ุงู„ุฃุฑุจุนุงุก، 9 ุฃูƒุชูˆุจุฑ 2013

Mari Bermadzhab : Dialog Al Bouti vs Al-Bani

Assalamualaikum..
Setiap orang apabila menemui suatu masalah fiqiyah, pilihanya hanya dua, yaitu antara berfikir dan berijtihad sendiri sambil terus mencari dalil yang dapat menjawab atau bertaqlid mengikuti pendapat mujtahid terdahulu.
Pilihan berijtihad tidak diperuntukan kesemua orang karena tidak mungkin semua orang harus menggunakan waktunya untuk mencari, berfikir, mempelajari perangkat2 ijtihad yang akan memakan waktu lama. Ijtihad tidak bisa hanya sekedar membaca satu-dua buku, apalagi buku terjemahan, dan bahkan tanpa guru yang memiliki sanad keilmuan. Bila itu terjadi maka rusaklah syareat agama.

Berikut adalah potongan perdebatan mengenai ijtihad ini antara Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Bouthi dengan Syaikh Nashirudin Al Bani tokoh pemuka Salafi-Wahabi yang terkenal berfaham anti mazhab. Diskusi ini diambil dari kitab Syeikh Al Bouthi yang berjudul "Al-La Mazhabiyah Akhthar Bid'ah Tuhaddid asy-Syariah al-Islamiyah" - Faham tak bermazhab adalah bid'ah paling berbahaya yang dapat menghancurkan syariat Islam".
Berikut adalah isi Jalanya diskusi tersebut:

Al-Bouti : Bagaimana cara anda memahami hukum Allah ? Apakah anda langsung mengambil dari Al-Qur’an dan Sunnah ataukah anda mengambilnya dari para imam mujtahid ?

Al-Bani: Saya akan meneliti pendapat para imam mujtahid serta dalil-dalilnya kemudian saya akan mengambil keterangan yang dalilnya paling mendekati Al-Qur’an dan Sunnah.

Al-Bouti : Seandainya anda mempunyai uang 5000 Lira Syria dan uang tersebut anda simpan selama enam bulan, lalu anda menggunakannya membeli barang-barang untuk diperdagangkan. Kapankah anda membayar zakat harta perdagangan tersebut ? Apakah setelah enam bulan kedepan ataukah setelah satu tahun ?

Al-Bani : Maksud tuan apakah harta perdagangan itu wajib dizakati ?

Al-Bouti : Saya sekedar bertanya dan saya berharap anda menjawabnya dengan cara anda sendiri. Perpustakaan ada didepan anda. Disitu terdapat kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits dan juga kitab-kitab para imam mujtahidin.

Al-Bani: Hai Saudaraku ! Ini adalah masalah agama, bukan soal mudah yang dapat dijawab seketika. Memerlukan waktu untuk mempelajarinya dengan seksama (teliti). Kedatangan kami kesini adalah untuk membahas masalah yang lain !  

Al-Bouti : Baiklah..! kami ingin bertanya Apakah setiap muslim wajib menyelidiki dalil-dalil para imam mujtahid kemudian mengambil mana yang lebih cocok dengan Al-Qur’an dan hadits ?

Al-Bani: Ya benar !

Al-Bouti : Kalau begitu semua orang harus memiliki kemampuan ijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab. Bahkan mereka harus memiliki kemampuan yang lebih sempurna karena orang-orang yang mampu memutuskan pendapat para imam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sudah barang tentu lebih pandai dari semua imam itu.

Al-Bani : Sesungguhnya manusia itu ada tiga macam : Mukallid, Muttabi’ dan Mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab kemudian memilih mana yang lebih dekat kepada Al Qur’an dan Sunnah adalah Muttabi’ yakni pertengahan antara Mukallid dan Mujtahid.

(Al-bani menyebut muttabi' berada diantara muqallid dan mujtahid, tapi kapasitas muttabi disini menjadi lebih unggul dari mujtahid, karena mujtahid sendiripun tidak membanding-bandingkan mazhab, menyaring pendapat imam mazhab lalu memutuskan pendapat para imam mazhab tersebut sesuai dengan Al-Quran dan sunnah. inilah yang dimaksud Al Bouthi sebagai "Sudah tentu lebih pandai dari semua imam itu" Tapi Albani tidak menjawab peratnyaan Al Bouthi, apakah setiap orang islam harus sedekimian itu)

Al-Bouti : Apa sebenarnya kewajiban Mukallid ?
Al-Bani : Dia taqlid kepada imam mujtahid yang cocok dengannya.

Al-Bouti : Apakah berdosa jika ia taqlid kepada seorang imam secara terus menerus dan tidak mau pindah kepada imam yang lain ?

Al-Bani : Ya, hal itu hukumnya haram !

Al-Bouti : Kalau yang demikian itu haram, apakah dalilnya ?

Al-Bani : Dalilnya adalah karena dia menetapi sesuatu yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah ‘azza wajalla.

Al-Bouti : Dari tujuh macam qiro’at, qiro’at apa yang anda pakai untuk membaca Al Qur’an ?

Al-Bani : Qiro’at imam Hafash .

Al-Bouti : Apakah anda selalu membaca Al Qur’an dengan qira’at imam Hafash ataukah anda membaca Al Qur’an setiap harinya dengan qiro’at yang berbeda-beda ?

Al-Bani : Tidak, saya selalu membaca Al-Qur’an dengan qiro’at imam Hafash saja.


(golongan anti madzhab ini sendiri memegang satu macam qiro’at dari tujuh macam yang ada, mengapa mereka tidak mengharamkan hal ini ?, sedangkan golongan selain golongannya bila memegang satu amalan dari satu madzhab terus menerus maka mereka haramkan, beginilah sifat mereka selalu membenarkan golongannya sendiri dan mensesatkan golongan lainnya bila tidak sepaham dengan mereka, walaupun tidak ada dalil yang mengharamkannya ! pen.) .

Al-Bouti : Mengapa anda selalu menetapi qiro’at imam Hafash ?, sedangkan menurut riwayat yang diterima dari Nabi saw. secara mutawatir bahwa Allah hanya mewajibkan anda untuk membaca Al-Qur’an !

Al-Bani : Karena saya belum mempelajari qiro’at-qiro’at yang lain dengan sempurna. Dan tidak mudah bagi saya untuk membaca Al Qur’an kecuali dengan qiro’at imam Hafash !

Al-Bouti : Demikian pula halnya dengan orang yang mempelajari fiqh menurut madzhab Syafi’i. Dia juga tidak cukup sempurna dalam mempelajari madzhab-madzhab yang lain dan tidak mudah baginya untuk mempelajari hukum agama selain dari madzhab Syafi’i. Kalau anda mewajibkan kepadanya untuk mengetahui ijtihad para imam dan mengambil semuanya, ini berarti anda pun wajib mempelajari semua qiro’at itu. Kalau anda beralasan tidak mampu, maka begitu juga halnya si mukallid tadi. Singkatnya kami ingin mengatakan, apa alasan anda sehingga mewajibkan para mukallid untuk berpindah-pindah dari madzhab yang satu ke madzhab yang lain ?, sedangkan Allah tidak pernah mewajibkan yang demikian ! Artinya sebagaimana Allah swt. tidak pernah mewajibkan untuk mengikuti satu madzhab secara terus-menerus, begitu juga Allah tidak pernah mewajibkan untuk terus menerus pindah satu madzhab ke madzhab yang lain !

Al-Bani : Sesungguhnya yang haram itu ialah kalau seseorang mempunyai I’tikad (keyakinan) bahwa Allah memerintahkannya untuk terus-menerus menetapi madzhab tertentu.
Al-Bouti : Ini masalah lain dan itu memang benar, tidak ada perbedaan pendapat. Akan tetapi apakah ia berdosa kalau terus-menerus mengikuti imam tertentu sedangkan dia juga tahu bahwa Allah tidak pernah mewajibkan yang demikian kepadanya ?

Al-Bani : Kalau seperti itu tidaklah dia berdosa ! 

 Al-Bouti: Tetapi buku Syeikh Khajandi yang anda pelajari itu menyebut- kan hal yang berbeda dengan apa yang anda katakan. Khajandi secara tegas mengharamkan yang demikian bahkan pada beberapa bagian dari buku itu ia menyatakan kafir kepada orang yang terus-menerus mengikuti seorang imam tertentu dan tidak mau pindah kepada yang lain !

Al-Bani : Mana…,? Selanjutnya ia berpikir tentang tulisan Syeikh Khajandi yang berbunyi : “Bahkan siapa saja yang mengikuti seorang imam secara terus-menerus dalam setiap masalah, maka dia termasuk orang fanatik yang salah serta telah taqlid secara membabi buta dan dialah orang yang telah mencerai-beraikan agama dan menjadikan diri mereka berkelompok-kelompok”. Lalu dia berkata bahwa yang dimaksud dengan mengikuti secara terus-menerus disitu adalah mengi’tikadkan wajibnya yang demikian dari sudut pandang agama. Didalam pernyataan itu terdapat pembuangan.

Al-Bouti: Apakah buktinya kalau Syeikh Khajandi itu bermaksud demikian? Mengapa anda tidak mengatakan bahwa Syeikh Khajandi itu telah melakukan kesalahan ?
(Terhadap pertanyaan Syeik Sa’id ini kelompok anti madzhab itu tetap bersikeras bahwa apa yang dikatakan Syeikh Khajandi itu benar karena didalam ucapannya itu terdapat pembuangan kalimat.)

Al-Bouti melanjutkan : Akan tetapi meskipun anda memperkirakan adanya pembuangan kalimat pada ucapan Syeikh Khajandi itu (yakni kalimat apabila dia mengi’tikadkan wajibnya mengikuti seorang imam secara terus menerus ) tetap saja ucapan tersebut tidak memiliki makna apa-apa karena setiap muslim mengetahui bahwa seorang imam tertentu dari keempat imam madzhab itu bukanlah termasuk kewajiban syari’at melainkan atas dasar pilihan orang itu sendiri.

Al-Bani: Bagaimana bisa demikian ? Saya mendengar dari banyak orang dan juga dari sebagian ahli ilmu bahwa diwajibkan secara syari’at mengikuti madzhab tertentu secara terus menerus dan tidak boleh berpindah kepada madzhab yang lain !

Al-Bouti : Coba anda sebutkan kepada kami nama satu orang saja dari kalangan awam atau ahli ilmu yan menyatakan demikian ! (Terhadap permintaan Syeikh Sa’id ini kelompok anti madzhab itu terdiam sejenak. Ia heran kalau-kalau ucapan Syeikh Sa’id itu benar, dan dia [anti madzhab] pun mulai ragu-ragu tentang kebenaran atas pernyataannya sendiri yakni perkataan mereka bahwa sebagian besar manusia mengharam kan berpindah-pindah madzhab.).

Selanjutnya Al-Bouti mengatakan : Anda tidak akan menemukan satu orangpun yang beranggapan keliru seperti ini. Memang pernah diriwayatkan bahwa pada masa terakhir Dinasti Utsmaniyyah mereka keberatan kalau ada orang yang bermadzhab Hanafi pindah kemadzhab lain. Hal ini kalau memang benar adalah termasuk fanatik buta yang tercela.

Hanya Dua Kategori!
Al-Bouti :Dari mana Anda mengetahui perbedaan antara muqallid dan muttabi'?

Al-Bani:Perbedaannya ialah dari segi bahasa,


(Lalu Al-Buthi mengambil kitab-kitab bahasa agar Al-Albani dapat menetapkan perbedaan makna bahasa darl dua kalimat tersebut, tetapi la tidak menemul apa-apa. Al-Buthi kembali melanjutkan pembicaraan).

Al-Bouti :Sayyidina Abu Bakar RA pernah berkata kepada seorang Arab badwi yang menentang pajak dan perkataannya ini diakui segenap sahabat, "Apabila para muhajirin telah rela, hendaknya kalian menyepakatinya (mengikuti)."
Abu Bakar mengatakan taba'un (mengikuti), yang berarti muwafaqah (menyepakati).


Al-Bani: Kalau begitu, perbedaan makna kedua kata tersebut adalah dari segl istilah, dan bukan hak saya untuk membuat suatu Istilah. 

Al-Bouti :Silakan saja Anda membuat istilah, tetapi Istilah yang Anda buat tetap tak akan mengubah hakikat sesuatu. Orang yang Anda sebut muttabi', kalau ia mengetahui dalil dan cara melakukan istinbath darinya, berarti ia seorang mujtahid. Tetapi apabila orang itu dalam suatu masalah tidak tahu dan tidak mampu ber-istinbath, berarti ia mujtahid dalam sebahagian masalah dan muqallid dalam masalah lain. Oleh karena itu, bagaimanapun juga pembahagian tingkatan seseorang hanya ada dua macam, mujtahid dan muqallid. Ini hukumnya sudah cukup jelas dan telah diketahui.
Al-Bani: Sesungguhnya muttabi' adalah orang yang mampu membedakan pendapat mujtahidin dan dalil-dalilnya, kemudian menguatkan salah satu daripadanya. Tingkatan ini berbeda dengan taqlld.

Al-Bouti : Kalau yang Anda maksudkan "membedakan pendapat para imam mujtahid ialah membedakan mana yang kuat dan mana yang lemah dari segi dalil, berarti tingkat ini adalah lebih tinggi dari ijtihad (lebih unggul darl Imam mujtahid). Apakah Anda mampu berbuat demikian?

Al-Bani:Saya akan melakukannya sejauh kemampuan saya.

(Kata-kata Al-Albani itu sesungguhnya secara tidak langsung menunjukkan bahwa la mempunyai kemampuan lebih tinggi dari para imam ijtihad, sebab ia mampu membedakan pendapat mujtahidin dan dalil-dalilnya, meski dengan catatan: "sejauh kemampuan saya". Al-Buthi rhencoba mengangkat contoh kasus yang akan menunjukkan kekeliruan cara pandang sepertl itu).

Talak Tiga: Contoh Kasus 

Al-Bouti : Kami mendengar Anda telah berfatwa bahwa talak tiga yang dljatuhkan dalam satu kesempatan yang jatuh satu talak saja. Apakah sebelum menyampai-kan fatwa Anda talah meneliti pertdapat para Imam madzhab serta dalil-dalil me¬reka, kemudian Anda memilih salah satu dari pendapat mereka lalu baru Anda berfatwa?
Ketahullah bahwa Uwalmlr Al-ljlanl telah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya di hadapan Rasulullah SAW. Se-telah ia bersumpah li’an dangan istrinya, ia barkata, "Saya jadi berbohong kepadanya, ya Rasulullah, blla saya menahannya, dan saya jatuhkan talak tiga." Bagaimana pengetahuan Anda tentang hadlts inl dan kedudukannya dalam masalah Ini, serta pengertianya menurut madzhab sebagian besar ulama dan menurut madzhab Ibnu Taimiyyah?


Al-Bani:Saya belum pernah melihat hadits Ini.


Al-Bouti : Bagaimana Anda bisa memfatwakan suatu masalah yang bertentangan dengan apa yang telah disepakati keempat imam madzhab, padahal Anda belum mengetahui dallil-dalil mereka, serta tingkatan kekuatan dalll-dalltnya? Kalau begitu Anda telah menlnggalkan prinsip yang Anda anut, yaitu ittiba', menurut istilah yang Anda katakan sendiri. (Ya, jawaban Al-Albani bertentangan dengan pemyataan awalnya sendiri, "Saya akan meneliti pendapat para imam mujtahid serta dalil-dalilnya, kemudian saya mengambil keterangan yang paling mendekati dalil Al-Qur'an dan sunnah." Berikutnya, la pun memberikan alasan akan hal itu).

Al-Bani:Pada waktu itu saya tidak memiliki kitab yang cukup untuk melihat dalil dari imam-imam madzhab.

Al-Bouti : Kalau begitu apa yang mendorong Anda tergesa-gesa memberi fatwa yang menyelisihi pendapat jumhur kaum muslimin padahal Anda belum memeriksa dalil-dalll mereka?

Al-Bani: Apa yang harus saya perbuat ketika saya ditanya mengenai masalah tersebut sedangkan kitab yang ada pada saya terbatas sekali?

Al-Bouti : Sesungguhnya cukup bagi Anda untuk mengatakan "Saya tidak tahu tertang masalah ini", atau Anda terangkan saja pendapat madzhab empat kepada si penanya serta pendapat mereka yang berbeda dengan madzhab empat imam harus memberlkan fatwa kepadanya dangan salah satu pendapat yang demikian ini sudah cukup untuk Anda dan memang sampai di situlah kewajlban anda. Apatah lagi masalah itu tidak langsung berkaitan dengan diri Anda mengapa bisa sampai Anda berfatwa dengan pendapat yang menyalahi Ijma' keempat imam tanpa mengetahui dalil-dalil yang dijadlkan hujjah oleh mereka, dengan Anda menganggap cukup pada dalil yang ada di plhak yang bertentangan dengan madzhab yang empat. Anda berada di puncak kefanatikan sebagaimana yang selalu Anda tuduhkan kepada kami.

Al-Bani: Saya telah menelaah pendapat ke-empat-empat imam dalam Subul as-Salam, karya Asy-Syaukani, dan Flqh as-Sunnah, karya Sayyid Sabiq.

Al-Bouti : Kitab yang Anda sebutkan adalah kitab yang memusuhi keempat imam madzhab dalam masalah ini. Apakah Anda rela menjatuhkan hukuman kepada salah seorang tertuduh hanya dengan mendengarkan keterangan saksi-saksi dan keluarganya tanpa mendengarkan keterangan lain dari tertuduh?

Al-Bani:Saya kira, apa yang telah saya lakukan tak patut dicela. Saya telah berfatwa kepada orang yang bertanya, dan itulah batas kemampuan pemahaman saya.
Al-Bouti : Anda telah menyatakan sebagai muttabi dan kita semua hendaknya menjadi muttabi'. Anda telah menafsirkan bahwa ittiba' ialah meneliti semua pendapat madzhab dan mempelajari dalil-dalil yang dikemukakan, ialu mengambil mana yang paling mendekati dalil yang benar. Namun apa yang telah Anda lakukan ternyata bertolak belakang.
Anda mengetahui, madzhab yang empat telah ijma’ bahwa talak yang dijatuhkan tiga sekaligus berarti jatuh tiga. Anda mengetahui bahwa keempat imam madzhab mempunyai dalil tentang masalah ini, hanya saja Anda belum mendapatinya. Namun demikian, Anda berpaling dari ijma' mereka dan mengambil pendapat yang sesuai dengan keinginan Anda. Apakah Anda sejak mula telah yakin bahwa dalil-dalil keempat imam madzhab ttu tidak dapat diterima?


Al-Bani:Tldak, cuma saya tidak mendapal nya karena saya tidak memiliki kitab-kitab tersebut.

Al-Bouti : Mengapa Anda tidak mau menunggu? Mengapa Anda tergesa-gesa pada-hal Allah SWT tidak memaksakan Anda untuk berbuat demikian? Apakah karena Anda tldak mendapati dalil-dalil -para ulama jumhur yang dapat digunakan sebagai alasan untuk menguatkan pendapat Ibnu Taimlyyah? Apakah fanatik yang Anda anggap dusta itu tidak lain ialah apa yang Anda telah lakukan?

Al-Bani:Pada kitab-kitab yang ada pada saya, saya telah mendapatkan dalil-dalil yang cukup memuaskan dan Allah tidak membebani saya lebih dari itu.

Al-Bouti : Apabila seorang muslim mendapati satu dalil dalam kitab yang dibacanya, apakah cukup dengan dalil tersebut ia meninggalkan semua mazhab yang berbeda dengan pemahamannya sekalipun ia belum mendapati dalil-daiil madzdzhab-madzhab tersebut?

Al-Bani: Ya, cukup.

Seorang Muallaf; sebuah analog
Al-Bouti :Ada seorang pemuda yang baru saja memeluk agama Islam, la sama sekali tak mengetahui pendldlkan agama Islam, Laiu ia membaca firman Allah 'Azza wa Jaffa, yang artinya, "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat; maka ke mana pun kamu menghadap, dsitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (Rahmat-Nya) lagi) Maha Mengetahui." QS Al-Baqarah 115. Pemuda tersebut lalu beranggapan bahwa setiap orang yang hendak shalat boleh menghadap ke arah mana saja sebagaimana dttunjukkan oleh zhahirnya redaksi ayat Al-Quran Itu.
Kemudian ia mendengar bahwa keempat imam madzhab telah bersepakat bahwa seorang yang shalat harus meng¬hadap Ka'bah. la sadar, para imam mempunyal dalil untuk masalah ini, hanya saja ia belum mendapatlnya. Apakah yang harus dilakukan oleh pemuda tersebut sewaktu la hendak mengerjakan shalat? Apakah cukup dengan menglkutl panggiian hatinya karena la telah menemukan ayat Al-Qur'an tersebut, atau ia harus menglkutl pendapat para imam yang berbeda dengan pemahamannya?


Al-Bani: Cukup dengan menglkuti panggilan hatinya.

Al-Bouti :Meskipun dengan menghadap ke arah tlmur misalnya? Apakah shalatnya dianggap sah?

Al-Bani:Ya, karena ia wajib menglkuti panggilan hatinya.

Al-Bouti :Andai kata panggilan hati pemuda itu mengilhaml dlrinya sehingga ia merasa tidak apa-apa berbuat zina dengan istri tetangganya, memenuhi perutnya dengan khamar dan merampas harta manusla tanpa hak, apakah Allah akan memberlkan syafa'at kepadanya lantaran panglllan hatinya itu?

(Terdiam sejenak, laiu berkata): Al-Bani: Sebenarnya contoh-contoh yang Tuan tanyakan hanyalah khayalan dan tidak ada buktinya.

Al-Bouti : Bukan khayalan atau dugaan semata-mata, bahkan selalu terjadl hal se-perti itu ataupun lebih aneh lagi.

Bagaimana tidak begitu, seorang pemuda yang tak punya kelayakan pengetahuan tentang Islam, Al-Qur’an dan sunnah, kemudian membaca sepotong ayat Al-Qur'an yang ia pahami menurut apa adanya. la kemudian berpendapat boleh saja shalat menghadap ke arah mana saja meskipun ia tahu bahwa shalat harus menghadap kiblat. Pada kasus Ini apakah Anda tetap berpendirian bahwa shalatnya sah karena manganggap cufcup dengan aclanya bisikan hati nurani atau panggilan jiwa si pemuda tersebut?
Di samping itu, menurut Anda, bisikan hati, panggiian jiwa, dan kepuasan moril dapat memutuskan segala urusan (dijadikan sumbar untuk mangeluarkan hukum). Kenyataan ini jeias bertantangan dengan prinsip Anda bahwa manusia terbagi atas tiga kelompok: mujtahid, muqallid, dan muttabi’ (karena dengan modal panggilan hati itu nyatanya semua manusia adalah muttabi’/mujtahld, termasuk si muallaf tadi).


Al-Bani:Semestinya pemuda itu membahas dan meneliti. Apakah ia tidak mambaca hadits atau ayat lainnya?


Al-Bouti :la tidak memiliki cukup bahan untuk mambahas sebagaimana halnya Anda ketika membahas ihwal masalah talak. ia tak sempat membaca ayat-ayat lain yang berhubungan dengan masalah kiblat selain di atas. Dalam hal ini apakah ia tetap harus mengikuti bisikan hatinya dengan meninggalkan ljma' para ulama?
Al-Bani:Memang seharusnya begitu kalau ia tidak mampu membahas dan menganalisis. Baginya cukuplah berpegang pada hasil pikirannya sendiri dan ia tidaklah salah.

(Pandangan ini jelas manyimpan potensi yang membahayakan. Itulah mengapa Ai-Buthi sampai menulis sebuah kitab berjudul Al-la Madzhabiyah Akhthar Bid'ah Tuhaddid asy-Sari'ah al-lslam-iyah - Paham tak Bermadzhab adalah Bid'ah Paling Barbahaya yang dapat Menghancurkan Syariat islam. Betapa tidak? Bayangkan saja, saandainya para muallaf atau orang-orang islam awam membuka lembaran-lembaran AI-Quran, lalu membaca Surah At-Tawbah ayat ke-5, yang artinya, "Bunuhlah mereka (orang-orang musyrik) di mana saja kamu menjumpai mereka", atau ayat-ayat yang redaksinya semacam Itu, lalu orang-orang tersebut tak mau bertanya kepada yang lebih paham tentang makna ayat tersebut dan serta merta bertekad bulat akan memenuhl panggiian hatinya untuk “menjalankan perintah Allah" ini, dapatkah Anda membayangkan apa yang akan terjadi?
Tak aneh bila banyak pengamat menllai bahwa embrio radikalisme acap bermula dari paham ala tekstualis seperti ini. Rupanya matoda pokok istinbath (penylmpulan) hukum salah satu tokoh pemuka al-la madzhabiyyah (non-mazhab) Ini adalah mengikuti panggiian hati. Dan cocoklah klranya bila klta menamai madzhab" ala Al-Albani Ini dangan madzhab panggiian hati”).

Al-Bouti :Ucapan Anda ini amat sangat berbahaya dan mengejutkan. Kami akan siarkan.

Al-Bani:Silakan Tuan menyiarkan pendapat saya dan saya tidak takut.

Al-Bouti :Bagalmana Anda akan takut kepada saya sedangkan Anda tldak takut kepada Allah SWT? Sesungguhnya dengan ucapan tersebut Anda telah membuang firman Allah SWT, yang artinya, "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mangetahuf - OS-An Nahi: 43.
Al-Bani: Tuan, para imam tidaklah ma’shum - terpelihara dari kesalahan. Bolehkah ia (si muallaf) meninggalkan yang ma'shum (Maksudnya nash-nash agama sepertl Al qur’an dan hadlts Rasulullah SAW) dan berpegang pada orang yang tidak ma'shum? 


Al-Bouti :Yang terpelihara dari kesalahan adalah makna yang hakiki yang dikehendaki Allah Azza wa Jaila daiam firman-Nya, yang artinya, “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat" Akan tetapi pemahaman pemuda yang jauh sekali dari pendidikan Islam sama sekali tidak ma'shum?
jadi masalahnya ialah perbandingan antara dua pemahaman, yaitu pemahaman atau pemikiran seorang pemuda yang jahil dengan pemahaman atau pemikiran para Imam mujtahiddln, yang keduanya tidak ma'shum. Perbedaannya hanyalah yang satu terlalu jahil dan yang satu lagi sangat dalam ilmunya.

Al-Bani:Sesungguhnya Allah SWT tidak membebaninya melebihi kemampuannya.

Dokter don Brosur: Analog! Lainnya

Al-Bouti :Tolong Jawab pertanyaan ini. Sese orang mempunyai anak kecil yang sedang saklt panas. Menurut saran semua dokter yang ada di kota Itu, la harus diberi obat khusus dan mereka melarang orangtua ai anak untuk mengobatinya dengan antlbiotik. Mereka pun telah memberi tahu kepada orangtua si anak bahwa, sekiranya saran ini dilanggar, mungkin saja Itu menyebabkan kematian si anak, Suatu ketika si orangtua membaca selebaran brosur ks\esehatan dan manemukan keterangan bahwa antibiotik terkadang barmanfaat untuk mengobati saklt panas. Berdasarkan isi selebaran itu, orangtua tersebut tidak memperhatikan lagi saran dokter, Dengan panggilan hatinya, ia merawat anaknya dengan antibiotik hingga mangakibatkan kematian si anak, Dengan tindakan ini, apakah orangtua tersebut berdosa atau tidak?

Al-Bani: Saya kira, masalah itu lain dengan masalah ini dan maksudnya pun berbeda dengan persoalan yang sectang kita bicarakan. (Di sini tampaknya Al-Albani gagal menangkap analogi yang sederhana Ini. Lalu, bagalmana ia mampu membanding-kan hujjah-huijah para imam madzhab?)

Al-Bouti :Masalah ini pada hakikatnya sama dengan hat yang tengah kita bicarakan.
Coba Anda perhatikan. Orangtua tersebut sudah mendengarkan ijma (kesepakatan) para dokter, sebagaimana pe¬muda tadi juga telah mendengar ijma' para ulama. Akan tetapi lantaran tak tahu landasan dan teori-teori medis dunia kedokteran) orangtua itu bepegang pada brosur kesehatan yang ia baca dan hatinya kemudian condong padanya, sebagalmana pemuda tersebut melaksanakan panggilan hatinya.


Al-Bani:Tuan, Al-Quran adalah nur (cahaya). Nur AI-Qur'an tidak dapat disamakan dengan yang lain. 


Al-Bouti :Apakah pantulan cahaya Al-Qur'an itu dapat dipahami oleh setiap yang membaca Al-Qur'an dengan pemahaman yang tepat sebagaimana yang dlkehendakl Allah SWT? Kalau begitu, apa bedanya antara ahli ilmu dan yang bukan ahli ilmu dalam menerima cahaya Al-Qur'an?
Al-Bani:Panggilan hati adalah yang paling asas/pokok,

Al-Bouti :Orangtua tersebut telah melaksanakan panggilan hatinya hingga menyebabkan kematian anaknya. Apakah ada pertanggungjawaban bagl orangtua itu baik dari sagi syari'at maupun tuntunan hukum?

Al-Bani:Dia tidak dituntut apa-apa. 

Al-Bouti :Dengan pernyataan Anda seperti ini, saya kira diskusi ini kita cukupkan saja sampai di sinl. Sudah putus jalan untuk menemukan pendapat kami dengan Anda. Dengan Jawaban Anda yang sangat ganjil itu, cukuplah kiranya kalau Anda talah kaluar dari ijma' kaum muslimin.

(Demikian ucap Al-Buthl mengakhiri diskusinya dengan Al-Albani. Dari jawaban terakhir Al-Albani, tampaknya Al-Buthi telah menangkap sesuatu sehingga ia merasa tak perlu lagi memperpanjang pembicaraan).
Sumber: Majalah Alkisah 

ุงู„ุซู„ุงุซุงุก، 9 ุฃุจุฑูŠู„ 2013

12. ูƒุชุงุจ ุงู„ุตู„ุงุฉ: Kenapa bacaan qunut "Fainnaka taqdi" sampai "Astaghfiruka" dibaca pelan

Pertanyaan :
Aku mau numpang tanya lagi, kenapa kok do'a qunut pas "fa innaka taqdli" sampai dengan "astaghfiruka" imam selalu pelan suaranya ?
Tolong dikasih penjelasan dan ta'birnya, suwun

( Dari : Bang Choiry )


Jawaban :
Bacaan qunut mulai dari "Fainnaka taqdhi wala yuqdho 'alaik" sampai sebelum "astaghfiruka wa'atubu ilaik" adalah bentuk dzikir dan pujian bagi Alloh subhanahu wata'ala, bukan merupakan do'a, bagi ma'mum diperbolehkan diam ketika imam membacanya atau ikut membacanya bersama imam, namun yang lebih utama adalah ma'mum ikut membacanya. Nah, karena ma'mum dianjurkan untuk ikut membacanya, maka imam tidak perlu membacanya dengan keras, cukup dibaca dengan pelan seperti halnya dzikir-dzikir lain yang sama-sama dibaca oleh imam dan ma'mum (seperti bacaan tasbih ketika rukuk dan sujud). Namun menurut sebagian ulama' imam tetap membacanya dengan keras seperti halnya saat berdo'a meminta rohmat dan dijauhkan dari neraka atau yang lainnya.

Jadi sebenarnya masalah ini masih diperselisihkan diantara ulama', sebagian ulama' tetap menganjurkan bagi imam untuk membacanya dengan keras, sedangkan menurut sebagian ulama' menganjurkan untuk membacanya dengan pelan karena imam dan ma'mum sudah membacanya sendiri-sendiri. Wallohu a'lam.

( Oleh : Siroj Munir )


Referensi :
1. Al-Majmu', Juz : 3  Hal : 502
2. Nihayatul Muhtaj, Juz : 1  Hal : 507


Ibarot :
Al-Majmu', Juz : 3  Hal : 502

ูˆุฃู…ุง ุงู„ุซู†ุงุก ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ู‡ ูุฅู†ูƒ ุชู‚ุถูŠ ูˆู„ุง ูŠู‚ุถู‰ ุนู„ูŠูƒ ุฅู„ู‰ ุขุฎุฑู‡ ููŠุดุงุฑูƒู‡ ููŠ ู‚ูˆู„ู‡ ุฃูˆ ูŠุณูƒุช ูˆุงู„ู…ุดุงุฑูƒุฉ ุฃูˆู„ู‰ ู„ุฃู†ู‡ ุซู†ุงุก ูˆุฐูƒุฑ ู„ุง ูŠู„ูŠู‚ ููŠู‡ ุงู„ุชุฃู…ูŠู†

Nihayatul Muhtaj, Juz : 1  Hal : 507

ูˆ) ุฃู†ู‡ (ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ุซู†ุงุก) ุณุฑุง ูˆู‡ูˆ ู…ู† ูุฅู†ูƒ ุชู‚ุถูŠ ุฅู„ู‰ ุขุฎุฑู‡، ุฃูˆ ูŠุณุชู…ุน ู„ู‡ ู„ุฃู†ู‡ ุซู†ุงุก ูˆุฐูƒุฑ ู„ุง ูŠู„ูŠู‚ ุจู‡ ุงู„ุชุฃู…ูŠู† ูˆุงู„ู…ุดุงุฑูƒุฉ ุฃูˆู„ู‰ ูƒู…ุง ููŠ ุงู„ู…ุฌู…ูˆุน، ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ูŠุคู…ู† ููŠู‡ ุฃูŠุถุง، ูˆุฅุฐุง ู‚ู„ู†ุง ุจู…ุดุงุฑูƒุชู‡ ููŠู‡ ูููŠ ุฌู‡ุฑ ุงู„ุฅู…ุงู… ุจู‡ ู†ุธุฑ، ูŠุญุชู…ู„ ุฃู† ูŠู‚ุงู„: ูŠุณุฑ ุจู‡ ูƒู…ุง ููŠ ุบูŠุฑู‡ ู…ู…ุง ูŠุดุชุฑูƒุงู† ููŠู‡، ูˆูŠุญุชู…ู„ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฃูˆุฌู‡ ุงู„ุฌู‡ุฑ ุจู‡ ูƒู…ุง ุฅุฐุง ุณุฃู„ ุงู„ุฑุญู…ุฉ ุฃูˆ ุงุณุชุนุงุฐ ู…ู† ุงู„ู†ุงุฑ ูˆู†ุญูˆู‡ุง ูุฅู† ุงู„ุฅู…ุงู… ูŠุฌู‡ุฑ ุจู‡ ูˆูŠูˆุงูู‚ู‡ ููŠู‡ ุงู„ู…ุฃู…ูˆู… ูˆู„ุง ูŠุคู…ู† ูƒู…ุง ู‚ุงู„ู‡ ููŠ ุงู„ู…ุฌู…ูˆุน

11. ูƒุชุงุจ ุงู„ุตู„ุงุฉ: Sholat Yang bisa dikerjakan diatas kendaraan

Pertanyaan :
Assalamualaikum
Shalat apa sajakah yang bisa dilakukan didalam kendaraan..?
Tolong sertakan pula referensinya ya....
Terima kasih,

( Dari : Ibnu Malik )


Jawaban :
Wa’alaaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Sholat yang bisa dilakukan diatas kendaraan adalah sebagai berikut :

1. Sholat sunat
Semua sholat sunat, termasuk sholat rowatib (sholat sunat qobliyah dan ba’diyah) bisa dikerjakan diatas kendaraan tanpa harus menghadap kiblat, jadi sholatnya menghadap ke arah tujuan kendaraan itu berjalan. Dalilnya adalah beberapa hadits nabi, diantaranya hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar :

ูƒَุงู†َ ูŠُุตَู„ِّูŠ ุณُุจْุญَุชَู‡ُ ุญَูŠْุซُู…َุง ุชَูˆَุฌَّู‡َุชْ ุจِู‡ِ ู†َุงู‚َุชُู‡ُ

“Sesungguhnya Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan sholat sunnah kearah manapun hewan tunggangannya menghadap.” (Shohih Muslim, no.700)

2. Sholat fardhu
Sholat wajib 5 waktu juga boleh dikerjakan diatas kendaraan apabila kendaraannya sedang berhenti, sholatnya bisa dikerjakan dengan sempurna dan dikerjakan dengan menghadap kiblat. Sedangkan apabila kendaraannya berjalan maka tidak diperbolehkan. Diantara dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari jabir bin Abdulloh :

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠُุตَู„ِّูŠ ุนَู„َู‰ ุฑَุงุญِู„َุชِู‡ِ، ุญَูŠْุซُ ุชَูˆَุฌَّู‡َุชْ ูَุฅِุฐَุง ุฃَุฑَุงุฏَ ุงู„ูَุฑِูŠุถَุฉَ ู†َุฒَู„َ ูَุงุณْุชَู‚ْุจَู„َ ุงู„ู‚ِุจْู„َุฉَ

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mengerjakan sholat diatas tunggangannya kemanapun menghadapnya, dan jika beliau hendak mengerjakan sholat fardhu beliau turun kemudian (sholat dengan) menghadap kiblat.” (Shohih Bukhori, no.400)

Wallohu a’lam.

( Dijawab oleh : Farid Muzakki, Kudung Khantil Harsandi Muhammad dan Siroj Munir )


Referensi :
1. Fathul Wahhab, Juz : 1  Hal : 42 – 43
2. Fathul wahhab, Juz : 1  Hal : 44


Ibarot :
Fathul Wahhab, Juz : 1  Hal : 42 – 43

ูู„ู…ุณุงูุฑ) ุณูุฑุง ู…ุจุงุญุง (ุชู†ูู„) ูˆู„ูˆ ุฑุงุชุจุง ุตูˆุจ ู…ู‚ุตุฏู‡ ูƒู…ุง ูŠุนู„ู… ู…ู…ุง ูŠุฃุชูŠ (ุฑุงูƒุจุง ูˆู…ุงุดูŠุง) «ู„ุฃู†ู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ูƒุงู† ูŠุตู„ูŠ ุนู„ู‰ ุฑุงุญู„ุชู‡ ููŠ ุงู„ุณูุฑ ุญูŠุซู…ุง ุชูˆุฌู‡ุช ุจู‡» ุฃูŠ ููŠ ุฌู‡ุฉ ู…ู‚ุตุฏู‡ ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุดูŠุฎุงู† ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ู„ู‡ู…ุง «ุบูŠุฑ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุตู„ูŠ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ู…ูƒุชูˆุจุฉ

Fathul wahhab, Juz : 1  Hal : 44

ูˆู„ูˆ ุตู„ู‰) ุดุฎุต (ูุฑุถุง) ุนูŠู†ูŠุง ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ (ุนู„ู‰ ุฏุงุจุฉ ูˆุงู‚ูุฉ ูˆุชูˆุฌู‡) ุงู„ู‚ุจู„ุฉ (ูˆุฃุชู…ู‡) ุฃูŠ ุงู„ูุฑุถ ูู‡ูˆ ุฃุนู… ู…ู† ู‚ูˆู„ู‡ ูˆุฃุชู… ุฑูƒูˆุนู‡ ูˆุณุฌูˆุฏู‡ (ุฌุงุฒ) ، ูˆุฅู† ู„ู… ุชูƒู† ู…ุนู‚ูˆู„ุฉ ู„ุงุณุชู‚ุฑุงุฑู‡ ููŠ ู†ูุณู‡ (ูˆุฅู„ุง) ุจุฃู† ุชูƒูˆู† ุณุงุฆุฑุฉ ุฃูˆ ู„ู… ูŠุชูˆุฌู‡ ุฃูˆ ู„ู… ูŠุชู… ุงู„ูุฑุถ (ูู„ุง) ูŠุฌูˆุฒ ู„ุฑูˆุงูŠุฉ ุงู„ุดูŠุฎูŠู† ุงู„ุณุงุจู‚ุฉ ูˆู„ุฃู† ุณูŠุฑ ุงู„ุฏุงุจุฉ ู…ู†ุณูˆุจ ุฅู„ูŠู‡ ุจุฏู„ูŠู„ ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุทูˆุงู ุนู„ูŠู‡ุง ูู„ู… ูŠูƒู† ู…ุณุชู‚ุฑุง ููŠ ู†ูุณู‡

10. ูƒุชุงุจ ุงู„ุตู„ุงุฉ: Hukum menjawab adzan yang bersamaan atau silih berganti

Pertanyaan :
Assalamualaikum
Ustadz mohon dibantu,
Kan kita ketahui bahwa perkara menjawab panggilan adzan adalah fardhu kifayah
bagaiaman ketika misal dalm suatu kampung banyak yang adzan dan kadang posisinya tidak bersamaan hingga ketika misal kita sudah menjawab adzan yang pertama. Apa tetap kita wajib menjawab adzan di mesjid yang lain karena kekawatiran tidak ada yang mejawab ?

( Dari : Restu Iqbaliyahh Ginanjar )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Pertama, Perlu diketahui bahwa hukum menjawab adzan menurut madzhab Syafi'i dan mayoritas ulama' adalah sunat, kecuali menurut pendapat sebagian ulama' salaf yang mewajibkannya. Dalil kesunatan menjawab adzan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdulloh bin Amr bin Ash rodhiyallohu 'anhu;

ุฅِุฐَุง ุณَู…ِุนْุชُู…ُ ุงู„ْู…ُุคَุฐِّู†َ، ูَู‚ُูˆู„ُูˆุง ู…ِุซْู„َ ู…َุง ูŠَู‚ُูˆู„ُ

"Jika kalian mendengar orang yang sedang adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan." (Shohih Muslim, no.384)

Kedua, Apabila terdengar suara adzan secara bersamaan, maka yang sunat dijawab adalah salah satu dari adzan tersebut.

Ketiga, Apabila suara adzan yang didengar itu banyak namun bergantian, maka semuanya sunat untuk dijawab, hanya saja adzan yang pertama didengar yang lebih dikuatkan kesunatannya untuk dijawab dan makruh apabila tidak dijawab.

( Dijawab oleh : Kudung Khantil Harsandi Muhammad, Siroj Munir dan Achmad Al-fandaniy )


Referensi :
1.Al-Majmu', Juz : 3 Hal : 119
2. Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 174
3. Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 308-309


Ibarot :
Al-Majmu', Juz : 3 Hal : 119

ูุฑุน : ุฅุฐุง ุณู…ุน ู…ุคุฐู†ุง ุจุนุฏ ู…ุคุฐู† ู‡ู„ ูŠุฎุชุต ุงุณุชุญุจุงุจ ุงู„ู…ุชุงุจุนุฉ ุจุงู„ุฃูˆู„ ุฃู… ูŠุณุชุญุจ ู…ุชุงุจุนุฉ ูƒู„ ู…ุคุฐู† ููŠู‡ ุฎู„ุงู ู„ู„ุณู„ู ุญูƒุงู‡ ุงู„ู‚ุงุถูŠ ุนูŠุงุถ ููŠ ุดุฑุญ ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… ูˆู„ู… ุฃุฑ ููŠู‡ ุดูŠุฆุง ู„ุฃุตุญุงุจู†ุง ูˆุงู„ู…ุณุฃู„ุฉ ู…ุญุชู…ู„ุฉ ูˆุงู„ู…ุฎุชุงุฑ ุฃู† ูŠู‚ุงู„ ุงู„ู…ุชุงุจุนุฉ ุณู†ุฉ ู…ุชุฃูƒุฏุฉ ูŠูƒุฑู‡ ุชุฑูƒู‡ุง ู„ุชุตุฑูŠุญ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญุฉ ุจุงู„ุฃู…ุฑ ุจู‡ุง ูˆู‡ุฐุง ูŠุฎุชุต ุจุงู„ุฃูˆู„ ู„ุฃู† ุงู„ุฃู…ุฑ ู„ุง ูŠู‚ุชุถูŠ ุงู„ุชูƒุฑุงุฑ ูˆุฃู…ุง ุฃุตู„ ุงู„ูุถูŠู„ุฉ ูˆุงู„ุซูˆุงุจ ููŠ ุงู„ู…ุชุงุจุนุฉ ูู„ุง ูŠุฎุชุต ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…
ูุฑุน : ู…ุฐู‡ูŠู†ุง ุฃู† ุงู„ู…ุชุงุจุนุฉ ุณู†ุฉ ู„ูŠุณุช ุจูˆุงุฌุจุฉ ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูˆุญูƒู‰ ุงู„ุทุญุงูˆูŠ ุฎู„ุงูุง ู„ุจุนุถ ุงู„ุณู„ู ููŠ ุฅูŠุฌุงุจู‡ุง ูˆุญูƒุงู‡ ุงู„ู‚ุงุถูŠ ุนูŠุงุถ

Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 174

ูˆ) ุณู†. (ู„ุณุงู…ุนู‡ู…ุง) ุฃูŠ: ู„ุณุงู…ุน ุงู„ู…ุคุฐู† ูˆุงู„ู…ู‚ูŠู… ู‚ุงู„ูˆุง، ูˆู„ูˆ ู…ุญุฏุซุง ุญุฏุซุง ุฃูƒุจุฑ. (ู…ุซู„ ู‚ูˆู„ู‡ู…ุง) ู„ุฎุจุฑ ู…ุณู„ู… «ุฅุฐุง ุณู…ุนุชู… ุงู„ู…ุคุฐู† ูู‚ูˆู„ูˆุง ู…ุซู„ ู…ุง ูŠู‚ูˆู„ ุซู… ุตู„ูˆุง ุนู„ูŠ» ูˆูŠู‚ุงุณ ุจุงู„ู…ุคุฐู† ุงู„ู…ู‚ูŠู… ูˆู‡ูˆ ู…ู† ุฒูŠุงุฏุชูŠ
...................................
ู‚ูˆู„ู‡: ุฃูŠ: ู„ุณุงู…ุน ุงู„ู…ุคุฐู† ูˆุงู„ู…ู‚ูŠู…) ูู„ูˆ ูƒุซุฑ ุงู„ู…ุคุฐู†ูˆู† ู‚ุงู„: ุงุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุณู„ุงู… ูŠุฌูŠุจ ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ุจุฅุฌุงุจุฉ ู„ุชุนุฏุฏ ุงู„ุณุจุจ ูˆุฅุฌุงุจุฉ ุงู„ุฃูˆู„ ุฃูุถู„ ุฅู„ุง ููŠ ุงู„ุตุจุญ ูˆุงู„ุฌู…ุนุฉ ูู‡ู…ุง ุณูŠุงู†؛ ู„ุฃู†ู‡ู…ุง ู…ุดุฑูˆุนุงู† ู… ุฑ ูุฅู† ุฃุฐู†ูˆุง ู…ุนุง ูƒูู‰ ุฅุฌุงุจุฉ ูˆุงุญุฏ ู…ู†ู‡ู… ูˆู„ุง ุชุณู† ุฅุฌุงุจุฉ ุฃุฐุงู† ู†ุญูˆ ุงู„ูˆู„ุงุฏุฉ ูˆุชุบูˆู„ ุงู„ุบูŠู„ุงู† ูˆู„ูˆ ุซู†ู‰ ุญู†ููŠ ุฃู„ูุงุธ ุงู„ุฅู‚ุงู…ุฉ ุฃุฌูŠุจ ู…ุซู†ู‰ ุณู… ุดูˆุจุฑูŠ

Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 308-309

ูˆุฅุฐุง ุณู…ุน ู…ุคุฐู†ุง ุจุนุฏ ู…ุคุฐู† ูุงู„ู…ุฎุชุงุฑ ุฃู† ุฃุตู„ ุงู„ูุถูŠู„ุฉ ููŠ ุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ุดุงู…ู„ ู„ู„ุฌู…ูŠุน ุฅู„ุง ุฃู† ุงู„ุฃูˆู„ ู…ุชุฃูƒุฏ ูŠูƒุฑู‡ ุชุฑูƒู‡ ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุนุฒ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุณู„ุงู… ุฅู† ุฅุฌุงุจุฉ ุงู„ุฃูˆู„ ุฃูุถู„ ุฅู„ุง ุฃุฐุงู†ูŠ ุงู„ุตุจุญ ูู„ุง ุฃูุถู„ูŠุฉ ููŠู‡ู…ุง ู„ุชู‚ุฏู… ุงู„ุฃูˆู„ ูˆูˆู‚ูˆุน ุงู„ุซุงู†ูŠ ููŠ ุงู„ูˆู‚ุช ูˆุฅู„ุง ุฃุฐุงู†ูŠ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ู„ุชู‚ุฏู… ุงู„ุฃูˆู„ ูˆู…ุดุฑูˆุนูŠุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠ ููŠ ุฒู…ู†ู‡ - ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… - ูˆู…ู…ุง ุนู…ุช ุจู‡ ุงู„ุจู„ูˆู‰ ู…ุง ุฅุฐุง ุฃุฐู† ุงู„ู…ุคุฐู†ูˆู† ูˆุงุฎุชู„ุทุช ุฃุตูˆุงุชู‡ู… ุนู„ู‰ ุงู„ุณุงู…ุน ูˆุตุงุฑ ุจุนุถู‡ู… ูŠุณุจู‚ ุจุนุถุง. ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุจุนุถู‡ู… ู„ุง ุชุณุชุญุจ ุฅุฌุงุจุฉ ู‡ุคู„ุงุก ูˆุงู„ุฐูŠ ุฃูุชู‰ ุจู‡ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุฒ ุงู„ุฏูŠู† ุฃู†ู‡ ูŠุณุชุญุจ ุฅุฌุงุจุชู‡ู… ุงู‡ู€ ุดุฑุญ ู… ุฑ ูˆููŠ ู‚ ู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู„ุงู„، ูˆุฃู…ุง ุงู„ุฃุฐุงู† ุงู„ุฃูˆู„ ููŠ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูู‚ุฏ ุญุฏุซ ููŠ ุฒู…ุงู† ุงู„ุฅู…ุงู… ุนุซู…ุงู† - ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู†ู‡
http://fiqhkontemporer99.blogspot.com

9. ูƒุชุงุจ ุงู„ุตู„ุงุฉ: Langkah-langkah yang dilakukan wanita yang mengeluarkan darah istihadhoh sebelum sholat

Pertanyaan :
Asslmu'alaikum wr.wb..
Bagaimanakah langkah yang harus dilakukan seorang wanita yang sedang mengeluarkan drh istiqadh, cukup dengan membersihkan darahnya kemudian berwudhu atau harus mandi karena hadas besar setiap kali mau sholat, wanita tersabut cukup mengerjakan ibadah yang wajib aja atau boleh mengerjakan juga yang sunah?
Mohon referensinya. terimakasih

( Dari : Bilqis Aulia Jasmine )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Wanita yang sedang mengeluarkan darah istihadhoh tidak perlu mandi, sebelum melakukan sholat, cukup membersihkan darahnya dan wudhu, setelah itu mengerjakan sholat. Sholat yang boleh dikerjakan dengan wudhunya hanya satu sholat fardhu, sedangkan untuk sholat sunat tidak dibatasi, boleh mengerjakan beberapa sholat sunat dengan satu wudhu.

Secara rinci, langkah-langkah yang harus dilakukan oleh wanita yang sedang mengeluarkan darah haidh sebelum melakukan sholat adalah sebagai berikut ;

1. Menyucikan badan atau pakaian yang terkena darah.

2. Menaruh semisal kapas pada tempat keluarnya darah untuk menyumbat darahnya agar tidak keluar. Namun menaruh kapas pada tempat keluarnya darah itu tidak boleh dilakukan orang yang sedang puasa, karena dapat membatalkan puasanya, begitu juga hal tersebut tidak wajib dilakukan bagi wanita yang merasa sakit apabila menaruh kapas pada tempat keluarnya darah. Apabila kapas itu tidak cukup bisa mencegah darah keluar maka wajib menambahkan kain atau pembalut .

3.Setelah itu, jika waktu sholat sudah masuk, diwajibkan segera berwudhu, dan wudhunya harus dilakukan setelah waktu sholat masuk, tidak boleh dilakukan sebelum masuknya waktu sholat. Ada dua hal yang membedakan antara wudhu wanita istihadhoh dan wudhu pada umumnya, yaitu :

•    A.Niat wudhunya tidak seperti wudhu pada umumnya yang menggunakan niat "lirof'il hadatsi" (untuk menghilangkan hadats), karena wudhunya wanita yang sedang mengeluarkan darah istihadhoh tidak menghilangkan maka niat wudhunya sebelum melakukan sholat adalah :

NAWAITUL WUDHU'A LISTIBAHATIS SHOLATI FARDHON LILLAHI TA'ALA

"Saya niat wudhu agar diperbolehkan melakukan sholat..."

Atau bisa juga dengan niat secara umum, maksudnya entah itu mau sholat atau melakukan hal-hal lain yang diharuskan wudhu dahulu, yaitu :

NAWAITUL WUDHU'A LISTIBAHATI MUFTAQIRIN ILA WUDHU'IN FARDHON LILLAHI TA'ALA

"Saya niat wudhu agar diperbolehkan melakukan perkara yang membutuhkan wudhu'..."

•    Ketika wudhu, diwajibkan untuk muwalah (terus menerus) dalam membasuh dan mengusap anggota badannya. Maksud dari muwalah adalah pembasuhan atau pengusapan anggota badan dilakukan sebelum anggota badan yang dibasuh atau diusap sebelumnya kering. Hal ini yang membedakannya dengan wudhu pada umumnya dimana muwalah hukumnya sunah, sedangkan untuk wanita yang sedang mengeluarkan istihadhoh, muwalah dalam wudhu hukumnya wajib.

4. Setelah wudhu, diwajibkan untuk segera melakukan sholat dan tidak boleh mengakhirkannya kecuali apabila mengakhirkannya karena melakukan hal-hal yang berkaitan dengan sholat, seperti menjawab adzan, melakukan sholat sunat qobliyah atau menunggu dimulainya sholat jama'ah.

Semua hal diatas dilakukan setiap kali akan melakukan sholat fardhu, termasuk mengganti kapas dan pembalutnya, atau mencuci kain yang dipakai sebagai pembalut sebelumnya.Dan bila semua hal diatas sudah dilakukan, maka sholat yang dikerjakan sah dan tidak usah mengqodho' (mengulaingi)nya lagi. Wallohu a'lam.

( Dijawab oleh : Siroj Munir )


Referensi :
1. At-Taqrirot Asy-Syadidah, Hal : 171
2. Minhajut Tholibin, Hal : 12
3. Mugnil Muhtaj, Juz : 1  Hal : 281-283


Ibarot :
At-Taqrirot Asy-Syadidah, Hal : 171

ุงู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุนุงู…ุฉ ู„ู„ู…ุณุชุญุงุถุฉ
ุชุฎุชู„ู ุงู„ู…ุณุชุญุงุถุฉ ุนู† ุงู„ุญุงุฆุถ ูˆุงู„ู†ูุณุงุก, ูุงู„ู…ุณุชุญุงุถุฉ ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุฃู† ุชุตู„ูŠ, ูˆุตู„ุงุชู‡ุง ุตุญูŠุญุฉ ูˆู„ุง ู‚ุถุงุก ุนู„ูŠู‡ุง, ูˆุฅุฐุง ุญู„ ุฑู…ุถุงู† ูˆุฌุจ ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุตูˆู…, ูˆูŠุฌูˆุฒ ู„ุฒูˆุฌู‡ุง ุฃู† ูŠุฃุชูŠู‡ุง ูˆู„ูˆ ู…ุน ุณูŠู„ุงู† ุงู„ุฏู…

ุงู„ุฎุทูˆุงุช ุงู„ุชูŠ ุชุชุฎุฐู‡ุง ุงู„ู…ุณุชุญุงุถุฉ ุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏุช ุงู„ุตู„ุงุฉ
ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุฃู† ุชุชุทู‡ุฑ ู…ู† ุงู„ู†ุฌุงุณุฉ ุงู„ุฏู… ูˆุบูŠุฑู‡
ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุฎุดูˆ ููŠ ู…ูˆุถุน ุฎุฑูˆุฌ ุงู„ุฏู… ุจู‚ุทู† ุฃูˆ ู†ุญูˆู‡, ุฅู„ุง ุบุฐุง ูƒุงู†ุช ุชุชุฃุฐู‰, ุฃูˆ ูƒุงู†ุช ุตุงุฆู…ุฉ, ู„ุฃู† ุฐู„ูƒ ูŠูุทุฑู‡ุง, ูˆูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุชุนุตุจ ุฅู† ู„ู… ูŠูƒู ุงู„ุญุดูˆ
ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ู…ุจุงุฏุฑุฉ ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ ุจุงู„ูˆุถูˆุก, ูˆุดุฑุทู‡ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุจุนุฏ ุฏุฎูˆู„ ุงู„ูˆู‚ุช, ูˆุงู„ู…ูˆุงู„ุฉ ููŠู‡
ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ู…ุจุงุฏุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ, ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุชุฃุฎูŠุฑู‡ุง, ุฅู„ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุชุฃุฎูŠุฑ ู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูƒุฅุฌุงุจุฉ ู…ุคุฐู† ูˆู†ุงูู„ุฉ ู‚ุจู„ูŠุฉ ูˆุงู†ุชุธุงุฑ ุฌู…ุงุนุฉ

Minhajut Tholibin, Hal : 12

ูุฑูˆุถู‡ ุณุชุฉ ุฃุญุฏู‡ุง: ู†ูŠุฉ ุฑูุน ุญุฏุซ ุฃูˆ ุงุณุชุจุงุญุฉ ู…ูุชู‚ุฑ ุฅู„ู‰ ุทู‡ุฑ ุฃูˆ ุฃุฏุงุก ูุฑุถ ุงู„ูˆุถูˆุก ูˆู…ู† ุฏุงู… ุญุฏุซู‡ ูƒู…ุณุชุญุงุถุฉ ูƒูุงู‡ ู†ูŠุฉ ุงู„ุงุณุชุจุงุญุฉ ุฏูˆู† ุงู„ุฑูุน ุนู„ู‰ ุงู„ุตุญูŠุญ ููŠู‡ู…ุง

Mugnil Muhtaj, Juz : 1  Hal : 281-283

ูˆุงู„ุงุณุชุญุงุถุฉ ุญุฏุซ ุฏุงุฆู… ูƒุณู„ุณ، ู„ุง ุชู…ู†ุน ุงู„ุตูˆู… ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ، ูุชุบุณู„ ุงู„ู…ุณุชุญุงุถุฉ ูุฑุฌู‡ุง ูˆุชุนุตุจู‡، ูˆุชุชูˆุถุฃ ูˆู‚ุช ุงู„ุตู„ุงุฉ، ูˆุชุจุงุฏุฑ ุจู‡ุง ูู„ูˆ ุฃุฎุฑุช ู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูƒุณุชุฑ ูˆุงู†ุชุธุงุฑ ุฌู…ุงุนุฉ ู„ู… ูŠุถุฑ، ูˆุฅู„ุง ููŠุถุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุตุญูŠุญ ูˆูŠุฌุจ ุงู„ูˆุถูˆุก ู„ูƒู„ ูุฑุถ، ูˆูƒุฐุง ุชุฌุฏูŠุฏ ุงู„ุนุตุงุจุฉ ููŠ ุงู„ุฃุตุญ
...................................
ุซู… ู„ู…ุง ูุฑุบ ู…ู† ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุญูŠุถ ุดุฑุน ููŠ ุจูŠุงู† ุงู„ุงุณุชุญุงุถุฉ ูˆุญูƒู…ู‡ุง ูู‚ุงู„ (ูˆุงู„ุงุณุชุญุงุถุฉ) ูˆู‚ุฏ ุชู‚ุฏู… ุชุนุฑูŠูู‡ุง ูˆูŠุฃุชูŠ ููŠู‡ุง ู…ุฒูŠุฏ ุจูŠุงู†، ูุฅู† ู‚ูŠู„: ู‚ูˆู„ู‡: (ุญุฏุซ ุฏุงุฆู…) ู„ูŠุณ ุญุฏ ุงู„ุงุณุชุญุงุถุฉ ูˆุฅู„ุง ู„ุฒู… ูƒูˆู† ุณู„ุณ ุงู„ุจูˆู„ ุงุณุชุญุงุถุฉ، ูˆู„ูŠุณ ูƒุฐู„ูƒ ูˆุฅู†ู…ุง ู‡ูˆ ุจูŠุงู† ู„ุญูƒู…ู‡ุง ุงู„ุฅุฌู…ุงู„ูŠ ุฃูŠ ุญูƒู… ุงู„ุฏู… ุงู„ุฎุงุฑุฌ ุจุงู„ุตูุฉ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑุฉ ุญูƒู… ุงู„ุญุฏุซ ุงู„ุฏุงุฆู…، ูˆู‚ูˆู„ู‡ (ูƒุณู„ุณ) ุจูุชุญ ุงู„ู„ุงู… ุฃูŠ ุณู„ุณ ุงู„ุจูˆู„ ูˆุงู„ู…ุฐูŠ ูˆุงู„ุบุงุฆุท ูˆุงู„ุฑูŠุญ ู‡ูˆ ู„ู„ุชุดุจูŠู‡ ู„ุง ู„ู„ุชู…ุซูŠู„. ุฃุฌูŠุจ ุจุนุฏู… ู„ุฒูˆู… ู…ุง ุฐูƒุฑ ู„ุฃู†ู‡ ุฅู†ู…ุง ุญูƒู… ุนู„ู‰ ุงู„ุงุณุชุญุงุถุฉ ุจุฃู†ู‡ุง ุญุฏุซ ุฏุงุฆู… ูˆู„ุง ูŠู„ุฒู… ู…ู† ุฐู„ูƒ ุฃู† ุณู„ุณ ุงู„ุจูˆู„ ูˆู†ุญูˆู‡ ุงุณุชุญุงุถุฉ، ูˆู‚ูˆู„ู‡: ูƒุณู„ุณ ู…ุซุงู„ ู„ู„ุญุฏุซ ุงู„ุฏุงุฆู… (ูู„ุง ุชู…ู†ุน ุงู„ุตูˆู… ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ) ูˆุบูŠุฑู‡ู…ุง ู…ู…ุง ูŠู…ู†ุนู‡ ุงู„ุญูŠุถ ูƒุณุงุฆุฑ ุงู„ุฃุญุฏุงุซ؛ ู„ู„ุถุฑูˆุฑุฉ، ูˆู„ุฃู…ุฑู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ุญู…ู†ุฉ ุจู‡ู…ุง ูˆูƒุงู†ุช ู…ุณุชุญุงุถุฉ ูƒู…ุง ุตุญุญู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ. ุซู… ุดุฑุน ููŠ ุจูŠุงู† ุญูƒู…ู‡ุง ุงู„ุชูุตูŠู„ูŠ ูู‚ุงู„: (ูุชุบุณู„ ุงู„ู…ุณุชุญุงุถุฉ ูุฑุฌู‡ุง) ู‚ุจู„ ุงู„ูˆุถูˆุก ุฃูˆ ุงู„ุชูŠู…ู… ุฅู† ูƒุงู†ุช ุชุชูŠู…ู… (ูˆ) ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ (ุชุนุตุจู‡) ุจูุชุญ ุงู„ุชุงุก ูˆุฅุณูƒุงู† ุงู„ุนูŠู† ูˆุชุฎููŠู ุงู„ุตุงุฏ ุงู„ู…ูƒุณูˆุฑุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุดู‡ูˆุฑ ุจุฃู† ุชุดุฏู‡ ุจุนุฏ ุบุณู„ู‡ ุจุฎุฑู‚ุฉ ู…ุดู‚ูˆู‚ุฉ ุงู„ุทุฑููŠู† ุชุฎุฑุฌ ุฃุญุฏู‡ู…ุง ู…ู† ุฃู…ุงู…ู‡ุง ูˆุงู„ุฃุฎุฑู‰ ู…ู† ุฎู„ูู‡ุง ูˆุชุฑุจุทู‡ู…ุง ุจุฎุฑู‚ุฉ ุชุดุฏู‡ุง ุนู„ู‰ ูˆุณุทู‡ุง ูƒุงู„ุชูƒุฉ: ูุฅู† ุงุญุชุงุฌุช ููŠ ุฑูุน ุงู„ุฏู… ุฃูˆ ุชู‚ู„ูŠู„ู‡ ุฅู„ู‰ ุญุดูˆ ุจู†ุญูˆ ู‚ุทู†. ูˆู‡ูŠ ู…ูุทุฑุฉ ูˆู„ู… ุชุชุฃุฐ ุจู‡ ูˆุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุฃู† ุชุญุดูˆ ู‚ุจู„ ุงู„ุดุฏ ูˆุงู„ุชู„ุฌู…، ูˆุชูƒุชููŠ ุจู‡ ุฅู† ู„ู… ุชุญุชุฌ ุฅู„ูŠู‡ู…ุง. ุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุตุงุฆู…ุฉ ุฃูˆ ุชุฃุฐุช ุจุงุฌุชู…ุงุนู‡ ูู„ุง ูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ุญุดูˆ، ุจู„ ูŠู„ุฒู… ุงู„ุตุงุฆู…ุฉ ุชุฑูƒู‡ ุฅุฐุง ูƒุงู† ุตูˆู…ู‡ุง ูุฑุถุง، ูุฅู† ู‚ูŠู„: ู„ู… ุญุงูุธูˆุง ู‡ู†ุง ุนู„ู‰ ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุตูˆู… ู„ุง ุนู„ู‰ ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุนูƒุณ ู…ุง ูุนู„ูˆุง ููŠู…ู† ุงุจุชู„ุน ุจุนุถ ุฎูŠุท ู‚ุจู„ ุงู„ูุฌุฑ ูˆุทู„ุน ุงู„ูุฌุฑ ูˆุทุฑูู‡ ุฎุงุฑุฌ ูู‡ู„ุง ุณูˆูˆุง ุจูŠู†ู‡ู…ุง؟ . ุฃุฌูŠุจ ุจุฃู† ุงู„ุงุณุชุญุงุถุฉ ุนู„ุฉ ู…ุฒู…ู†ุฉ ูุงู„ุธุงู‡ุฑ ุฏูˆุงู…ู‡ุง، ูู„ูˆ ุฑุงุนูŠู†ุง ุงู„ุตู„ุงุฉ ู‡ู†ุง ู„ุชุนุฐุฑ ู‚ุถุงุก ุงู„ุตูˆู… ู„ู„ุญุดูˆ، ูˆู„ุฃู† ุงู„ู…ุญุฐูˆุฑ ู‡ู†ุง ู„ุง ูŠู†ุชููŠ ุจุงู„ูƒู„ูŠุฉ ูุฅู† ุงู„ุญุดูˆ ุชู†ุฌุณ ูˆู‡ูŠ ุญุงู…ู„ุชู‡ ุจุฎู„ุงูู‡ ุซู…. ุชู†ุจูŠู‡ ุธุงู‡ุฑ ูƒู„ุงู… ุงู„ู…ุตู†ู ูˆุบูŠุฑู‡ ุชุนูŠู† ุบุณู„ ูุฑุฌู‡ุง. ู‚ุงู„ ุงู„ุฃุฐุฑุนูŠ: ู„ูƒู† ู‚ุถูŠุฉ ูƒู„ุงู… ุงู„ู…ุตู†ู ููŠ ุงู„ุงุณุชู†ุฌุงุก ุฅุฌุฒุงุก ุงู„ุญุฌุฑ ููŠ ุงู„ุฃุธู‡ุฑ، ูˆุตุฑุญ ุจู‡ ููŠ ุงู„ุชู†ู‚ูŠุญ ู‡ู†ุงูƒ. ู‚ุงู„: ูˆู„ุนู„ ู…ุฑุงุฏู‡ู… ู‡ู†ุง ู…ุง ุฅุฐุง ุชูุงุญุด ุจุญูŠุซ ู„ุง ูŠุฌุฒุฆ ุงู„ุญุฌุฑ ููŠ ู…ุซู„ู‡ ู…ู† ุงู„ู…ุนุชุงุฏ (ูˆ) ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ (ุชุชูˆุถุฃ) ูˆุชุฌุจ ุงู„ู…ุจุงุฏุฑุฉ ุจู‡ ุฃูˆ ุจุจุฏู„ู‡ ุนู‚ุจ ุงู„ุงุญุชูŠุงุท، ูˆู„ุฐู„ูƒ ู‚ูŠู„: ู„ูˆ ุนุจุฑ ุจุงู„ูุงุก ู„ูƒุงู† ุฃูˆู„ู‰ ูˆูŠูƒูˆู† ุฐู„ูƒ (ูˆู‚ุช ุงู„ุตู„ุงุฉ) ู„ุฃู†ู‡ ุทู‡ุงุฑุฉ ุถุฑูˆุฑุฉ ูู„ุง ุชุตุญ ู‚ุจู„ ุงู„ูˆู‚ุช ูƒุงู„ุชูŠู…ู…، ูˆู‚ุฏ ุณุจู‚ ุจูŠุงู† ุงู„ุฃูˆู‚ุงุช ููŠ ุจุงุจู‡ ููŠุฌูŠุก ู‡ู†ุง ุฌู…ูŠุน ู…ุง ุณุจู‚ ุซู…. ู‚ุงู„ู‡ ููŠ ุงู„ู…ุฌู…ูˆุน: ูุฏุฎู„ ููŠ ุฐู„ูƒ ุงู„ู†ูˆุงูู„ ุงู„ู…ุคู‚ุชุฉ ูู„ุง ุชุชูˆุถุฃ ู„ู‡ุง ู‚ุจู„ ูˆู‚ุชู‡ุง ูˆู‡ูˆ ูƒุฐู„ูƒ، ูˆู„ุง ูŠูู‡ู… ู…ู† ุฐู„ูƒ ุฃู†ู‡ ูŠู…ุชู†ุน ุนู„ูŠู‡ุง ุฃู† ุชุฌู…ุน ุจูŠู† ู†ูˆุงูู„ ุจูˆุถูˆุก ูƒู…ุง ู‚ูŠู„ ู„ู…ุง ุณูŠุฃุชูŠ ุฃู†ู‡ ูŠุฌุจ ุงู„ูˆุถูˆุก ู„ูƒู„ ูุฑุถ (ูˆ) ุจุนุฏ ู…ุง ุฐูƒุฑ (ุชุจุงุฏุฑ ุจู‡ุง) ุฃูŠ ุจุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุฌูˆุจุง ุชู‚ู„ูŠู„ุง ู„ู„ุญุฏุซ؛ ู„ุฃู†ู‡ ูŠุชูƒุฑุฑ ู…ู†ู‡ุง ูˆู‡ูŠ ู…ุณุชุบู†ูŠุฉ ุนู†ู‡ ุจุงู„ู…ุจุงุฏุฑุฉ ุจุฎู„ุงู ุงู„ู…ุชูŠู…ู… ุงู„ุณู„ูŠู… ู„ุงู†ุชูุงุก ู…ุง ุฐูƒุฑ. ุฃู…ุง ุบูŠุฑ ุงู„ุณู„ูŠู… ูุงู„ุญูƒู… ููŠู‡ ูƒู…ุง ู‡ู†ุง (ูู„ูˆ ุฃุฎุฑุช ู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูƒุณุชุฑ) ู„ุนูˆุฑุฉ ูˆุฃุฐุงู† ูˆุฅู‚ุงู…ุฉ (ูˆุงู†ุชุธุงุฑ ุฌู…ุงุนุฉ) ูˆุงุฌุชู‡ุงุฏ ููŠ ู‚ุจู„ุฉ ูˆุฐู‡ุงุจ ุฅู„ู‰ ู…ุณุฌุฏ ูˆุชุญุตูŠู„ ุณุชุฑุฉ (ู„ู… ูŠุถุฑ) ู„ุฃู†ู‡ุง ู„ุง ุชุนุฏ ุจุฐู„ูƒ ู…ู‚ุตุฑุฉ. ูุฅู† ู‚ูŠู„: ูƒูŠู ูŠุตุญ ุงู„ุชู…ุซูŠู„ ุจุฃุฐุงู† ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ุน ุฃู†ู‡ ุบูŠุฑ ู…ุดุฑูˆุน ู„ู‡ุง؟ . ุฃุฌูŠุจ ุจุฃู†ู‡ ู…ุญู…ูˆู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅุฌุงุจุฉ ูˆุจุฃู† ุชุฃุฎูŠุฑู‡ุง ู„ู„ุฃุฐุงู† ู„ุง ูŠุณุชู„ุฒู… ุฃุฐุงู†ู‡ุง، ูˆู„ูˆ ุงุนุชุงุฏุช ุงู„ุงู†ู‚ุทุงุน ุจู‚ุฏุฑ ู…ุง ูŠุณุน ุงู„ูˆุถูˆุก ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ุงู‡ู€. ูุงู†ู‚ุทุน ูˆุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุงู„ู…ุจุงุฏุฑุฉ ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ุง ุงู„ุชุฃุฎูŠุฑ ู„ุฌู…ุงุนุฉ ูˆู„ุง ู„ุบูŠุฑู‡ุง (ูˆุฅู„ุง) ุจุฃู† ุฃุฎุฑุช ู„ุง ู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูƒุฃูƒู„ ูˆุดุฑุจ ูˆุบุฒู„ ูˆุญุฏูŠุซ (ููŠุถุฑ) ุงู„ุชุฃุฎูŠุฑ (ุนู„ู‰ ุงู„ุตุญูŠุญ) ููŠุจุทู„ ูˆุถูˆุกู‡ุง ูุชุฌุจ ุฅุนุงุฏุชู‡ ูˆุฅุนุงุฏุฉ ุงู„ุงุญุชูŠุงุท ู„ุชูƒุฑุฑ ุงู„ุญุฏุซ ูˆุงู„ู†ุฌุณ ู…ุน ุงุณุชุบู†ุงุฆู‡ุง ุนู† ุงุญุชู…ุงู„ ุฐู„ูƒ ุจู‚ุฏุฑุชู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุจุงุฏุฑุฉ، ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ: ู„ุง ูŠุถุฑ ูƒุงู„ู…ุชูŠู…ู…. ู‚ุงู„ ููŠ ุงู„ู…ุฌู…ูˆุน: ูˆุญูŠุซ ุฃูˆุฌุจู†ุง ุงู„ู…ุจุงุฏุฑุฉ. ู‚ุงู„ ุงู„ุฅู…ุงู…: ุฐู‡ุจ ุฐุงู‡ุจูˆู† ู…ู† ุฃุฆู…ุชู†ุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุจุงู„ุบุฉ ูˆุงุบุชูุฑ ุขุฎุฑูˆู† ุงู„ูุตู„ ุงู„ูŠุณูŠุฑ، ูˆุถุจุทู‡ ุจู‚ุฏุฑ ู…ุง ุจูŠู† ุตู„ุงุชูŠ ุงู„ุฌู…ุน ุงู‡ู€. ูˆูŠู†ุจุบูŠ ุงุนุชู…ุงุฏ ุงู„ุซุงู†ูŠ، ูˆุฎุฑูˆุฌ ุงู„ุฏู… ุจู„ุง ุชู‚ุตูŠุฑ ู…ู†ู‡ุง ู„ุง ูŠุถุฑ. ูุฅู† ูƒุงู† ุฎุฑูˆุฌู‡ ู„ุชู‚ุตูŠุฑ ููŠ ุงู„ุดุฏ ูˆู†ุญูˆู‡ ูƒุงู„ุญุดูˆ ุจุทู„ ูˆุถูˆุกู‡ุง ูˆูƒุฐุง ุตู„ุงุชู‡ุง ุฅู† ูƒุงู†ุช ููŠ ุตู„ุงุฉ، ูˆูŠุจุทู„ ุฃูŠุถุง ูˆุถูˆุกู‡ุง ุจุงู„ุดูุงุก ูˆุฅู† ุงุชุตู„ ุจุขุฎุฑู‡ (ูˆูŠุฌุจ ุงู„ูˆุถูˆุก ู„ูƒู„ ูุฑุถ) ูˆู„ูˆ ู…ู†ุฐูˆุฑุง ูƒุงู„ู…ุชูŠู…ู… ู„ุจู‚ุงุก ุงู„ุญุฏุซ، ูˆุฅู†ู…ุง ุฌูˆุฒุช ุงู„ูุฑูŠุถุฉ ุงู„ูˆุงุญุฏุฉ ู„ู„ุถุฑูˆุฑุฉ، ูˆุฎุฑุฌ ุจุงู„ูุฑุถ ุงู„ู†ูู„ ูู„ู‡ุง ุฃู† ุชุชู†ูู„ ู…ุง ุดุงุกุช ุจูˆุถูˆุก، ูˆุชู‚ุฏู… ุฃู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู†ุงุฒุฉ ุญูƒู…ู‡ุง ุญูƒู… ุงู„ู†ุงูู„ุฉ (ูˆูƒุฐุง) ูŠุฌุจ ู„ูƒู„ ูุฑุถ (ุชุฌุฏูŠุฏ ุงู„ุนุตุงุจุฉ) ูˆู…ุง ูŠุชุนู„ู‚ ุจู‡ุง ู…ู† ุบุณู„ ูˆุญุดูˆ (ููŠ ุงู„ุฃุตุญ) ู‚ูŠุงุณุง ุนู„ู‰ ุชุฌุฏูŠุฏ ุงู„ูˆุถูˆุก، ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ: ู„ุง ูŠุฌุจ ุชุฌุฏูŠุฏู‡ุง؛ ู„ุฃู†ู‡ ู„ุง ู…ุนู†ู‰ ู„ู„ุฃู…ุฑ ุจุฅุฒุงู„ุฉ ุงู„ู†ุฌุงุณุฉ ู…ุน ุงุณุชู…ุฑุงุฑู‡ุง، ูˆู…ุญู„ ุงู„ุฎู„ุงู ุฅุฐุง ู„ู… ูŠุธู‡ุฑ ุงู„ุฏู… ุนู„ู‰ ุฌูˆุงู†ุจ ุงู„ุนุตุงุจุฉ ูˆู„ู… ุชุฒู„ ุงู„ุนุตุงุจุฉ ุนู† ู…ูˆุถุนู‡ุง ุฒูˆุงู„ุง ู„ู‡ ูˆู‚ุน ูˆุฅู„ุง ูˆุฌุจ ุงู„ุชุฌุฏูŠุฏ ุจู„ุง ุฎู„ุงู؛ ู„ุฃู† ุงู„ู†ุฌุงุณุฉ ู‚ุฏ ูƒุซุฑุช ู…ุน ุฅู…ูƒุงู† ุชู‚ู„ูŠู„ู‡ุง
http://fiqhkontemporer99.blogspot.com

8. ูƒุชุงุจ ุงู„ุตู„ุงุฉ: Aturan fiqih mengenai shof/barisan sholat jama'ah

Pertanyaan :
Assalamu'alaiku¬m...
Bagaimana penjelasan shof sholat menurut fiqih dan hadits? lalu bagaimana hukumnya sholat tersebut bila shofnya tidak teratur? syukron¬.

( Dari : Binyake Cah Thegal )


Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

ATURAN PENEMPATAN MAKMUM

Penjelasan mengenai shof/barisan makmum ketika sholat berjama'ah yang berupa aturan penempatan shof berdasarkan keterangan ulama' dan hadits-hadits nabi adalah sebagai berikut :

1.Jika makmumnya hanya satu orang lelaki saja, maka makmum tersebut bertempat disamping kanan imam, posisinya agak sedikit dibelakang imam, tidak sejajar atau terrlalu jauh. Dan dimakruhkan bagi makmum tersebut bertempat disebelah kiri, karena itu disunatkan bagi imam untuk memindahkan makmum yang bertempat disebelah kanan kiri untuk kesebelah kanan dengan menghindari melakukan gerakan yang membatalkan sholat.

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhuma :

ุตَู„َّูŠْุชُ ู…َุนَ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฐَุงุชَ ู„َูŠْู„َุฉٍ، ูَู‚ُู…ْุชُ ุนَู†ْ ูŠَุณَุงุฑِู‡ِ، ูَุฃَุฎَุฐَ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِุฑَุฃْุณِูŠ ู…ِู†ْ ูˆَุฑَุงุฆِูŠ، ูَุฌَุนَู„َู†ِูŠ ุนَู†ْ ูŠَู…ِูŠู†ِู‡ِ

“Aku pernah sholat bersama Rosulullah di suatu malam, aku berdiri di samping kiri beliau, kemudian Rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam menarik kepalaku dari belakang dan meletakkanku di samping kanan beliau.” (Shohih Bukhori, no.726 dan Shohih Muslim, no.763)

2.Apabila makmumnya berjumlah diua orang, baik keduanya adalah lelaki yang sudah dewasa atau masih anak-anak, atau keduanya adalah anaka-anak maka kedua makmum tersebut bertempat dibelakang imam

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallohu 'anhu :

ุฃَู†َّ ุฌَุฏَّุชَู‡ُ ู…ُู„َูŠْูƒَุฉَ، ุฏَุนَุชْ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู„ِุทَุนَุงู…ٍ ุตَู†َุนَุชْู‡ُ، ูَุฃَูƒَู„َ ู…ِู†ْู‡ُ، ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ: «ู‚ُูˆู…ُูˆุง ูَุฃُุตَู„ِّูŠَ ู„َูƒُู…ْ»، ู‚َุงู„َ ุฃَู†َุณُ ุจْู†ُ ู…َุงู„ِูƒٍ ูَู‚ُู…ْุชُ ุฅِู„َู‰ ุญَุตِูŠุฑٍ ู„َู†َุง ู‚َุฏِ ุงุณْูˆَุฏَّ ู…ِู†ْ ุทُูˆู„ِ ู…َุง ู„ُุจِุณَ، ูَู†َุถَุญْุชُู‡ُ ุจِู…َุงุกٍ، ูَู‚َุงู…َ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุตَูَูْุชُ ุฃَู†َุง، ูˆَุงู„ْูŠَุชِูŠู…ُ ูˆَุฑَุงุกَู‡ُ، ูˆَุงู„ْุนَุฌُูˆุฒُ ู…ِู†ْ ูˆَุฑَุงุฆِู†َุง، ูَุตَู„َّู‰ ู„َู†َุง ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฑَูƒْุนَุชَูŠْู†ِ، ุซُู…َّ ุงู†ْุตَุฑَูَ

"Bahwa neneknya, Mulaikah, mengundang Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam untuk menghadiri hidangan yang ia masak untuk beliau. Beliau kemudian menyantap makanan tersebut kemudian bersabda: "Berdirilah, aku akan pimpin kalian shalat." Anas berkata, "Maka aku berdiri di tikar milik kami yang sudah lusuh dan hitam akibat sering digunakan. Aku lalu memercikinya dengan air, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri diatasnya. Aku dan seorang anak yatim lalu membuat barisan di belakang beliau, sementara orang tua (nenek) berdiri di belakang kami. Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam lalu sholat memimpim kami sebanyak dua rakaat lalu pergi." (Shohih Muslim, no.657)

3.Apabila setelah sholat jama'ah telah dilaksanakan anatara seorang imam dan seorang makmum, kemudian datang satu makmum lagi, maka makmum yang baru datang tadi menempati sebelah kiri imam, setelah itu apabila didepan imam masih ada tempat sedangkan dibelakang makmum sudah tidak ada tempat lagi, maka imamnya maju sedikit, dan apabila dibelakang makmum masih ada tempat sedangkan didepan imam sudah tidak ada tempat lagi, maka kedua makmum tersebut yang mundur sedikit. Sedangkan apabila didepan imam masih ada tempat dan dibelakang makmum juga masih ada tempat maka kedua makmum tersebutlah yang mundur menurut pendapat yang dianggap shohih oleh Syekh Abu Hamid dan mayoritas ulama' madzhab syafi'i, namun menurut pendapat yang Imam Al Quffal dan Qodhi Abut Thoyyib imamnya lah yang maju kedepan. Hal ini (imamnya yang maju atau ma'mumnya yang mundur) dilakukan apabila makmum tersebut datang saat berdiri dan sesudah takbirotul ihrom, apabila datangnya saat tahiyyat atau sujud maka imam hal tersebut tidak dilakukan.

Diriwayatkan dari sahabat jabir rodhiyallohu 'anhu :

ู‚ُู…ْุชُ ุนَู†ْ ูŠَุณَุงุฑِ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ، ูَุฃَุฎَุฐَ ุจِูŠَุฏِูŠ ูَุฃَุฏَุงุฑَู†ِูŠ ุญَุชَّู‰ ุฃَู‚َุงู…َู†ِูŠ ุนَู†ْ ูŠَู…ِูŠู†ِู‡ِ، ุซُู…َّ ุฌَุงุกَ ุฌَุจَّุงุฑُ ุจْู†ُ ุตَุฎْุฑٍ ูَุชَูˆَุถَّุฃَ، ุซُู…َّ ุฌَุงุกَ ูَู‚َุงู…َ ุนَู†ْ ูŠَุณَุงุฑِ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَุฃَุฎَุฐَ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูŠَุฏَูŠْู†َุง ุฌَู…ِูŠุนًุง، ูَุฏَูَุนَู†َุง ุญَุชَّู‰ ุฃَู‚َุงู…َู†َุง ุฎَู„ْูَู‡ُ

"Aku berdiri di sisi kiri Rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam, maka beliau memegang tanganku lalu memutarku sehingga beliau menempatkanku disisi kanannya. Kemudian Jabbar bin Shokhr datang lalu ia berwudlu, lalu ia datang dan berdiri di sisi kanan Rasulullah Saw, beliau lalu memegang kedua tangan kami lalu mendorong kami dan menempatkan kami dibelakang beliau." (Shohih Muslim, no.3010)

4.Apabila jama'ahnya banyak,ada orang yang sudah dewasa dan ada juga anak yang masih kecil, maka menurut pendapat mayoritas ulama' laki-laki dewasa bertempat dibagian depan dan anak-anak dibelakang, berdasarkan sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam :

ู„ِูŠَู„ِูŠَู†ِูŠ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ุฃُูˆู„ُูˆ ุงู„ْุฃَุญْู„َุงู…ِ ูˆَุงู„ู†ُّู‡َู‰، ุซُู…َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَู„ُูˆู†َู‡ُู…ْ، ุซُู…َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَู„ُูˆู†َู‡ُู…ْ

"Hendaknya yang menempati posisi setelahku di antara kalian adalah orang-orang yang sabar dan berakal, kemudian orang yang setelahnya, kemudian orang yang setelahnya." (Sunan Turmudzi, no.228, Sunan Nasa'i, no.807, Sunan Ibnu Majah, no.976 dan Shohih Ibnu Hibban, no.3172)

Sebagian ulama' memiliki pendapat berbeda dalam masalah ini, mereka berpendapat posisi anak kecil diapit oleh dua orang laki-;laki yang sudah dewasa, dengan tujuan untuk mengajari anak kecil tersebut cara sholat yang benar, pendapat ini diriwayatkan oleh Syekh Abu Hamid, Syekh Al Bandaniji, Qodhi Abut-Thoyyib dan yang lainnya. Namun pendapat ini dijawab bahwa meskipun anak-anak bertempat dibelakang, mereka masih bisa belajar cara sholat yang benar dari makmum laki-laki dewasa yang berada didepannya.

5.Apabila selain makmum laki-laki terdapat  juga makmum perempuan, maka makmum perempuan bertempat dibelakang makmum perempuan.

6.Apabila selain laki-laki dan perempuan terdapat makmum banci, maka makmum banci bertempat dibelakang makmum laki-laki dan didepan makmum perempuan.

7.Apabila makmumnya terdiri dari laki-laki dewasa dan anak-anak, perempuan dan juga banci, maka urutannya laki-laki dewasa berada dibarisan terdepan, dibelakangnya anak-anak, lalu banci, dan paling belakang adalah wanita.

Semua aturan mengenai urutan penempatan shof sholat jama'ah diatas hukumnya sunat, jadi apabila aturan diatas tidak diikuti tidak sampai membatalkan sholat jama'ah.


MELURUSKAN SHOF/BARISAN

Sedangkan penjelasan mengenai shof sholat jama'ah secara umum adalah mengenai masalah  meluruskan barisan. Mayoritas ulama' berpendapat bahwa meluruskan barisan ketika mengerjakan sholat jama'ah hukumnya sunat, yang dimaksud meluruskan barisan disini adalah posisi antara satu makmum dengan makmum lain yang menempati barisan yang sama lurus, tidak ada makmum yang posisinya lebih maju dari makmum lainnya, selain itu antara pundak dan kedua telapak kaki satu makmum dengan makmum yang lainnya saling menempel sehingga tak ada celah pada barisan tersebut. Dan disunatkan bagi imam untuk memerintahkan agar para makmum yang mengikuti sholat jum'at meluruskan barisan sebelum sholat jama'ah dimulai sebagaimana yang dilakukan oleh Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam. Dalam beberapa hadits diriwayatkan Nabi memerintahkan para jama'ah yang hadir untuk meluruskan barisan mereka dengan mengatakan :

ุณَูˆُّูˆุง ุตُูُูˆูَูƒُู…ْ، ูَุฅِู†َّ ุชَุณْูˆِูŠَุฉَ ุงู„ุตُّูُูˆูِ ู…ِู†ْ ุฅِู‚َุงู…َุฉِ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ

"Luruskan barisan-barisan kalian, karena sesungguhnya meluruskan barisan adalah bagian dari mendirikan sholat." (Shohih Bukhori, no.723)

Dalam riwayat lain :

ุณَูˆُّูˆุง ุตُูُูˆูَูƒُู…ْ، ูَุฅِู†َّ ุชَุณْูˆِูŠَุฉَ ุงู„ุตَّูِّ، ู…ِู†ْ ุชَู…َุงู…ِ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ

"Luruskan barisan-barisan kalian, karena sesungguhnya meluruskan barisan adalah bagian dari kesempurnaan sholat." (Shohih Muslim, no.433)

Sahabat Anas rodhiyallohu 'anhu meriwayatkan :

ุฃُู‚ِูŠู…َุชِ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉُ ูَุฃَู‚ْุจَู„َ ุนَู„َูŠْู†َุง ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูˆَุฌْู‡ِู‡ِ، ูَู‚َุงู„َ: ุฃَู‚ِูŠู…ُูˆุง ุตُูُูˆูَูƒُู…ْ، ูˆَุชَุฑَุงุตُّูˆุง، ูَุฅِู†ِّูŠ ุฃَุฑَุงูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ูˆَุฑَุงุกِ ุธَู‡ْุฑِูŠ

"Ketika sholat akan dilaksanakan, Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam menghadap kepda kami dengan wajahnya, lalu beliau berkata : "Tegakkanlah barisan-barisan kalian dan saling menempel, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku." (Shohih Bukhori, no.719)

Dalam riwayat lain terdapat tambahan :

ูˆَูƒَุงู†َ ุฃَุญَุฏُู†َุง ูŠُู„ْุฒِู‚ُ ู…َู†ْูƒِุจَู‡ُ ุจِู…َู†ْูƒِุจِ ุตَุงุญِุจِู‡ِ، ูˆَู‚َุฏَู…َู‡ُ ุจِู‚َุฏَู…ِู‡ِ

"Dan salah seorang dari kami (para sahabat) menempelkan pundaknya dengan pundak temannya (orang yang ada disampingnya) dan (menempelkan) telapak kakinya dengan telapak kaki(teman)nya." (Shohih Bukhori, no.725)

Sebagian ulama', seperti syekh Ibnu Hajar Al Asqolani dan beberapa ulama' ahli hadits lainnya, menyatakan bahwa meluruskan barisan ketika sholat jama'ah hukumnya wajib berdasarkan sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam :

ู„َุชُุณَูˆُّู†َّ ุตُูُูˆูَูƒُู…ْ، ุฃَูˆْ ู„َูŠُุฎَุงู„ِูَู†َّ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจَูŠْู†َ ูˆُุฌُูˆู‡ِูƒُู…ْ

"Luruskanlah barisan-barisan kalian atau Alloh akan memalingkan wajah-wajah kalian." (Shohih Bukhori, no.717 dan Shohih Muslim, no.436)

Dari hadits diatas dipahami bahwa suatu ancaman yang ditujukan pada suatu tindakan yang menyalahi perintah menunjukkan bahwa perkara yang diperintahkan adalah perkara wajib, dari situ disimpulkan bahwa hukum meluruskan shof adalah wajib dan menyalahi aturan tersebut hukumnya harom.

Namun Syekh Ibnu Hajar menambahkan bahwa meskipun meluruskan barisan dihukumi wajib, sholat jama'ahnya tetap sah apabila barisanya tidak lurus, ketentuan ini dikuatkan dengan apa yang dilakukan oleh sahabat Anas, meskipun beliau mengingkari orang-orang yang tidak meluruskan barisan, beliau tidak menyuruh untuk mengulangi sholat mereka.

Kesimpulannya, mayoritas ulama' menyatakan bahwa meluruskan barisan hukumnya sunat dan sebagian ulama' menyatakan hukumnya wajib. Baik mengikuti pendapat yang menyatakan hukumnya wajib maupun sunat, sholat jama'ahnya tetap sah. Wallohu a'lam.

( Dijawab oleh : Farid Muzakki, Kudung Khantil Harsandi Muhammad dan Siroj Munir )


Referensi :
1.Al Muhadzdzab, Juz : 1  Hal : 188-189
2. Al Majmu', Juz : 4  Hal : 292
3. Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 27  Hal : 35-36


Ibarot :
Al Muhadzdzab, Juz : 1  Hal : 188-189

ุจุงุจ ู…ูˆู‚ู ุงู„ุฅู…ุงู… ูˆุงู„ู…ุฃู…ูˆู…
ุงู„ุณู†ุฉ ุฃู† ูŠู‚ู ุงู„ุฑุฌู„ ุงู„ูˆุงุญุฏ ุนู† ูŠู…ูŠู† ุงู„ุฅู…ุงู… ู„ู…ุง ุฑูˆู‰ ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„: ุจุช ุนู†ุฏ ุฎุงู„ุชูŠ ู…ูŠู…ูˆู†ุฉ ูู‚ุงู… ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุตู„ูŠ ูู‚ู…ุช ุนู† ูŠุณุงุฑู‡ ูุฌุนู„ู†ูŠ ุนู† ูŠู…ูŠู†ู‡ ูุฅู† ูˆู‚ู ุนู„ู‰ ูŠุณุงุฑู‡ ุฑุฌุน ุฅู„ู‰ ูŠู…ูŠู†ู‡ ูุฅู† ู„ู… ูŠุญุณู† ุนู„ู…ู‡ ุงู„ุฅู…ุงู… ูƒู…ุง ูุนู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุจุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡
ูุฅู† ุฌุงุก ุขุฎุฑ ุฃุญุฑู… ุนู† ูŠุณุงุฑู‡ ุซู… ูŠุชู‚ุฏู… ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃูˆ ูŠุชุฃุฎุฑ ุงู„ู…ุฃู…ูˆู… ู„ู…ุง ุฑูˆู‰ ุฌุงุจุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„: ู‚ู…ุช ุนู† ูŠุณุงุฑ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุฃุฎุฐ ุจูŠุฏูŠ ูˆุฃุฏุงุฑู†ูŠ ุญุชู‰ ุฃู‚ุงู…ู†ูŠ ุนู† ูŠู…ูŠู†ู‡ ูˆุฌุงุก ุฌุงุจุฑ ุจู† ุตุฎุฑ ุญุชู‰ ู‚ุงู… ุนู† ูŠุณุงุฑ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุฃุฎุฐู†ุง ุจูŠุฏูŠู‡ ุฌู…ูŠุนุง ูุฏูุนู†ุง ุญุชู‰ ุฃู‚ุงู…ู†ุง ุฎู„ูู‡ ู„ุฃู†ู‡ ู‚ุจู„ ุฃู† ูŠุญุฑู… ุงู„ุซุงู†ูŠ ู„ู… ูŠุชุบูŠุฑ ู…ูˆู‚ู ุงู„ุฃูˆู„ ูู„ุง ูŠุฒุงู„ ุนู† ู…ูˆุถุนู‡
ูุฅู† ุญุถุฑ ุฑุฌู„ุงู† ุงุตุทูุง ุฎู„ูู‡ ู„ุญุฏูŠุซ ุฌุงุจุฑ ูˆุฅู† ุญุถุฑ ุฑุฌู„ ูˆุตุจูŠ ุงุตุทูุง ุฎู„ูู‡ ู„ู…ุง ุฑูˆู‰ ุฃู†ุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„: ู‚ุงู… ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุตููุช ุฃู†ุง ูˆุงู„ูŠุชูŠู… ูˆุฑุงุกู‡ ูˆุงู„ุนุฌูˆุฒ ู…ู† ูˆุฑุงุฆู†ุง ูุตู„ู‰ ุจู†ุง ุฑูƒุนุชูŠู† ูุฅู† ุญุถุฑ ุฑุฌุงู„ ูˆุตุจูŠุงู† ุชู‚ุฏู… ุงู„ุฑุฌุงู„ ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… "ู„ูŠู„ูŠู†ูŠ ู…ู†ูƒู… ุฃูˆู„ูˆ ุงู„ุฃุญู„ุงู… ูˆุงู„ู†ู‡ูŠ ุซู… ุงู„ุฐูŠู† ูŠู„ูˆู†ู‡ู… ุซู… ุงู„ุฐูŠู† ูŠู„ูˆู†ู‡ู…
ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ู…ุนู‡ู… ุงู…ุฑุฃุฉ ูˆู‚ูุช ุฎู„ูู‡ู… ู„ุญุฏูŠุซ ุฃู†ุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูุฅู† ูƒุงู† ู…ุนู‡ู… ุฎู†ุซู‰ ูˆู‚ู ุฎู„ู ุงู„ุฑุฌู„ ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฎู„ู ุงู„ุฎู†ุซู‰ ู„ุฃู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู…ุฑุฃุฉ ูู„ุง ุชู‚ู ู…ุน ุงู„ุฑุฌุงู„

Al Majmu', Juz : 4  Hal : 292-293

ุฃู…ุง ุฃุญูƒุงู… ุงู„ูุตู„ ูููŠู‡ ู…ุณุงุฆู„
ุฅุญุฏุงู‡ุง : ุงู„ุณู†ุฉ ุฃู† ูŠู‚ู ุงู„ู…ุฃู…ูˆู… ุงู„ูˆุงุญุฏ ุนู† ูŠู…ูŠู† ุงู„ุฅู…ุงู… ุฑุฌู„ุง ูƒุงู† ุฃูˆ ุตุจูŠุง ู‚ุงู„ ุฃุตุญุงุจู†ุง ูˆูŠุณุชุญุจ ุฃู† ูŠุชุฃุฎุฑ ุนู† ู…ุณุงูˆุงุฉ ุงู„ุฅู…ุงู… ู‚ู„ูŠู„ุง ูุฅู† ุฎุงู„ู ูˆูˆู‚ู ุนู† ูŠุณุงุฑู‡ ุฃูˆ ุฎู„ูู‡ ุงุณุชุญุจ ู„ู‡ ุฃู† ูŠุชุญูˆู„ ุฅู„ู‰ ูŠู…ูŠู†ู‡ ูˆูŠุญุชุฑุฒ ุนู† ุฃูุนุงู„ ุชุจุทู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฅู† ู„ู… ูŠุชุญูˆู„ ุงุณุชุญุจ ู„ู„ุฅู…ุงู… ุฃู† ูŠุญูˆู„ู‡ ู„ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ุนุจุงุณ ูุฅู† ุงุณุชู…ุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ูŠุณุงุฑ ุฃูˆ ุฎู„ูู‡ ูƒุฑู‡ ูˆุตุญุช ุตู„ุงุชู‡ ุนู†ุฏู†ุง ุจุงู„ุงุชูุงู‚
ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ : ุฅุฐุง ุญุถุฑ ุฅู…ุงู… ูˆู…ุฃู…ูˆู…ุงู† ุชู‚ุฏู… ุงู„ุฅู…ุงู… ูˆุงุตุทูุง ุฎู„ูู‡ ุณูˆุงุก ูƒุงู†ุง ุฑุฌู„ูŠู† ุฃูˆ ุตุจูŠูŠู† ุฃูˆ ุฑุฌู„ุง ูˆุตุจูŠุง: ู‡ุฐุง ู…ุฐู‡ุจู†ุง ูˆู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูƒุงูุฉ ุฅู„ุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ูˆุตุงุญุจูŠู‡ ุนู„ู‚ู…ุฉ ูˆุงู„ุฃุณูˆุฏ ูุฅู†ู‡ู… ู‚ุงู„ูˆุง ูŠูƒูˆู† ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ู…ุฃู…ูˆู…ุงู† ูƒู„ู‡ู… ุตูุง ูˆุงุญุฏุง ุซุจุช ู‡ุฐุง ุนู† ุงุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ููŠ ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… ุฏู„ูŠู„ู†ุง ุญุฏูŠุซ ุฌุงุจุฑ ุงู„ุณุงุจู‚ ู‚ุงู„ ุฃุตุญุงุจู†ุง ูุฅู† ุญุถุฑ ุฅู…ุงู… ูˆู…ุฃู…ูˆู… ูˆุฃุญุฑู… ุนู† ูŠู…ูŠู†ู‡ ุซู… ุฌุงุก ุขุฎุฑ ุฃุญุฑู… ุนู† ูŠุณุงุฑู‡ ุซู… ุฅู† ูƒุงู† ู‚ุฏุงู… ุงู„ุฅู…ุงู… ุณุนุฉ ูˆู„ูŠุณ ูˆุฑุงุก ุงู„ู…ุฃู…ูˆู…ูŠู† ุณุนุฉ ุชู‚ุฏู… ุงู„ุฅู…ุงู… ูˆุฅู† ูƒุงู† ูˆุฑุงุกู‡ู…ุง ุณุนุฉ ูˆู„ูŠุณุช ู‚ุฏุงู…ู‡ ุชุฃุฎุฑุง ูˆุฅู† ูƒุงู† ู‚ุฏุงู…ู‡ ุณุนุฉ ูˆูˆุฑุงุกู‡ู…ุง ุณุนุฉ ุชู‚ุฏู… ุฃูˆ ุชุฃุฎุฑุง ูˆุฃูŠู‡ู…ุง ุฃูุถู„ ููŠู‡ ูˆุฌู‡ุงู† (ุงู„ุตุญูŠุญ) ุงู„ุฐูŠ ู‚ุทุน ุจู‡ ุงู„ุดูŠุฎ ุฃุจูˆ ุญุงู…ุฏ ูˆุงู„ุฃูƒุซุฑูˆู† ุชุฃุฎุฑู‡ู…ุง ู„ุฃู† ุงู„ุฅู…ุงู… ู…ุชุจูˆุน ูู„ุง ูŠู†ุชู‚ู„ (ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ) ุชู‚ุฏู…ู‡ ู‚ุงู„ู‡ ุงู„ู‚ูุงู„ ูˆุงู„ู‚ุงุถูŠ ุฃุจูˆ ุงู„ุทูŠุจ ู„ุฃู†ู‡ ูŠุจุตุฑ ู…ุง ุจูŠู† ูŠุฏูŠู‡ ูˆู„ุฃู†ู‡ ูุนู„ ุดุฎุต ูู‡ูˆ ุฃุฎู ู…ู† ุดุฎุตูŠู† ู‡ุฐุง ุฅุฐุง ุฌุงุก ุงู„ู…ุฃู…ูˆู… ุงู„ุซุงู†ูŠ ููŠ ุงู„ู‚ูŠุงู… ูุฅู† ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุชุดู‡ุฏ ูˆุงู„ุณุฌูˆุฏ ูู„ุง ุชู‚ุฏู… ูˆู„ุง ุชุฃุฎุฑ ุญุชู‰ ูŠู‚ูˆู…ูˆุง ูˆู„ุง ุฎู„ุงู ุฃู† ุงู„ุชู‚ุฏู… ูˆุงู„ุชุฃุฎุฑ ู„ุง ูŠูƒูˆู† ุฅู„ุง ุจุนุฏ ุฅุญุฑุงู… ุงู„ู…ุฃู…ูˆู… ุงู„ุซุงู†ูŠ ูƒู…ุง ุฐูƒุฑู†ุง ูˆู‚ุฏ ู†ุจู‡ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู…ุตู†ู ุจู‚ูˆู„ู‡ ุซู… ูŠุชู‚ุฏู… ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃูˆ ูŠุชุงุฎุฑุง –ุฅู„ู‰ ุฃู† ู‚ุงู„
ุงู„ุซุงู„ุซุฉ : ุฅุฐุง ุญุถุฑ ูƒุซูŠุฑูˆู† ู…ู† ุงู„ุฑุฌุงู„ ูˆุงู„ุตุจูŠุงู† ูŠู‚ุฏู… ุงู„ุฑุฌุงู„ ุซู… ุงู„ุตุจูŠุงู† ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ู…ุฐู‡ุจ ูˆุจู‡ ู‚ุทุน ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ูˆููŠู‡ ูˆุฌู‡ ุญูƒุงู‡ ุงู„ุดูŠุฎ ุฃุจูˆ ุญุงู…ุฏ ูˆุงู„ุจู†ุฏู†ูŠุฌูŠ ูˆุงู„ู‚ุงุถูŠ ุฃุจูˆ ุงู„ุทูŠุจ ูˆุตุงุญุจุง ุงู„ู…ุณุชุธู‡ุฑูŠ ูˆุงู„ุจูŠุงู† ูˆุบูŠุฑู‡ู… ุฃู†ู‡ ูŠุณุชุญุจ ุฃู† ูŠู‚ู ุจูŠู† ูƒู„ ุฑุฌู„ูŠู† ุตุจูŠ ู„ูŠุชุนู„ู…ูˆุง ู…ู†ู‡ู… ุฃูุนุงู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุตุญูŠุญ ุงู„ุฃูˆู„ ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ูŠู„ู†ูŠ ู…ู†ูƒู… ุงูˆู„ูˆุง ุงู„ุฃุญู„ุงู… ูˆุงู„ู†ู‡ู‰ ุซู… ุงู„ุฐูŠู† ูŠู„ูˆู†ู‡ู… " ูˆุฃู…ุง ุชุนู„ู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ููŠู…ูƒู† ูˆุฅู† ูƒุงู†ูˆุง ุฎู„ูู‡ู…
ูˆุฅู† ุญุถุฑ ุฑุฌุงู„ ูˆุตุจูŠุงู† ูˆุฎู†ุงุซู‰ ูˆู†ุณุงุก ุชู‚ุฏู… ุงู„ุฑุฌุงู„ ุซู… ุงู„ุตุจูŠุงู† ุซู… ุงู„ุฎู†ุงุซู‰ ุซู… ุงู„ู†ุณุงุก ู„ู…ุง ุฐูƒุฑู‡ ุงู„ู…ุตู†ู ูุฅู† ุญุถุฑ ุฑุฌุงู„ ูˆุฎู†ุซู‰ ูˆุงู…ุฑุฃุฉ ูˆู‚ู ุงู„ุฎู†ุซู‰ ุฎู„ู ุงู„ุฑุฌุงู„ ูˆุญุฏู‡ ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฎู„ูู‡ ูˆุญุฏู‡ุง ูุฅู† ูƒุงู† ู…ุนู‡ู… ุตุจูŠ ุฏุฎู„ ููŠ ุตู ุงู„ุฑุฌุงู„ ูˆุฅู† ุญุถุฑ ุฅู…ุงู… ูˆุตุจูŠ ูˆุงู…ุฑุฃุฉ ูˆุฎู†ุซู‰ ูˆู‚ู ุงู„ุตุจูŠ ุนู† ูŠู…ูŠู†ู‡ ูˆุงู„ุฎู†ุซู‰ ุฎู„ูู‡ู…ุง ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุฎู„ูู‡

Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 27  Hal : 35-36

ุชุณูˆูŠุฉ ุงู„ุตู ููŠ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ
ุฐู‡ุจ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุฅู„ู‰ ุฃู†ู‡ ูŠุณุชุญุจ ุชุณูˆูŠุฉ ุงู„ุตููˆู ููŠ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุจุญูŠุซ ู„ุง ูŠุชู‚ุฏู… ุจุนุถ ุงู„ู…ุตู„ูŠู† ุนู„ู‰ ุงู„ุจุนุถ ุงู„ุขุฎุฑ، ูˆูŠุนุชุฏู„ ุงู„ู‚ุงุฆู…ูˆู† ููŠ ุงู„ุตู ุนู„ู‰ ุณู…ุช ูˆุงุญุฏ ู…ุน ุงู„ุชุฑุงุต، ูˆู‡ูˆ ุชู„ุงุตู‚ ุงู„ู…ู†ูƒุจ ุจุงู„ู…ู†ูƒุจ، ูˆุงู„ู‚ุฏู… ุจุงู„ู‚ุฏู…، ูˆุงู„ูƒุนุจ ุจุงู„ูƒุนุจ ุญุชู‰ ู„ุง ูŠูƒูˆู† ููŠ ุงู„ุตู ุฎู„ู„ ูˆู„ุง ูุฑุฌุฉ، ูˆูŠุณุชุญุจ ู„ู„ุฅู…ุงู… ุฃู† ูŠุฃู…ุฑ ุจุฐู„ูƒ ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ุณูˆูˆุง ุตููˆููƒู… ูุฅู† ุชุณูˆูŠุฉ ุงู„ุตู ู…ู† ุชู…ุงู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ: ูุฅู† ุชุณูˆูŠุฉ ุงู„ุตููˆู ู…ู† ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ: ูˆุฃู‚ูŠู…ูˆุง ุงู„ุตู ูุฅู† ุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุตู ู…ู† ุญุณู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆู„ู…ุง ุฑูˆุงู‡ ุฃู†ุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚ุงู„: ุฃู‚ูŠู…ุช ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฃู‚ุจู„ ุนู„ูŠู†ุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุจูˆุฌู‡ู‡ ูู‚ุงู„: ุฃู‚ูŠู…ูˆุง ุตููˆููƒู…، ูˆุชุฑุงุตูˆุง ูุฅู†ูŠ ุฃุฑุงูƒู… ู…ู† ูˆุฑุงุก ุธู‡ุฑูŠ ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ: ูˆูƒุงู† ุฃุญุฏู†ุง ูŠู„ุฒู‚ ู…ู†ูƒุจู‡ ุจู…ู†ูƒุจ ุตุงุญุจู‡ ูˆู‚ุฏู…ู‡ ุจู‚ุฏู…ู‡
ูˆุฐู‡ุจ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก - ู…ู†ู‡ู… ุงุจู† ุญุฌุฑ ูˆุจุนุถ ุงู„ู…ุญุฏุซูŠู† - ุฅู„ู‰ ูˆุฌูˆุจ ุชุณูˆูŠุฉ ุงู„ุตููˆู ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ู„ุชุณูˆู† ุตููˆููƒู… ุฃูˆ ู„ูŠุฎุงู„ูู† ุงู„ู„ู‡ ุจูŠู† ูˆุฌูˆู‡ูƒู…  ูุฅู† ูˆุฑูˆุฏ ู‡ุฐุง ุงู„ูˆุนูŠุฏ ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุชุณูˆูŠุฉ، ูˆุงู„ุชูุฑูŠุท ููŠู‡ุง ุญุฑุงู…؛ ูˆู„ุฃู…ุฑู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุจุฐู„ูƒ ูˆุฃู…ุฑู‡ ู„ู„ูˆุฌูˆุจ ู…ุง ู„ู… ูŠุตุฑูู‡ ุตุงุฑู، ูˆู„ุง ุตุงุฑู ู‡ู†ุง.
ู‚ุงู„ ุงุจู† ุญุฌุฑ ุงู„ุนุณู‚ู„ุงู†ูŠ: ูˆู…ุน ุงู„ู‚ูˆู„ ุจุฃู† ุชุณูˆูŠุฉ ุงู„ุตู ูˆุงุฌุจุฉ ูุตู„ุงุฉ ู…ู† ุฎุงู„ู ูˆู„ู… ูŠุณูˆ ุตุญูŠุญุฉ، ูˆูŠุคูŠุฏ ุฐู„ูƒ: ุฃู† ุฃู†ุณุง ู…ุน ุฅู†ูƒุงุฑู‡ ุนู„ูŠู‡ู… ู„ู… ูŠุฃู…ุฑู‡ู… ุจุฅุนุงุฏุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ
ูˆู…ู† ุชุณูˆูŠุฉ ุงู„ุตููˆู ุฅูƒู…ุงู„ ุงู„ุตู ุงู„ุฃูˆู„ ูุงู„ุฃูˆู„، ูˆุฃู† ู„ุง ูŠุดุฑุน ููŠ ุฅู†ุดุงุก ุงู„ุตู ุงู„ุซุงู†ูŠ ุฅู„ุง ุจุนุฏ ูƒู…ุงู„ ุงู„ุฃูˆู„، ูˆู‡ูƒุฐุง. ูˆู‡ุฐุง ู…ูˆุถุน ุงุชูุงู‚ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ุฃุชู…ูˆุง ุงู„ุตู ุงู„ู…ู‚ุฏู… ุซู… ุงู„ุฐูŠ ูŠู„ูŠู‡، ูู…ุง ูƒุงู† ู…ู† ู†ู‚ุต ูู„ูŠูƒู† ููŠ ุงู„ุตู ุงู„ู…ุคุฎุฑ ูˆู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ู…ู† ูˆุตู„ ุตูุง ูˆุตู„ู‡ ุงู„ู„ู‡ ูˆู…ู† ู‚ุทุน ุตูุง ู‚ุทุนู‡ ุงู„ู„ู‡. ูˆุนู„ูŠู‡ ูู„ุง ูŠู‚ู ููŠ ุตู ูˆุฃู…ุงู…ู‡ ุตู ุขุฎุฑ ู†ุงู‚ุต ุฃูˆ ููŠู‡ ูุฑุฌุฉ، ุจู„ ูŠุดู‚ ุงู„ุตููˆู ู„ุณุฏ ุงู„ุฎู„ู„ ุฃูˆ ุงู„ูุฑุฌุฉ ุงู„ู…ูˆุฌูˆุฏุฉ ููŠ ุงู„ุตููˆู ุงู„ุชูŠ ุฃู…ุงู…ู‡؛ ู„ู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุณุงุจู‚ุฉ
http://fiqhkontemporer99.blogspot.com