersebut tidak pula wajib i’adah, baik diberitahu ataupun tidak, dan;

~ Bila masbuq (makmum yang tidak cukup waktu untuk membaca Fatihah di saat berdirinya imam), imam wajib memberitahu dan si masbuq manakala belum salam atau sesudah salam tetapi masih dalam tempo yang pendek, maka ia harus menambah satu rekaat dan sujud sahwi dan manakala dalam tempo yang lama, maka ia harus i’adah.

Dalam semua kasus tersebut sudah barang tentu imam wajib i’adah.

(فَائِدَةٌ) يَجِبُ عَلَى اْلإِمَامِ إِذَا كَانَتِ النَّجَاسَةُ ظَاهِرَةً إِخْبَارُ الْمَأْمُوْمِ بِذَلِكَ لِيُعِيْدَ صَلاَتَهُ أَخْذًا مِنْ قَوْلِهِمْ: لَوْ رَأَى عَلَى ثَوْبِ مُصَلٍّ نَجَاسَةً وَجَبَ إِخْبَارُهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ آثِمًا اهاع ش عَلَى م ر [بجيرمي على المنهج

1/310]

“(Faedah). Wajib bagi imam yang membawa najis tampak jelas, memberitahu makmum perihal tersebut agar mengu-lang shalatnya, berdasarkan perkataan ulama, andaikan seseorang melihat najis pada baju seseorang yang sedang shalat maka ia wajib memberitahunya meskipun tidak ber-dosa”. (Bujairami ‘ala al-Manhaj 1/310).
وَصَحَّحَ النَّوَوِيُّ فِي التَّحْقِيْقِ عَدَمَ وُجُوْبِ اْلإِعَادَةِ مُطْلَقًا. (قَوْلُهُ مُطْلَقًا) سَوَاءٌ كَانَ الْخَبَثُ الَّذِيْ تَبَيَّنَ فِي اْلإِمَامِ ظَاهِرًا أَوْ خَفِيًّا

[إعانة الطالبين 2/46]

“Al-Nawawi di dalam kitab Al-Tahqiq membenarkan bahwa makmum tidak wajib mengulang shalat secara mutlak. Kata ‘mutlak‘ baik najis yang dibawa imam itu tampak jelas ataupun samar “. (I’anah al-Thalibin II/46).

وَلَوْ تَذَكَّرَ اْلإِمَامُ بَعْدَ صَلاَتِهِ أَنَّهُ كَانَ مُحْدِثًا أَوْ ذَا نَجَاسَةٍ خَفِيَّةٍ وَعَلِمَ أَنَّ بَعْضَ الْمَسْبُوْقِيْنَ رَكَعَ مَعَهُ قَبْلَ أَنْ يُتِمَّ الْفَاتِحَةَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُعْلِمَهُ بِحَالِهِ لِيُعِيْدَ صَلاَتَهُ إِنْ كَانَ قَدْ سَلَّمَ وَطَالَ الْفَصْلُ وَإِلاَّ يَأْتِيْ بِرَكْعَةٍ فَقَطْ وَيَسْجُدُ لِلسَّهْوِ [تنوير القلوب

156 –157]

“Andaikata usai shalat imam ingat bahwa dirinya sedang hadats atau membawa najis yang samar dan ia mengetahui bahwa sebagian makmum masbuq mengikuti rukuknya sebelum sempat menyempurnakan fatihah, maka ia wajib memberitahu perihal keadaan dirinya agar makmum tersebut mengulang shalat bila sudah salam dan dalam tempo yang lama. Bila belum/barusan salam maka menambah satu rekaat dan sujud sahwi.” (Tanwir al-Qulub 156-157).

لاَ إِنْ بَانَ ذَا حَدَثٍ وَلَوْ حَدَثًا أَكْبَرَ وَذَا نَجَاسَةٍ خَفِيَّةٍ فِيْ ثَوْبِهِ أَوْ بَدَنِهِ فَلاَ تَجِبُ اْلإِعَادَةُ عَلَى الْمُقْتَدِيْ لانْتِفَاءِ التَّقْصِيْرِ
مِنْهُ فِىْ ذَالِكَ [فتح الوهاب

1/63]

“Tidak wajib i’adah jika imamnya sedang berhadats sekalipun hadats besar dan membawa najis yang samar di pakaian atau badan, maka tidak wajib mengulang shalat bagi makmum karena tidak adanya kesalahan dari makmum dalam hal tersebut.” (Fath al-Wahhab I/63).

وَلَوْ صَلَّى بِنَجْسٍ غَيْرِ مَعْفُوٍّ عَنْهُ لَمْ يَعْلَمْهُ أَوْ عَلِمَهُ ثُمَّ نَسِيَ فَصَلَّى ثُمَّ تَذَكَّرَ وَجَبَتِ اْلإِعَادَةُ فِي الْوَقْتِ أَوْ بَعْدَهُ لِتَفْرِيْطِهِ بِتَرْكِ التَّطْهِيْرِ وَتَجِبُ إِعَادَةُ كُلِّ صَلاَةٍ تَيَقَّنَ فِعْلَهَا مَعَ النَّجْسِ، بِخِلاَفِ مَا إِذَا احْتَمَلَ حُدُوْثُهُ بَعْدَهَا فَلاَ تَجِبُ إِعَادَتُهَا، لَكِنْ تُسَنُّ كَمَا قَالَهُ فِي الْمَجْمُوْعِ [فتح الوهاب 1/50].

“Andaikan seseorang shalat tidak tahu bahwa dirinya mem-bawa najis yang tidak dimakfu, atau sebelumnya ia tahu kemudian lupa lalu shalat, kemudian ingat kembali maka wajib mengulang shalat ketika ingat atau sesudahnya, karena kesalahannya dengan meninggalkan bersuci. Begitu juga wajib mengulang tiap-tiap shalat yang ia yakini mengerjakannya dalam keadaan najis, berbeda jika najis tersebut dimungkinkan adanya setelah shalat maka tidak wajib mengulang, namun disunatkan sebagaimana keterangan di Al-Majmu’.” (Fath al-Wahhab I/50).

27. الطهارة: Cara Berwudhu Orang Yang Buntung Tangannya

PERTANYAAN :

Nadia Zulfa
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Para asatid, asatidzah dan Masykhih...orang baru gabung di grup ini mau tanya. bagaimana wudlu'nya orang tangan buntung sampai siku-siku, apakah masih wajib dibasuh lengan atau tidak ?
terimakasih kepada semuanya atas pencerahan


JAWABAN :

Masaji Antoro
Wa'alaikumsalam wr wb

• Bila terpotong di bawah siku, wajib membasuh sisa lengan yang ada
• Bila terpotong tepat disikunya menurut pendapat yang paling shahih dan mashur wajib membasuh tulang sikunya yang masih ada
• Bila terpotong diatas siku, sunnah membasuh lengan diatas sikunya

( فَإِنْ قَطَعَ بَعْضَهُ ) أَيْ بَعْضَ مَا يَجِبُ غَسْلُهُ ( وَجَبَ ) غَسْلُ ( مَا بَقِيَ ) لِخَبَرِ { إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ } وَلِأَنَّ الْمَيْسُورَ لَا يَسْقُطُ بِالْمَعْسُورِ ( أَوْ ) قَطَعَ ( مِنْ مِرْفَقِهِ ) بِأَنْ سَلَّ عَظْمَ ذِرَاعِهِ وَبَقِيَ الْعَظْمَانِ الْمُسَمَّيَانِ بِرَأْسِ الْعَضُدِ ( فَرَأْسٌ ) أَيْ فَيَجِبُ غَسْلُ رَأْسِ ( عَظْمِ الْعَضُدِ عَلَى الْمَشْهُورِ ) لِكَوْنِهِ مِنْ الْمِرْفَقِ تَفْرِيعًا عَلَى أَنَّهُ اسْمٌ لِمَجْمُوعِ الْعَظْمَيْنِ وَالْإِبْرَةِ وَهُوَ الْأَصَحُّ ، وَالثَّانِي فَرْعُهُ عَلَى أَنَّهُ طَرَفُ عَظْمِ السَّاعِدِ فَقَطْ وَوُجُوبُ غَسْلِ رَأْسِ الْعَضُدِ بِالتَّبَعِيَّةِ ( أَوْ فَوْقَهُ ) أَيْ قَطَعَ مِنْ فَوْقِ مِرْفَقِهِ ( نُدِبَ ) غَسْلُ ( بَاقِي عَضُدِهِ ) كَمَا لَوْ كَانَ سَلِيمَ الْيَدِ لِئَلَّا يَخْلُوَ الْعُضْوُ عَنْ طَهَارَةٍ

“Bila terpotong sebagian tangan yang wajib ia basuh maka wajib membasuh yang tersisa dari yang terpotong tersebut berdasarkan hadits : “Bila aku perintahkan pada kalian satu perkara, maka laksanakan sebatas kemampuan kalian” dan karena kelapangan tidak semata dapat gugur sebab kesempitan.

Atau terpotong hingga kedua sikunya dan yang tersisa hanya kedua tulang disikunya maka ia wajib membasuh tulang sikunya menurut pendapat yang mashur karena ia bagian dari siku dengan pertimbangan bahwa kedua tangan adalah anggauta keseluruhan dari kedua tulang siku beserta lengannya dan ini adalah pendapat yang paling shahih.

Atau terpotong diatas tulang sikunya maka sunah membasuh sisa lengan atasnya sebagaimana orang yang kedua tangannya sempurna agar tidak terdapati anggota tubuhnya yang tidak ia sucikan”.
Hasyiyah as-Syibro Malisy Nihayah al-Muhtaaj I/51
Wallahu A'lam Bis showaab

Link Diskusi >>
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/367327556623392/

26. الطهارة: Najis Keputihan Dan Tata Cara Sholat Wanita Yang Keputihan

PERTANYAAN :

Elbey Magebay
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
 Kami ingin menanyakan, Apakah darah keputihan termasuk رطوبة الفرج, sehingga di–hukumi Najis? Terima kasih atas Jawabannya


JAWABAN :

>> Masaji Antoro
Wa'alaikumsalam

Shalat Wanita Yang Keputihan
Hasil Bahts Masail LBM NU Mojokerto

Permasalahan:
Cairan putih yang keluar dari kemaluan seorang wanita, akibat penyakit keputihan apakah termasuk haid? Najis ataukah tidak? Dan bagaimana caranya shalat bagi wanita tersebut?

Jawaban:

Tidak termasuk haid. Cairan putih sebab keputihan hukumnya najis, karena keluar dari dalam farji. Untuk masalah shalat bagi wanita yang menderita keputihan, apabila cairan itu keluar terus menerus seperti orang beser, maka berlaku hukum seperti orang yang beser.

Cara yang harus dilakukan adalah dengan mensucikan kemaluan/farji, setelah itu disumbat dengan pembalut atau kapas. Barulah kemudian berwudlu dengan menyegerakan shalat. Penderita keputihan dan orang yang beser tidak boleh menunda-nunda shalat setelah berwudlu, kecuali untuk kemaslahatan shalat seperti menjawab adzan atau menunggu jamaah.
Dasar Pengambilan

Hasyiyah Jamal II hal. 149

( قَوْلُهُ وَرُطُوبَةٍ فَرْجٍ ) هِيَ مَاءٌ أَبْيَضُ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْعَرَقِ وَمَحِلُّ ذَلِكَ إذَا خَرَجَتْ مِنْ مَحَلٍّ يَجِبُ غَسْلُهُ ، فَإِنْ خَرَجَتْ مِنْ مَحِلٍّ لَا يَجِبُ غَسْلُهُ فَهِيَ نَجِسَةٌ ؛ لِأَنَّهَا رُطُوبَةٌ جَوْفِيَّةٌ وَهِيَ إذَا خَرَجَتْ إلَى الظَّاهِرِ يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا وَإِذَا لَاقَاهَا شَيْءٌ مِنْ الطَّاهِرِ تَنَجَّسَ

(pernyataan cairan dalam kemaluan) yaitu cairan putih yang ambigu antara madzi dan keringat. Titik tekan masalah ini, yaitu ketika cairan itu keluar dari tempatnya yang wajib membersihkannya. Apabila cairan itu keluar dari tempat yang tidak wajib dibersihkan maka dihukumi najis, karena hal itu merupakan cairan dari dalam. Apabila cairan itu keluar dari anggota dzahir, maka dihukumi najis. Apabila sesuatu yang suci bersentuhan dengannya maka menjadi mutanajis.

Minhaj al Tullab I hal 26

والاستحاضة كسلس فلا تمنع ما يمنعه الحيض فيجب أن تغسل مستحاضة فرجها فتحشوه فتعصبه بشرطهما فتطهر لكل فرض وقته وتبادر به ولا يضر تأخيرها لمصلحة كستر وانتظار جماعة

Istihadzah (darah penyakit) itu seperti orang yang beser, maka orang yang istihadzah tidak tercegah melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang haid. Maka wajib bagi seorang yang istihadzah untuk mensucikan farjinya, menyumpal dan membalutnya sesuai dengan syarat-syaratnya, kemudian berwudlu. Hal ini wajib dilakukan setiap akan menjalankan shalat fardlu dan bersegera menjalankannya. Mengakhirkan shalat (setelah wudlu) diperboleh bila untuk kemaslahatan seperti menutup aurat atau menunggu jamaah.

http://solusinahdliyin.net/daerah/lbm-kab-mojokerto/290-shalat-wanita-yang-keputihan.html

Link Diskusi >>
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/369184329771048/

25. الطهارة: Berwudhu Dengan Salju Atau Es

PERTANYAAN :

Muhamad Yakoet
Pak Yai or gus2 mau nanya Bagaimana kaifiyah berwuduh dengan menggunakan salju atau Es ? Monggo


JAWABAN :

>>Yupiter Jet

‎(قوله: فلا يكفي أن يمسه الماء) قال في العباب: ومن ثم لم يجز الغسل بالثلج والبرد إلا إن ذابا وجريا على العضو
i'anah 1/45syarah Sullam At-taufiq hal 24

tidak boleh (tidak sah) membasuh (anggota wudlu) dengan salju dan embun kecuali setelah hancur (mencair), dan bisa mengalir ke anggota tubuh.

Link Diskusi >>
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/370503272972487/

24. الطهارة: Sucikah Pakaian Yang Dicuci Dengan Mesin Cuci

 PERTANYAAN :

Kiki Zaila
Ustadz wa ustadzah mau tanya... Sucikah pakaian yg d cuci d mesin cuci..?? Trimakasih banyak Sebel0mnya.


JAWABAN :

Masaji Antoro
Syarat air sedikit bisa mensucikan najis bila airnya yang mendatangi najis (menurut pendapat yang paling shahih), dalam praktek mencuci pakaian di mesin cuci bila air yang terdapat pada mesin cuci tersebut kurang dua Qullah berarti TIDAK CUKUP karena najisnya mendatangi air kecuali bila keadaan pakaian sebelum di masukkan ke mesin cuci tersebut sudah dalam keadaan suci.

Namun menurut pendapat lain (Imam Suraij) asal dalam mencelupkan najis pada air sedikit tersebut ada tujuan menghilangkan najis, meskipun airnya sedikit tetap suci.

( ويشترط ورود الماء ) على المحل إن كان قليلا في الأصح لئلا يتنجس الماء لو عكس لما علم مما سلف أنه ينجس بمجرد وقوع النجاسة فيه
والثاني وهو قول ابن سريج لا يشترط لأنه إذا قصد بالغمس في الماء القليل إزالة النجاسة طهر كما لو كان الماء واردا بخلاف ما إذا ألقته الريح

Menurut pendapat yang paling shahih (benar) saat air kurang dua Qullah disyaratkan air yang mendatangi najisnya, agar air tidak menjadi najis bila di balik (barang mendatangi najisnya) sebab hanya dengan kejatuhan najis air sedikit/kurang dua Qullah bisa langsung najis, menurut pendapat yang kedua, pendapatnya Imam Suraij "Hal tersebut tidak disyaratkan, karena bila tujuan saat mencelupkan najis pada air sedikit tersebut menghilangkan najis maka dihkumi suci sebagaimana bila air yang mendatangi najis berbeda bila masuknya najis pada air tanpa ada tujuan seperti saat dijatuhkan angin"

Mughni Al-Muhtaaj I/86

Wallaahu A'lamu Bis Showaab...
 ================================

Hadlro Maut
bolehkah saya menambahkan...?

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ : مَا لَمْ يَتَمَيَّزْ نَجَاسَتُهُ : لِامْتِزَاجِهِ وَاخْتُلِفَ فِي إِمْكَانِ إِزَالَتِهَا مِنْهُ ، وَهُوَ الزَّيْتُ النَّجِسُ ، وَمَا جَرَى مَجْرَاهُ مِنَ الْأَدْهَانِ ، دُونَ السَّمْنِ .
فَفِي إِمْكَانِ غَسْلِهِ وَطَهَارَتِهِ وَجْهَانِ : أَحَدُهُمَا : وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ سُرَيْجٍ وَابْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ يُمْكِنُ غَسْلُهُ ، وَيَطْهُرُ بِأَنْ يُرَاقَ عَلَيْهِ الْمَاءُ فِي إِنَاءٍ ، وَيُمْخَضُ فِيهِ مَخْضًا ، يَصِيرُ بِهِ مَغْسُولًا ، كَالثَّوْبِ : لِأَنَّ الدُّهْنَ يَتَمَيَّزُ عَنِ الْمَاءِ وَيَعْلُو عَلَيْهِ ، كَمَا يَتَمَيَّزُ الثَّوْبُ ، ثُمَّ يُؤْخَذُ ، فَيَكُونُ طَاهِرًا .
Alhaawy alkabiir

Intinya…
Sedang membahas cara mensucikan minyak mutanajjis, abu al’abbas bin suaraij dan ibnu abi hurairoh memberikan solusi dengan cara: tuangkan air ke dalam wadah yg telah beisi minyak lalu gerak-gerak/kocok/putar, maka setelah itu dihukumi suci sebagaimana halnya (mencuci) baju, kemudian ambil dan selesailah.

ولو صب الماء في اناء نجس ولم يتغير بالنجاسة فهو طهور فإذا اداره على جوابنه طهرت الجوانب كلها هذا كله قبل الانفصال قال فلو انفصل الماء متغيرا وقد زالت النجاسة عن المحل فالماء نجس وفى المحل وجهان احدهما أنه طاهر لانتقال النجاسة الي الماء

Intinya… bila air dituangkan ke dalam wadah yang najis dan tidak berubah maka air itu masih muthlaq, dan bila di-idaroh- (diputarkan) ke sekelilingnya, maka keliling wadah itu menjadi suci selama tidak berubah.

Almajmu’

وَمُقَابِلُهُ فِي الْأَوْلَى قَوْلُ ابْنُ سُرَيْجٍ فِي الْمَاءِ الْقَلِيلِ إذَا أُورِدَ عَلَيْهِ الْمَحَلُّ النَّجِسُ لِيُطَهِّرَهُ كَالثَّوْبِ يُغْمَسُ فِي إجَّانَةِ مَاءٍ ، كَذَلِكَ أَنَّهُ يُطَهِّرُهُ كَمَا لَوْ كَانَ وَارِدً
Qolyuby wa ‘umairoh

Intinya…
Wa muqoobiluhuu (al ashohh) ada qoul ibnu suraij yg menerangkan bahwa air sedikit dalam bejana apa bila didatangi barang yg najis seperti baju lantas di benamkan, maka dihukumi suci. Disini tidak disebutkan apakah berubah atau tidak.
Dan saya lebih cenderung apabila air itu tidak berubah.

mudah-mudahan relefan...
http://www.facebook.com/groups/warposan/permalink/205731746131752/

23. الطهارة: Kondisi Yang Memperbolehkan Membawa Dan Memegang AlQur'an Tanpa Wudhu

KONDISI YANG MEMBOLEHKAN MEMEGANG DAN MEMBAWA ALQURAN TANPA WUDHU
الشافعية قالوا : يجوز مس المصحف وحمله كلا أو بعضا بشروط : أحدها : أن يحمله حرزا ثانيها : أن يكون مكتوبا على درهم أو جنيه ثالثها : أن يكون بعض القرآن مكتوبا في كتب العلم للاستشهاد به ولا فرق في ذلك بين أن تكون الآيات المكتوبة قليلة : أو كثيرة أما كتب التفسير . فإنه يجوز مسها بغير وضوء بشرط أن يكون التفسير أكثر من القرآن فإن كان القرآن أكثر فإنه لا يحل مسها . رابعها : أن تكون الآيات القرآنية مكتوبة على الثياب كالثياب التي تطرز بها كسوة الكعبة ونحوها خامسها : أن يمسه ليتعلم فيه . فيجوز لوليه أن يمكنه من مسه 
وحمله للتعلم . ولو كان حافظا له عن ظهر غيب . فإن تخلف شرط من هذه الشروط فإنه يرحم مس القرآن . ولو آية واحدة
*************************************
Kalangan Syafiiyyah berpendapat bolehnya memegang dan membawa alQuran meski tanpa memakai wudhu bila memenuhi persyaratan berikut ini ;
• Membawanya dalam sesuatu yang dapat menjaga Quran (dalam tas, koper dll. dengan ketentuan tidak niat membawa Quran secara langsung
• Tertulis pada mata uang baik Dinar atau dirham
• Tertulis untuk dalil penguat yang terdapat pada kitab-kitab ilmu pengetahuan baik ayat yang tertulis sedikit ataupun banyak.
Sedang mengenai memegang dan membawa Tafsir Quran ditinjau dari banyak dan sedikitnya tafsir Qurannya, bila uraian tafsirnya lebih banyak ketimbang alqurannya boleh dipegang dan dibawa, bila lebih sedikit tidak boleh.
• Tertulis pada pakaian yang disulam seperti pada kelambu ka’bah
• Memegang dan membawanya untuk belajar
Maka diperkenankan bagi seorang wali memberi kesempatan pada anaknya memegang dan membawa alQuran meskipun anaknya sudah menghafalnya.
Bila salah satu ketentuan ini tidak terpenuhi maka tidak diperkenankan memegang dan membawa alQuran tanpa memakai wudhu meskipun hanya satu ayat dan dengan penghalang (tidak memegangnya secara langsung).
alFiqh ‘alaa Madzaahib al-Arba’ah I/48 —

22. الطهارة: Alasan Dibalik Batalnya Menyentuh Kemaluan Dengan Telapak Tangan

PERTANYAAN :

Alvin Hadi
Assalamu alaikum....
diantara batalnya wudhu' menyentuh dzakar dengan kulit tangan dalam/badhni yad.

pertanyaan.. kenapa kalau menyentuh dg kulit tangan atas/dhohril yad.,G batal...?

JAWABAN :

>> Awan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy
krena tlapak tangan mrupakan tmpat mrasakan enak ktk brsentuhan dan bs menimbulkan syahwat. nihayatuz zain 26.

>> Masaji Antoro
Wa'alaikumsalam
1. Berdasarkan hadits riwayat Ibn Hibbaan
2. Karena kelezatan menyentuh hanya dapat dihasilkan dengan perut telapak tangan (seperti uraian teman-teman diatas)

وَلِخَبَرِ ابْنِ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ { إذَا أَفْضَى أَحَدُكُمْ بِيَدِهِ إلَى فَرْجِهِ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا سِتْرٌ وَلَا حِجَابٌ فَلْيَتَوَضَّأْ }.....لِأَنَّ التَّلَذُّذَ إنَّمَا يَكُونُ بِهِ وَلِخَبَرِ الْإِفْضَاءِ بِالْيَدِ السَّابِقِ إذْ الْإِفْضَاءُ بِهَا لُغَةً الْمَسُّ بِبَطْنِ الْكَفِّ فَيَتَقَيَّدُ بِهِ إطْلَاقُ الْمَسِّ فِي بَقِيَّةِ الْأَخْبَارِ

Karena berdasarkan hadits “Bila salah seorang diantara kalian menyentuh kemaluannya dengan perut telapak tangannya dan tidak terdapat penghalang diantara keduanya, maka berwudhulah” (HR. Ibn Hibbaan)Dan karena kelezatan menyentuh hanya dapat dihasilkan dengan perut telapak tangan.
Hasyiyah al-Jamal I/234
Wallaahu A'lamu Bis showaab.

Link Diskusi >>
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/368568959832585/

21. الطهارة: Berjimak Setelah Berhenti Haid Namun Belum Mandi

PERTANYAAN :

Bagoes Setiawan
Apakah wanita yg telah berenti haidnya tapi belum mandi boleh dijimak swaminya ??

JAWABAN :

>> Masaji Antoro
HARAM, HINGGA ISTRI TERLEBIH DAHULU MELAKSANAKAN MANDI MESKIPUN DARAH HAIDNYA TELAH USAI

وتستمر حرمة الوطء والاستمتاع بما بين السرة والركبة عند المالكية والشافعية حتى تغتسل، أي تطهر بالماء لا بالتيمم، إلا في حال فقد الماء أوالعجز عن استعماله، فيباح الوطء بالتيمم. واستدلوا بقوله تعالى: {فاعتزلوا النساء في المحيض، ولا تقربوهن حتى يطهرن، فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله} [البقرة:222/2] فالله تعالى شرط لحل الوطء شرطين: انقطاع الدم، والغسل، الأول من قوله تعالى: {حتى يطهرن} [البقرة:222/2] أي ينقطع دمهن، والثاني: من قوله عز وجل: {فإذا تطهرْن} أي اغتسلن بالماء {فأتوهن} [البقرة:222/2] فتصير إباحة وطئها موقوفة على الغسل. وهذا هو رأي الحنابلة أيضاً في حرمة الوطء (الجماع).

Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat “Dan keharaman menyetubuhi dan mencumbui anggauta tubuh antara pusat dan lutut istri terus berlangsung hingga ia menjalani mandi bukan menjalani tayammum terkecuali saat tidak ada air atau tidak dapat menggunakan air karena suatu sebab yang memperbolehkan baginya tayammum maka boleh menyetubuhinya dengan menjalani tayammum,berdasarkan firman Allah :

“Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci” (QS. 2.222)

Dalam ayat diatas Allah menghalalkan kehalalan menyenggamai istri dengan dua syarat :
• Terputusnya darah haid
• MandiDengan demikian kebolehan menggaulinya ditangguhkan hingga istri melaksanakan mandi.
Al-Fiqh al-Islaam I/553

Demikian pendapat dalam 3 madzhab besar (Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah), Namun dalam kitab fath al-mui'in terdapat keterangan bahwa Imam Jalaluddin as-Suyuthy menghalalkan jima setelah berhentinya haid meskipun belum mandi.

وقال في فتح المعين أعلى الصفحة من اعانة الطالبين 1/85 ما نصه ويحرم به (أي بالحيض) ما يحرم بالجنابة ... واذا انقطع دمها حل لها قبل الغسل صوم لا وطء حلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي رحمه الله وقال في اعانة الطالبين 1/85 قوله (خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوطي) أي من حل الوطء أيضا بالانقطاع اهـ

Dalam kitab fathul muin dijelaskan: Dan haram sebab haid semua yang diharamkan sebab junub.... dan ketika darahnya sudah bersih maka halal baginya sebelum mandi untuk berpuasa tidak halal jima. Haramnya jima ini berbeda dengan pendapat imam Jalaluddin As-Suyuthi.
I'aanah at-Thaalibiin I/85
_________________________
وإذا طهرت من الحيض وتم الإستبراء بقي تحريم الوطء حتى تغتسل ويحل الإستمتاع قبل الغسل على الصحيح.

Dan bila ia telah suci dari haidnya, sempurna istibra’nya maka masih tetap hukum keharaman menggaulinya hingga ia melaksanakan mandi. Dan halal mencumbuinya (bukan setubuh, sekedar frenc kiss misalnya) sebelum ia mandi menurut pendapat yang shahih.
Raudhah at-Thoolibiin III/263

( فَائِدَةٌ ) الْوَطْءُ قَبْلَ الْغُسْلِ فِي الْحَيْضِ أَوْ بَعْدَهُ يُورِثُ الْجُذَامَ فِي الْوَلَدِ كَمَا قِيلَ ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

FAEDAH,
menyetubuhi istri sebelum ia mandi saat haid atau setelah usai haid menyebabkan penyakit lepra pada anak seperti dikatakan oleh sebuah pendapat,
Wallaahu A’lam
Hasyiyah al-Qalyubi II/52

>> Sholeh Punya
Jawabanya ada dua : boleh dan tidak

الكتاب : شرح صحيح البخارى المؤلف : أبو الحسن علي بن خلف بن عبد الملك بن بطال البكري القرطبيكِتَاب الْحَيْض قَالَ اللَّه تَعَالَى : ( يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى ( إِلَى : ( الْمُتَطَهِّرِينَ ) [ البقرة : 222 ] . اختلف العلماء فى تأويل هذه الآية ، فقالت طائفة : لا يجوز وطء الحائض ، وإن انقطع دمها حتى تغتسل بالماء ، روى هذا عن الحسن ، والنخعى ، ومكحول ، وسليمان بن يسار ، وعكرمة ، ومجاهد ، وهو قول مالك ، والليث ، والثورى ، والشافعى ، وأحمد ، وإسحاق ، وأبى ثور .

واختلف العلماء فى الحائض هل يجوز وطؤها إذا انقطع دمها قبل أن تغتسل أم لا ؟ فقال مالك ، والليث ، والثورى ، والشافعى ، وأحمد ، وإسحاق ، وأبو ثور : لا توطأ حتى تغتسل بالماء ، وهو قول الشعبى ، ومجاهد ، والحسن ، ومكحول ، وسليمان بن يسار ، وعكرمة . وقال أبو حنيفة وأصحابه : إن انقطع دمها بعد عشرة أيام ، الذى هو عنده أكثر الحيض ، جاز له أن يطأها قبل الغسل ، وإن انقطع دمها قبل العشرة لم يجز حتى تغتسل أو يمر عليها وقت صلاة ، لأن الصلاة تجب عنده آخر الوقت ، فإذا مضى عليها آخر الوقت ووجبت عليها الصلاة ، علم أن الحيض قد زال ، لأن الحائض لا يجب عليها صلاة . وقال الأوزاعى : إن غسلت فرجها جاز لزوجها وطؤها ، وإن لم تغسله لم يجز ، وبه قالت طائفة من أصحاب الحديث ، وروى مثله عن عطاء ، وطاوس ، وقتادة .

واحنج أهل هذه المقالة بقوله : ( حتى يطهرن ) [ البقرة : 222 ] أى حتى ينقطع دمهن ، فجعل تعالى غاية منع قربها انقطاع دمها ، والدليل على ذلك أن الصوم قد حل لها بانقطاع دمها ، فوجب أن يحل وطؤها قبل الغسل ، كالجنب يجوز مجامعتها قبل الغسل ، قالوا : ولا يخلو بعد انقطاع الدم وقبل الغسل أن تكون طاهرًا أو حائضًا ، فإن كانت حائضًا فالغسل ساقط عنها ، وفى اتفاقهم أن الغسل عليها واجب بانقطاع الدم دليل أنها قد طهرت من حيضتها ، والطاهر جائز وطؤها ، وقوله تعالى : ( فإذا تطهرن ) [ البقرة : 222 ] إباحة ثانية ، وابتداء كلام غير الأول ، لأن الطهر شىء والتطهير غيره ، مثال ذلك ، لو أن رجلا صائمًا قال لرجل : لا تكلمنى حتى أفطر ، فإذا صليت المغرب كلمنى ، وإنما وقع التحريج فى المخاطبة فى وقت الصوم ، لأن غاية التحريج كانت إلى الإفطار ، ثم إباحة أن يكلمه بعد وجوب الإفطار وبعد أن يصلى المغربن كما أبيح وطء الحائض بعد الطهر ، وبعد التطهير تأكيدًا للتحليل ، غير أن قوله : ( يحب التوابين ويحب المتطهرين ) [ البقرة : 222 ] دلالة أن الذى يأتى زوجته بعد أن تنتظف بالماء أحمد عند الله ، كمن توضأ ثلاثًا ثلاثًا كان أحمد ممن توضأ مرة مرة .

ibarot tambahan tentang bolehnya jima' setelah ingkitho..

.الجامع لأحكام القرآن - (ج 3 / ص 90)والحائض لا يجوز وطؤها اتفاقا. وأيضا فإن ما قالوه يقتضي إباحة الوطء عند انقطاع الدم للأكثر وما قلناه يقتضي الحظر

>> Masaji Antoro
Nambah lagi GAN...^^

Terusan Ibarah Ustadz Sholeh diatas dalam kitab Al-Jammi’Li Ahkaam al-Quraan, al-Qurthuby juga memilih hukum haram : “Bila terjadi pertentangan dalam satu masalah antara hukum haram dan halal ‘Dimenangkan hukum haram’

وإذا تعارض ما يقتضي الحظر وما يقتضي الإباحة ويغلب باعثاهما غلب باعث الحظر ، كما قال علي وعثمان في الجمع بين الأختين بملك اليمين ، أحلتهما آية وحرمتهما أخرى ، والتحريم أولى. والله أعلم.

Bila terjadi perselisihan antara hukum melarang dan hukum membolehkan dan pendorong keduanya ghalib maka dimenangkan pendorong hukum pelarangan seperti yang dikatakan Sayyidina Ali dan Utsman ra saat memeutuskan masalah mengumpulkan dua saudara wanita dengan penguasaan tangan kanan (keduanya menjadi sahaya), satu ayat menghalalkannya diayat lain melarangnya maka mengambil keputusan haram lebih baik.
Al-Jammi’Li Ahkaam al-Quraan III/90

Dalam pernyataan lainnya :

ونحن نحمل كل واحدة منهما على معنى ، فنحمل المخففة على ما إذا انقطع دمها للأقل ، فإنا لا نجوز وطأها حتى تغتسل ، لأنه لا يؤمن عوده

Dan kami membawa masing-masing dari kedua lafadz YATHHURNA dan TATHOHHARNA pada maknanya masing-masing...Sesungguhnya kami tidak membolehkan menggaulinya hingga ia mandi terlebih dahulu Karena kami tidak merasa aman akan kembalinya darah haid

Dalam Tafsiir al-Baghowy dijelaskan :

وأكثر أهل العلم على التحريم ما لم تغتسل أو تتيمم عند عدم الماء، لأن الله تعالى علق جواز وطئها بشرطين: 36/أ بانقطاع الدم والغسل، فقال { حتى يطهرن } يعني من الحيض { فإذا تطهرن } يعني اغتسلن { فأتوهن } ومن قرأ يطهرن بالتشديد فالمراد من ذلك: الغسل كقوله تعالى "وإن كنتم جنبا فاطهروا"( 6-المائدة ) أي فاغتسلوا فدل على أن قبل الغسل لا يحل الوطء.

Mayoritas dan kebanyakan Ahl Ilmu menghukumi haram menggauli istri saat terputus darah haidnya sebelum ia menunaikan mandi atau tayammum saat tidak terdapatnya air, karena Allah ta’ala menggantungkan kelegalan menggauli istri yang haid dengan dua syarat “Berhenti darahnya dan mandi” Allah menyatakannya dengan “Hingga mereka suci” artinya putus dari haid dan “apabila mereka telah bersuci” artinya bersuci adalah mandi maka bila telah terpenuhi dua syarat tersebut datangilah mereka.Bagi orang yang membaca ayat ‘HATTAA YATHHURN’ dengan mentasydid nunnya ‘HATTAA YATHHURONNA’ arti suci adalah mandi sebagaimana firman Allah lainnya ‘Bila kalian janabat maka bersucilah’, dengan demikian sebelum dilaksanakannya mandi tidak dihalalkan menggaulinya.
Tafsiir al-Baghowy I/259

Sedang kalangan ulama Fiqh dalam memutuskan masalah ini seperti uraian dalam komen saya pertama “Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat haram” sedang Abu Hanafi dari Hanafiyyah berpendapat “Bila darah telah terputus pada masa lebih banyak ketimbang masa haidnya boleh menggaulinya namun bila kurang masanya dari masa haidnya maka tidak boleh hingga ia menjalani mandi”

Berikut petikan dari beberapa redaksi lintas madzhab dalam masalah ini :

مسألة : قال : فان انقطع دمها فلا توطأ حتى تغتسل وجملته أن وطء الحائض قبل الغسل حرام وان انقطع دمها في قول أكثر أهل العلم قال ابن المنذر : هذا كالإجماع منهم وقال أحمد بن محمد المروذي : لا أعلم في هذا خلافا وقال أبو حنيفة : أن انقطع الدم لأكثر من الحيض حل وطؤها وان انقطع لدون ذلك لم يبح حتى تغتسل أو تتيمم أو يمضي عليها وقت صلاة لأن وجوب الغسل لا يمنع من الوطء بالجنابة ولنا قول الله تعالى : { ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فاتوهن من حيث أمركم الله } يعني إذا اغتسل هكذا فسره ابن عباس ولأن الله تعالى قال في الآية : { ويحب المتطهرين } فأثنى عليهم فيدل على أنه فعل منهم أثنى عليهم به وفعلهم هو الاغتسال دون انقطاع الدم فشرط لأباحة الوطء شرطين انقطاع الدم والاغتسال فلا يباح إلا بهما

MASALAH
“Saat darah haidnya telah berhenti maka haram menggaulinya hingga ia menjalani mandi”Sesungguhnya menggauli istri yang haid sebelum ia mandi adalah haram meskipun darahnya telah berhenti, ini pendapat mayoritas Ahl Ilmu.Ibn al-Mundzir berkata “Masalah ini seperti terjadi kesepakan dari kalangan ulama”Ahmad Bin Muhammad al-marwadzi berkata “Aku tidak melihat dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat”

Sedang Abu Hanifah (Hanafiyyah) berkata “Bila darah telah terputus pada masa lebih banyak ketimbang masa haidnya boleh menggaulinya namun bila kurang masanya dari masa haidnya maka tidak boleh hingga ia menjalani mandi atau tayammum atau telah berlalu waktu shalat karena waktu kewajiban mandi tidak terhalang dari persetubuhan sebab janabat.
Allah berfirman :“Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah bersuci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu” (QS. 2:222)
Artinya bersuci adalah saat mereka telah mandi, demikian penafsiran Ibn Abbas ra.

Dan karena Allah berfiraman :“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. 2:222).
Lihatlah dalam ayat ini Allah memuji mereka, pujian Allah berarti atas perbuatan yang telah mereka kerjakan yakni mandi bukan atas perbuatan yang mereka tidak kerjakan yakni terputusnya darah haid (karena yang demikian bersifat alami).

Dengan demikian diperbolehkannya menggauli istri yang haid bila telah terpenuhi dua syarat “Berhenti haidnya dan telah mandi” dan tidak diperbolehkan tanpa keduanya.
Al-Mugni I/387
Wallaahu A'lamu Bis showaab.

>> Wiro Sableng
wa'alaikum salam
 Hukumnya haram. bila itu tetap saja dilakukan karena ngebet banget, si suami itu harus bersedekah setengah dinar emas (1 dinar = 3,879 gram).
Majmu' Juz 2 Halaman 375

... فَعَلى قَول الجُمْهُورِ: لَو وَطِئَ بَعْدَ الإِنْقِطَاعِ وَقَبْلَ الإِغْتِسَالِ لَزِمَهُ نِصفُ دِنَارٍ

Maka menurut mayoritas ulama; kalau seseorang mengumpuli isteri setelah usainya masa haid tetapi belum mandi maka dia wajib sedekah setengah dinar.

Wallahu A'lamu Bish-showaab

Link Diskusi >>
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/373371029352378/
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/428431983846282/

20. الطهارة: Air Yang Terkena Percikan Air Musta'mal

 PERTANYAAN

Alex Delfy
Assalamualaikum
ikut nanya,
Apakah air yg musta'mal itu bisa memusta'malkan air yg laen?
Trimaksh..wassalamu'alaikum

JAWABAN

Tidak ada istilah air musta’mal dapat memusta’malkan air yang lain, karena pengertian air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk menghilangkan hadats atau najis yang tidak mengalami perubahan didalamnya, namun apabila air musta’mal tersebut tercampur dengan air lainnya baik airnya kurang atau lebih dari dua Qullah maka hukum air yang tercampuri terdapat beberapa pendapat ulama sebagai berikut :

1. Bila diperkirakan pencampurannya mengakibatkan perubahan maka tidak dapat dipakai mensucikan lagi, bila tidak mengalami perubahan masih bisa dipakai mensucikan, ini pendapat yang paling shahih
2. Bila air musta’mal yang mencampuri lebih sedikit maka masih bisa dipakai mensucikan lagi, bila lebih banyak atau sepadan maka tidak bisa dipakai mensucikan lagi
3. Bila air musta’mal yang mencampuri banyak dan membuat perubahan maka tidak dapat digunakan bersuci bila sedikit maka masih bisa

REFERENSI :

1. I’aanah at-Thoolibiin I/37 (Oleh ; Awan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy dan Dewan Masjid Assalaam)
2. Fath al-Qariib (Oleh ; Najih Mabruk)
3. Raudhatut Tholibiin (Oleh Toni Imam Tontowi dan Dewan Masjid Assalaam)
4. Al-Majmuu’ala Syarh al-Muhadzdzab I/151 (Oleh Masaji Antoro)
5. Al-Fiqh al-Islaam I/238 (Oleh Masaji Antoro)
6. Al-Mughni I/44 (Oleh Masaji Antoro dan Abdullah Afif)

واعلم أن شروط الاستعمال أربعة، تعلم من كلامه: قلة الماء واستعماله فيما لا بد منه، وأن ينفصل عن العضو، وعدم نية الاغتراف في محلها وهو في الغسل بعد نيته، وعند مماسة الماء لشئ من بدنه.فلو نوى الغسل من الجنابة ثم وضع كفه في ماء قليل ولم ينو الاغتراف صار مستعملا.وفي الوضوء بعد غسل الوجه وعند إرادة غسل اليدين، فلو لم ينو الاغتراف حينئذ صار الماء مستعملا.

Ada empat syarat air bisa dikatakan musta’mal:
(1) Volume air sedikit (kurang dari dua qullah),
(2) Sudah pernah digunakan dalam rukun wajib thoharoh,
(3) sudah terpisah dari anggota,
(4) tidak ada niat Ightirof (nyiduk:Jawa) ketika memasukkan tangan ke dalam wadah air ataupun ketika anggota tubuh menyentuh air. Syarat terakhir ini hanya berlaku dalam konteks mandi wajib setelah niat.
I’aanah at-Thoolibiin I/37
===============

والقسم الثالث طاهر في نفسه غير مطهر لغيره وهو الماء المستعمل في رفع أو إزالة نجس ان لم يتغير ولم يزد وزنه بعد انفصاله عما كان بعد اعتبار ما يتشربه المغسول من الماء والمتغير أي ومن هذا القسم الماء المتغير أحد أوصافه بما أي بشيء خالطه من الطاهرات تغيرا يمنع اطلاق اسم الماء عليه فإنه طاهر غير طهور حسيا كان التغير أو تقديريا كان اختلط بالماء ما يوافقه في صفاته كماء الورد المنقطع الرائحة والماء المستعمل فان لم يمنع اطلاق اسم الماء عليه بأن كان تغيره بالطاهر يسيرا أو بما يوافق الماء في صفاته وقدر مخالفا ولم يغيره فلا يسلب طهوريته فهو مطهر لغيره واحترز بقوله خالطه عن الطاهر المجاور له فإنه باق على طهوريته ولو كان التغير كثيرا وكذا المتغير بمخالط لايستغنى الماء عنه كطين وطحلب وما في مقره وممره والمتغير بطول المكث فإنه طهور

Pembagian yang ketiga adalah suci tapi tidak mensucikan yaitu air musta’mal (air yang telah digunkan) untuk menghilangkan hadast atau najis apabila tidak berubah dan timbangannya tidak bertambah setelah pisahnya air dari air yang menyerap pada sesuatu yang akan dibasuh dan air yang berubah atau dari pembagian ini air yang berubah salah satu sifatnya sebab bercampur dengan sesuatu yang suci sekiranya perubahannya dapat mencegah kemutlakan air sehingga air menjadi suci tapi tidak mensucikan baik perubahan yang nyata atau perkiraan seperti bercampur dengan sesuatu yang sama dengan sifat-sifar air seperti air kembang yang terpisah baunya dan air musta’mal, maka jika kemutlakan air tidak tercegah sekiranya perubahan sebab benda suci itu sedikit atau sebab sesuatu yang sama sifatnya dengan air kemudian air tersebut tidak berubah maka tidak sampai menghilangkan kesucian air tersebut sehingga dapat mensucikan lainnya. Dikecualikan dengan ucapan pengarang (air yang bercampur) adalah air yang berdampingan dengan benda lain sekiranya dapat dibedakan/dipisahkan, maka air tersebut tetap suci dan mensucikan meskipun perubahannya terhitung banyak seperti halnya perubahan sebab sesuatu yang bercampur yang airnya tidak mencukupi seperti tanah liat, ganggang, sesuatu yang ada ditempatnya air dan tempat mengalirnya air serta perubahan sebab lamanya berdiam diri, maka air tersebut suci dan mensucikan. (fath al-Qariib al-Mujiib bab Miyaah)
==============

روضة الطالبين وعمدة المفتين - (ج 1 / ص 3) فرع إذا اختلط بالماء الكثير أو القليل مائع يوافقه في الصفات كماء الورد المنقطع الرائحة وماء الشجر والماء المستعمل فوجهان أصحهما إن كان المائع قدرا لو خالف الماء في طعم أو لون أو ريح لتغير التغير المؤثر يسلب الطهورية وإن كان لا يؤثر مع تقدير المخالفة لم يسلب. والثاني إن كان المائع أقل من الماء لم يسلب وإن كان أكثر منه أو مثله سلب وحيث لم يسلب فالصحيح أنه يستعمل الجميع وقيل يجب أن يبقى قدر المائع وقيل إن كان الماء وحده يكفي لواجب الطهارة فله استعمال الجميع وإلا بقي.

Ketika tercampur pada air banyak ataupun sedikit, cairan yang serupa sifatnya dengan air tsb semisal air mawar yang tak berbau lagi dan air tanaman dan AIR MUSTA'MAL maka ada dua pendapat :

Pendapat 1 dan Yang shahih jika cairan tersebut DIPERKIRAKAN saat mencampuri memiliki rasa, warna atau bau dapat merubah dengan perubahan yang dianggap (perubahan yang besar) maka terlepaslah ke-tahurannya, dan jika diperkirakan tidak berpengaruh maka tidak menghilangkan thahurnya.

Pendapat ke-2, jika cairan tersebut lebih sedikit dari air yang dicampurinya maka tidak terpengaruh thahurnya, dan jika cairannya lebih banyak atau setara maka hilang thahurnya.
Maka pendapat yang shahih boleh menggunakan air tersebut (yang telah tercampur) keseluruhannya. Dan qiila : Wajib menyisakan air tsb sebanyak cairan yang mencampuri. Dan qiila : Jika air tanpa pencampur cukup untuk membasuh bagian yang wajib maka boleh menggunakan seluruhnya, dst...
Raudhah at-Thoolibiin I/3
==================

قد ذكرنا أن المستعمل طاهر عندنا بلا خلاف وليس بمطهر علي المذهب وفي المسألتين خلاف للعماء.
فاما كونه طاهرا فقد قال به مالك واحمد وجمهور السلف والخلف: وقال أبو يوسف نجس وعن أبي حنيفة ثلاث روايات.
احداها رواية محمد بن الحسن طاهر كمذهبنا.
قال صاحب الشامل وغيره وهو المشهور عنه.
والثانية نجس نجاسة مخففة.
والثالثة نجس نجاسة مغلظة.

Telah kami (Syafi’iyyah) sebutkan “Hukum air musta’mal itu suci tanpa ada perbedaan pendapat (antara kalangan Syafi-iyyah) dan tidak bisa mensucikan menurut pendapat yang kami jadikan madzhab, dalam 2 permasalahan ini terdapat diantara Ulama Fiqh,
• Muhammad Bin Hasan “Air musta’mal suci seperti madzhab kita (Syafi’iyyah)
• Pendapat ke dua menghukuminya najis mukhaffafah
• Pendapat Ulama ketiga menghukuminya najis Mughalladzah.
Al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhadzdzab I/151
======================

ويعفى عن يسير الماء المستعمل الواقع في الماء؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلم وأصحابه كانوا يتوضؤُون من الأقداح، ويغتسلون من الجفان، واغتسل النبي وعائشة من إناء واحد، تختلف
أيديهما فيه، كل واحد منهما يقول لصاحبه: أبق لي، ومثل هذا لا يسلم من رشاش يقع في الماء. فإن كثر الواقع وتفاحش لم تجز الطهارة به على الرواية الراجحة، وهو مذهب الشافعية أيضاً كما بينت

Dan dima’fu (diampuni) sedikitnya air musta’mal yang jatuh kedalam air karena baginda nabi shallallaahu alaihi wsallam dan para sahabat biasa wudhu dengan air dari gelas, dan mandi dengan air dari mangkuk besar, dan baginda nabi bersama ‘Aisyah sering mandi bersama dalam satu wadah air , tangan keduanya saling bergantian didalamnya, saling berkata dengan pasangannya “tuangkan untukku..!”
Yang semacam ini tentu tidak akan terselamatkan dari percikan-percikan dalam air.
Bila percikan yang jatuh tersebut banyak dan membuat keruh maka tidak boleh bersuci memakainya menurut riwayat yang kuat, pendapat ini juga pendapat madzhab syafi’iyyah seperti yang telah kami jelaskan dimuka.
Al-Fiqh al-Islaam I/238
=============================

فصل : إذا كان الواقع في الماء ماء مستعملا
فصل : و ان كان الواقع في الماء ماء مستعملا عفي عن يسيره قال إسحاق بن منصور قلت ل أحمد الرجل يتوضأ فينضح من وضوئه في إنائه ؟ قال لا بأس به قال إبراهيم النخعي : لا بد من ذلك ونحوه عن الحسن وهذا ظاهر حال النبي صلى الله عليه و سلم وأصحابه لأنهم كانوا يتوضؤون من الاقداح والانوار ويغتسلون من الجفان وقد روي أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يغتسل هو وميمونة من جفنة فيها أثر العجين واغتسل هو وعائشة من اناء واحد تختلف أيديهما في كل واحد منهما يقول لصاحبه أبق لي ومثل هذا لا يسلم من رشاششش يقع في الماء وان كثر الواقع تفاحش منع على إحدى الروايتين وقال أصحاب الشافعي إن كان الأكثر المستعمل منع وإن كان الأقل لم يمنع

PASAL
BILA AIR KEJATUHAN AIR MUSTA’MAL
Dan bila air kejatuhan air musta’mal maka dima’fu (diampuni) sedikitnya air yang jatuh....
baginda nabi shallallaahu alaihi wsallam dan para sahabat biasa wudhu dengan air dari gelas, dan mandi dengan air dari mangkuk besar, dan baginda nabi bersama ‘Aisyah sering mandi bersama dalam satu wadah air , tangan keduanya saling bergantian didalamnya, saling berkata dengan pasangannya “tuangkan untukku..!”
Yang semacam ini tentu tidak akan terselamatkan dari percikan-percikan dalam air.
Bila percikan yang jatuh tersebut banyak dan membuat keruh maka tidak boleh bersuci memakainya menurut riwayat yang kuat.

Para Ashab as-Syafi’i berkata :

“BILA AIR MUSTA’MALNYA YANG LEBIH BANYAK MAKA DILARANG (BERSUCI DENGANNYA), BILA LEBIH SEDIKIT MAKA TIDAK DILARANG”.
Al-Mughni I/44

Wallaahu A’lamu Bis Showaab

Link Diskusi :
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/352664961422985/

19. الطهارة: Cara Sholat Orang Yang Habis Operasi

PERTANYAAN :

Gus Luq
Assalamu'alaikum.
Bagaimana sholatnya orang yang habis operasi, badannya masih mutanajjis ?

Apa cukup dengan sholat lihurmatil wakti tanpa thoharoh ?
Syukron!

JAWABAN :
>>  Masaji Antoro
Wa'alaikumsalam

Shalat orang tersebut menurut Syafi’iyyah tidak sah karena ia selalu membawa najis atau bersentuhan dengan najis pada dirinya kecuali bila mutanajis habis operasinya tersebut hanya sedikit maka shalatnya sah dan tidak perlu diulang.

( وثانيها ) أي ثاني شروط الصلاة ( طهارة بدن ) ومنه داخل الفم والأنف والعين ( وملبوس ) وغيره من كل محمول له وإن لم يتحرك بحركته ( ومكان ) يصلى فيه ( عن نجس ) غير معفو عنه فلا تصح الصلاة معه ولو ناسيا أو جاهلا بوجوده أو بكونه مبطلا لقوله تعالى { وثيابك فطهر } ولخبر الشيخين

Fath al-Mu’iin I/80

(مسألة : ك) : ابتلي بخروج دم كثير من لثته أو بجروح سائلة أو بواسير أو ناصور واستغرق جل أوقاته ، لزمه التحفظ والحشو بوضع نحو قطنة على المحل ، فإن لم ينحبس الدم بذلك لزمه ربطه إن لم يؤذه انحباس الدم ولو بنحو حرقان وكان حكمه حكم السلس ، لكن لا يلزمه الوضوء لكل فرض

Bughyaah al-Mustarsyidiin I/180

وَفِي حَجّ : وَلَوْ غَرَزَ إبْرَةً مَثَلًا بِبَدَنِهِ أَوْ انْغَرَزَتْ فَغَابَتْ أَوْ وَصَلَتْ لِدَمٍ قَلِيلٍ لَمْ يَضُرَّ أَوْ لِدَمٍ كَثِيرٍ أَوْ لِجَوْفٍ لَمْ تَصِحَّ الصَّلَاةُ لِاتِّصَالِهَا بِنَجَسٍ ا هـ .

Hasyiyah al-Bujairomi alaa al-Khothiib IV/59

وَعِبَارَةُ الْعُبَابِ وَشَرْحِهِ بَعْدَ أَنْ ذَكَرَ مَا ذَكَرَهُ الْمَتْنُ بِقَوْلِهِ فَيَجِبُ أَنْ تَغْتَسِلَ مُسْتَحَاضَةٌ إلَخْ نَصِّهَا ، وَالسَّلَسُ بَوْلًا أَوْ غَيْرَهُ كَالْمَذْيِ وَالْوَدْيِ وَالرِّيحِ كَالِاسْتِحَاضَةِ فِي جَمِيعِ مَا مَرَّ وَمِنْهُ أَنْ يَحْشُوَ ذَكَرَهُ بِقُطْنَةٍ ، فَإِنْ لَمْ يَنْقَطِعْ عَصَبَهُ بِخِرْقَةٍ وَأَجْرَى الْجَلَالُ الْبُلْقِينِيُّ نَظِيرَ ذَلِكَ فِي سَلَسِ الرِّيحِ ، فَإِنْ كَانَ مَنِيًّا وَقَلَّ مَا يَعِيشُ صَاحِبُهُ فَاحْتِيَاطُهُ بِالْغُسْلِ مَعَ مَا مَرَّ لِكُلِّ فَرْضٍ وَذُو الْجُرْحِ وَالدُّمَّلِ وَالنَّاسُورِ وَالرُّعَافِ السَّيَالَةِ كَالْمُسْتَحَاضَةِ فِي وُجُوبِ غُسْلِ نَحْوِ الدَّمِ لِكُلِّ فَرْضٍ وَالشَّدِّ عَلَى مَحَلِّهِ وَنَحْوِهِمَا ، انْتَهَتْ ( قَوْلُهُ : أَوْ مَذْيٍ ) وَكَذَا رِيحٌ وَغَائِطٌ وَلَا يَجُوزُ لِلشَّخْصِ تَعْلِيقُ قَارُورَةٍ لِيُقَطِّرَ فِيهَا بَوْلَهُ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ بَلْ تَبْطُلُ صَلَاتُهُ بِكَوْنِهِ حَامِلًا نَجَاسَةً غَيْرَ مَعْفُوٍّ عَنْهَا فِي غَيْرِ مَعْدِنِهَا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ وَيُعْفَى عَنْ قَلِيلِ سَلَسِ الْبَوْلِ فِي الثَّوْبِ وَالْعِصَابَةِ بِالنِّسْبَةِ لِتِلْكَ الصَّلَاةِ خَاصَّةً فَلَوْ اسْتَمْسَكَ السَّلَسُ بِالْقُعُودِ دُونَ الْقِيَامِ وَجَبَ أَنْ يُصَلِّيَ قَاعِدًا احْتِيَاطًا لِلطَّهَارَةِ وَلَا إعَادَةَ عَلَيْهِ ، فَإِنْ صَلَّى قَائِمًا لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ لِوُجُودِ النَّجَاسَةِ مَعَ تَمَكُّنِهِ مِنْ اجْتِنَابِهَا وَمَنْ دَامَ خُرُوجُ مَنِيِّهِ لَزِمَهُ الْغُسْلُ لِكُلِّ فَرْضٍ ا هـ بِرْمَاوِيٌّ .

Hasyiyah al-Jamal II/384-385
__________________

SOLUSI
Oleh karena setiap orang yang masih berakal dan baligh dalam kondisi apapun masih berkewajiban menjalankan shalat, maka shalat orang yang dalam kondisi seperti pertanyaan diatas diberikan beberapa solusi :

1. Orang tersebut menjalankan Shalat Li Hurmatil Wakti dan wajib mengulang shalatnya saat keadaannya sudah normal (keterangannya baca pada dokumen PISS (http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/doc/371268576229290/)

2. Taqlid pada Imam Malik yang membolehkan shalat dalam kondisi pada pertanyaan diatas dan mengesahkan shalat meskipun dalam keadaan membawa najis. (artinya harus talfiq pada madzhab malikiyyah)

وحاصل ما ذكره الشيخ محمد بن خاتم في رسالته في صلاة المريض أن مذهب أبي حنيفة... وأما مالك فمقتضى مذهبه وجوب الإيماء بالطرف أو بإجراء الأركان على القلب ، والمعتمد من مذهبه أن طهارة الخبث من الثوب والبدن والمكان سنة ، فيعيد استحباباً من صلى عالماً قادراً على إزالتها ، ومقابلة الوجوب مع العلم والقدرة ، وإلا فمستحب ما دام الوقت فقط ، وأما طهارة الحدث فإن عجز عن استعمال الماء لخوف حدوث مرض أو زيادته أو تأخير برء جاز التيمم ولا قضاء عليه ، وكذا لو عدم من يناوله الماء ولو بأجرة ، وإن عجز عن الماء والصعيد لعدمهما أو عدم القدرة على استعمالهما بنفسه وغيره سقطت عنه الصلاة ولا قضاء اهـ.

Bughyah al-Mustarsyidiin I/162

TAMBAHAN :

Kelegalan talfiq dalam kondisi tertentu :
Secara bahasa talfiq berarti melipat. Sedangkan yang dimaksud dengan talfiq secara syar’i adalah mencampur-adukkan pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama lain, sehingga tidak seorang pun dari mereka yang membenarkan perbuatan yang dilakukan tersebut.

Muhammad Amin al-Kurdi mengatakan:

(الخامس) عدم التلفيق بأن لايلفق في قضية واحدة ابتداء ولادوامابين قولين يتولدمنهماحقيقة لايقول بهاصاحبهما (تنويرالقلوب , 397)

“(syarat kelima dari taqlid) adalah tidak talfiq, yaitu tidak mencampur antara dua pendapat dalam satu qadliyah (masalah), baik sejak awal, pertengahan dan seterusnya, yang nantinya, dari dua pendapat itu akan menimbulkan satu amaliyah yang tak pernah dikatakan oleh orang bberpendapat.” (Tanwir al-Qulub, 397)Jelasnya, talfiq adalah melakukan suatu perbuatan atas dasar hukum yang merupakan gabungan dua madzhab atau lebih. Contohnya sebagai berikut :

a. Seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi’I dengan mengusap sebagian (kurang dari seperempat) kepala. Kemudian dia menyentuh kulit wanita ajnabiyyah (bukan mahram-nya), dan langsung shalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa menyentuh wanita ajnabiyyah tidak membatalkan wudlu. Perbuatan ini disebut talfiq, karena menggabungkan pendapatnya Imam Syafi’I dan Hanafi dalam masalah wudlu. Yang pada akhirnya, kedua Imam tersebut sama-sama tidak mengakui bahwa gabungan itu merupakan pendapatnya. Sebab, Imam Syafi’I membatalkan wudlu seseorang yang menyentuh kulit lain jenis. Sementara Imam Hanafi tidak mengesahkan wudlu seseorang yang hanya mengusap sebgaian kepala.b. Seseorang berwudlu dengan mengusap sebagian kepala, atau tidak menggosok anggota wudlu karena ikut madzhab imam Syafi’i. lalu dia menyentuh anjing, karena ikut madzhab Imam Malik yang mengatakan bahwa anjing adalah suci. Ketika dia shalat, maka kedua imam tersebut tentu sama-sama akan membatalkannya. Sebab, menurut Imam Malik wudlu itu harus dengan mengusap seluruh kepala dan juga dengan menggosok anggota wudlu. Wudlu ala Imam Syafi’I, menurut Imam Malik adalah tidak sah. Demikian juga anjing menurut Imam Syafi’i termasuk najis mughallazhah (najis yang berat). Maka ketika menyentuh anjing lalu shalat, shalatnya tidak sah. Sebab kedua imam itu tidak menganggap sah shalat yang dilakukan itu.Talfiq semacam itu dilarang agama.
Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab I’anah al-Thalibin:

ويمتنع التلفيق في مسئلة كأن قلدمالكا في طهارة الكلب والشافعي في بعض الرأس في صلاة واحدة (اعانة الطالبين , ج 1 ص 17)

“talfiq dalam satu masalah itu dilarang, seperti ikut pada Imam Malik dalam sucinya anjing dan ikut Imam Syafi’I dalam bolehnya mengusap sebagian kepala untuk mengerjakan shalat.”
(I’anah al-Thalibin, juz 1, hal 17)

Sedangkan tujuan pelarangan itu adalah agar tidak terjadi tatabbu’ al-rukhash (mencari yang mudah), tidak memanjakan umat Islam untuk mengambil yang ringan-ringan. Sehingga tidak akan timbul tala’ub (main-main) di dalam hukum agama. Atas dasar ini maka sebenarnya talfiq yang dimunculkan bukan untuk mengekang kebebasan umat Islam untuk memilih madzhab. Bukan pula untuk melestarikan sikap pembelaan dan fanatisme terhadap madzhab tertentu. Sebab talfiq ini dimunculkan dalam rangka menjaga kebebasan bermadzhab agar tidak disalahpahami oleh sebagian orang.

Untuk menghindari adanya talfiq yang dilarang ini, maka diperlukan adanya suatu penetapan hukum dengan memilih salah satu madzhab dari madzahib al-arba’ah yang relevan dengan kondisi dan situasi Indonesia. Misalnya, dalam persoalan shalat (mulai dari syarat, rukun dan batalnya) ikut madzhab Syafi’i. untuk persoalan sosial kemasyarakatan mengikuti madzhab Hanafi. Sebab, diakui atau tidak bahwa kondisi Indonesia mempunyai cirri khas tersendiri. Tuntutan kemashlahatan yang ada berbeda dari satu tempat dengan tempat lain.

Dengan demikian seseorang tidak diperkenankan seseorang berpindah madzhab kecuali bila memenuhi beberapa ketentuan :

1. Mengerti (mengetahui) masalah yang bersangkutan menurut madzhab yang diikutinya
2. Bukan dalam masalah yang termasuk dibatalkan oleh keputusan seorang Qadhi (Hakim Agama) artinya tidak bertentangan dengan Nash (al-Quran dan Hadits), al-Ijmaa’, Kaidah-kaidah ataupun Qiyas al-Jaly
3. Tidak mencari keringanan dengan mengambil yang mudah-mudah dari setiap madzhab yang ada
4. Tidak mengacaukan antara dua Qaul yang dapat menimbulkan kenyataan yang tidak dikatakan oleh keduanya seperti pada keterangan diatas (sub b)
5. Tidak melaksanakan Qaul seorang dalam satu masalah kemudian melaksanakan kebalikan Qaul tersebut dalammasalah yang sama
(Bughyah al-Mustarsyidiin Hal. 9, Sab’ah al-Kutub al-Fawaaid Hal. 51 dan Fath al-Mu’iin Hal. 138)

Wallaahu A'lamu Bis showaab.

Link Diskusi >>
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/385157504840397/

18. الطهارة: Wanita Haid Ziarah Kubur

PERTANYAAN :

Wong Awam
Mohon bantuan, Hukum ziarah kubur bagi wanita haid,Kemarin ada teman saya nanya. Saya cuma bisa diam, kpd saudara2 yg punya pengetahuan ttg hal ini sekiranya mau sumbang pikiran. Trims


JAWABAN :

>> Awan As-Safaritiyy Asy-syaikheriyy
kmakruhan wanita ziyaroh krn mreka mudah menangis dan meninggikan suara,hal itu karena tdk trlalu kuat menerimaya hati,trlalu sedih/putus asa trhdap musibah,dan tdk trlalu bs menerima musibah2 yg ia alami.tp,hkum ini hanya d makruhkan tdk d haramkan krn nabi pernah lewat dng ketemu seorg wanita yang menangis d atas quburan anakya yg msh kecil,kmudian nabi SAW brsbda kepadaya : brtqwalah kpd allah dan brsabarlah.

dlm hadis ini mnjelaskan jika ziyaroh qubur bg wnt d haramkan pasti nabi akan melarang wanita itu.
makruh jika tdk d kuatirkan fitnah tp jika d kuatirkan fitnah maka haram ziarahya.yg d sunahkan bg wanita dan laki2 menziyarohi makam nabi2,org 'alim,org shalih.

i'anatut tholibin 2/142

>> Salim Ridho

باب استحباب زيارة القبر للرجال و ما يقوله الزائرعن بريدة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها. رواه مسلم. و في رواية : فمن أراد أن يزور القبور فليزر, فانها تذكر نا الأخرةالحديث رواه مسلم فى الجنائز (باب استئذان النبي صلى الله عليه و سلم ربه عز و جل في زيارة قبر أمهأفاد الجديث : مشروعية زيارة القبور, و اتفق العلماء على أنها مندوبة للرجال و خاصة لأداء حق نحو والد و صديق, لما فيها من تذكير بالأخرة و ترقيق للقلوب بذكر الموت و أحواله, كما ورد فى الأحاديث * و أما النساء فتكره لهن الزيارة, لما ورد من النهي عن ذلك, و قد تحرم اذا اقترنت زيارتهن بمحظور شرعي, كما اذا خشيت الفتنة أو رفعن أصواتهن بالبكاء, و قد تباح لهن الزيارة اذا قرب المصاب و لم يكن ثمة محظور شرعي * يندب زيارة قبر النبي صلى الله عليه و سلم * جواز النسخ في الشريعة الاسلامية, فقد حرم صلى الله عليه و سلم زيارة القبور أول الأمر لقرب عهد الناس بالجاهلية و ما كان فيها من وثنية و ما كانوا يفعلونه عند القبور من نياحة و غيرهما مما حرم الاسلام, ثم نسخ التحريم بعد أن اتضحت عقيدة التوحيد و رسخت قواعد الاسلام و استبانت أحكامه * على المؤمن أن يذكر نفسه بالموت, و أنه سيكون فى عداد الموتى ان عاجلا أو أجلا

Artinya:
Bab sunah ziarah kubur bagi laki2 dan bacaan yang diucapkan oleh penziarah.Dari Buraidah radiyallahu 'anhu telah berkata: Rasulullah saw bersabda: "Tadinya aku melarang kalian berziarah, tapi kini berziarahlah kalian ! (Hadits Riwayat Muslim)"Dalam riwayat lain dikatakan: "Maka barangsiapa yang ingin ziarah kubur, maka berziarahlah ! Karena, sesungguhnya ziarah kubur itu dapat mengingatkan akherat".Hadits Riwayat Muslim Menerangkan Tentang Jenazah (Bab meminta izin Nabi saw kepada Allah swt dalam masalah ziarah ke makam ibu beliau).

Faedah(maksud) Hadits:
Ziarah kubur disyari'atkan dalam Islam. Para ulama telah sepakat menyatakan bahwa ziarah kubur hukumnya disunnahkan bagi kaum laki-laki, khususnya untuk melaksanakan hak seperti: ayah dan teman, mengingat mati, dan melembutkan hati dengan cara mengingat mati berikut tingkah-tingkahnya, sebagaimana keterangan-keterangan yang berlaku di dalam hadits-hadits Nabi saw.Adapun wanita hukumnya dimakruhkan dalam ziarah kubur. Karena, ada hadits Nabi tentang pelarangan tersebut. Juga ziarah kubur hukumnya diharamkan bagi wanita bilamana diiringi dengan sesuatu yang dilarang menurut syara'. Seperti bilamana takut terjadi fitnah atau kerasnya suara wanita dengan menangis. Begitupula, ziarah kubur hukumnya diperbolehkan bagi wanita bilamana dekat dengan orang yang terkena musibah dan tidak adanya ciri fitnah yang dilarang oleh syara'.Demikian pula, ziarah ke makam Nabi saw hukumnya disunnahkan. Karena, bolehnya nasakh (perubahan hukum Islam) dalam syari'at Islam. Memang, pada awal perintahan Nabi saw ziarah kubur itu hukumnya diharamkan, karena umat Islam pada masa itu masih ada kedekatannya dengan kebiasaan mereka pada zaman jahiliyah.Juga masih adanya kebiasaan menyembah berhala. Selain itu, mereka juga suka berbuat niyahah (meratapi mayit) atau lainya yang diharamkan ketika melakukan ziarah kubur. Kemudian, hukum haram ziarah kubur tersebut diganti dengan hukum sunnah setelah adanya kejelasan dalam aqidah Islam, tertancapnya kaedah-kaedah dan hukum-hukum Islam di dada mereka.Dengan demikian, seorang mukmin harus selalu mengingat mati. Karena, mengingat mati adalah persiapannya orang-orang yang akan mati, baik untuk saat ini maupun saat yang akan datang.

"Nuzhatul Muttaqin Syarah Riyadhus Shalihin" jilid 1.

>> Masaji Antoro

قال الشيخ عبد المعطي السقا في ( الارشادات السنية ) ص 111 : زيارة قبور المسلمين مندوبة للرجال لخبر مسلم : كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإنها تذكركم الآخرة : أما زيارة النساء فمكروهة إن كانت لقبر غير نبي وعالم و صالح وقريب ، أما زيارة القبر النبي ومن ذكر معه فمندوبة لهن بدون محرم إن كانت القبور داخل البلد ، ومع محرم إن كانت خارجة ، ومحل ندب زيارتهن أو كراهتها إذا أذن لهن الحليل أو الولي وأمنت الفتنة ولم يترتب على اجتماعهن مفسدة كما هو الغالب ، بل المحقق في هذا الزمان ، وإلا فلا ريبة في تحريمها. ويستحب الاكثار من الزيارة لتحصيل الاعتبار والعظة وتذكر الآخرة ، وتتأكد الزيارة عشية يوم الخميس ويوم الجمعة بتمامه وبكرة يوم السبت.

Berkata as-Syaikh ‘Abdul Mu’thi as-Saqaa dalam kitab al-Irsyaadaat as-Sunniyah “Berziarah dikuburan orang-orang muslim disunahkan bagi para pria berdasarkan hadits riwayat Muslim “Aku (dulu) melarang kalian berziarah kubur, (sekarang) berziarahlah karena ia mengingatkan kalian pada akhirat”.
Sedang bagi para wanita ziarah kubur hukumnya makruh bila bukan kuburan nabi,orang alim, orang shalih atupun kerabat, sedang menziarahi kuburan nabi dan orang yang telah disebutkan sunah baginya bila kuburannya masih dalam satu daerah atau diluar daerah saat ia bersama mahramnya.

Kesunahan ziarah baginya dengan ketentuan seizin suaminya atau walinya, aman dari fitnah dan dalam perkumpulannya tidak menimbulkan kerusakan seperti pada umumnya bahkan yang menjadi kenyataan dizaman ini, bila tidak demikian maka keharaman ziarah baginya tidak dapat disangsikan.
Disunahkan memperbanyak ziarah dengan tujuan supaya dapat mengambil pertimbangan, peringatan serta teringat kehidupan akhirat.Kesunahan ziarah menjadi mauakad dihari kamis sore dan hari jumat dan makruh dihari sabtu”.

al-Irsyaadaat as-Sunniyah hal. 111
_________________________________

زيارة القبور مندوبة للاتعاظ وتذكر الآخرة وتتأكد يوم الجمعة ويوما قبلها ويوما بعدها عند الحنفية والمالكية وخالف الحنابلة والشافعية فانظر مذهبيهما تحت الخط ( الحنابلة قالوا : لا تتأكد الزيارة في يوم دون يوم الشافعية قالوا : تتأكد من عصر يوم الخميس إلى طلوع شمس يوم السبت . وهذا قول راجح عند المالكية

Ziarah kubur disunahkan agar dapat mengambil pertimbangan, peringatan serta teringat kehidupan akhirat, kesunahannya menjadi mauakad dihari hari jumat dan hari sebelumnya (kamis) serta hari setelahnya menurut kalangan Hanafiyah dan Malikiyyah berbeda menurut kalangan Hanabilah yang menyatakan “ziarah tidak muakad, tidak dihari tertentu juga hari lainnya” dan kalangan Syafi’iyyah yang menyatakan “Menjadi sunah yang muakkad mulai asharnya hari kamis hingga terbitnya matahari dihari sabtu” dan pernyataan ini sesuai pendapat yang unggul dikalangan Malikiyyah.
Al-Fiqh ala Madzaahib al-Arbaah I/855

PADA KETENTUAN DIATAS TIDAK TERDAPAT PERBEDAAN HUKUM ANTARA WANITA YANG SEDANG HAID ATAU TIDAK
Wallaahu A'lamu Bis Showaab.

Link Diskusi >>
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/386282368061244/