الأحد، 7 أبريل 2013

32. الطهارة: Hukum Menelan Mani/Sperma

PERTANYAAN
Cikong Mesigit

السلام عليكم..
sblmnya mhn maaf mgkn krn aga fornografi.tp hkm itu jls jd hrs di jlskn jg.
Fertanyaan inbox dr slh seorg cewek: bgmn hkm menelan air mani??? Sy ndak bs mnjwb jd dilemfar kesini.lanjud....fencerahan.


JAWABAN
Masaji Antoro
Waalaikumsalam wr wb

Khilaf, pendapat yang mashur TIDAK HALAL menelan mani

* (فرع)
هل يحل اكل المنى الطاهر فيه وجهان الصحيح المشهور أنه لا يحل لانه مستخبث قال الله تعالي (ويحرم عليهم الخبائث) والثانى يجوز وهو قول الشيخ أبي زيد المروزى لانه طاهر لا ضرر فيه

(CABANG)
"Bolehkah menelan mani yang suci? Ada 2 pendapat, dan yang benar dan masyhur bahwasanya itu tidak halal karena mustakhbats (menjijikkan) seperti Firman Allah SWT
"Dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk"(QS. 7:157).
sedang menurut AsSyaikh Abi Zaid alMarwazy menghukumi boleh karena mani adalah barang suci dan tidak ada DHOROR (bahaya) didalamnya"
(Al-Majmu' alaa Syarh Almuhadzzab II/556)

Neil Elmuna
At-TaQriirootus Sadiidah> sayyid hasan alkaaf > hal 128 >

hukmul maniyyi > fiihi tsalaatsatu aQwaal :
1. maniyyu jamii'il hayawaanaati Thoohirun illamaniyyal kalbi walkhinziiri wa far'i ahadihimaa.. wahuwa Qoulul imami an-Nawawiy.. wahuwal mu'tamadu..
2. maniyyul aadamiyyi Thoohirun wa maniyyu ghoirihi najisun .... wahuwa Qoulul imaami arRoofi'iy.
3. maniyyul aadamiyyi wa maniyyu kulli hayawaanin ma-kuulin Thoohirun ... wa maniyyu ghoiril ma-kuuli najisun.

Ta'riifu annajaasati lughotan : " kullu mustaQdzarin"
wa syar'an bil haddi : " kullumustaQdzarin yamna'u shihhatash Sholaati haitsu laa murokhkhisho".
Ta'riifuhuu bil 'addi < adat, menurut watak normal manusia> :" kullun min jamii'i maa yu'addu mustaQdzaron 'indal 'aadati.. wahiya
1. albaulu 2. alghooithu 3. addamu 4. alQoi-u 5. alwadiyu 6. almadziyyu 7. alkhomru 8.annabiidzu 9.kullu muskirin maa-i'in 10.alkalbu 11. alkhinziiru 12. far'u ahadi kalbi awil khinziiri 13. almaitatu 14. sya'ru almaitati 15. 'azhmu almaitati 16. labanu maa la yu-kalu lahmuhu 16. sya'ru ghoiril ma-kuuli idza infashola fii chaali chayatihi 17. almaa-u as-saa-ilu idzaa khoroja minal ma'iddati..

Dari semua uraian diatas dipastikan bahwa air mani manusia itu suci dan tidak termasuk dlm kategori najis baik menurut definisi syara' ataupun menurut perhitungan benda2 yang dinilai najis oleh ketentuan fiQh..

namun air mani itu dinilai dari dzatnya memang suci namun soal boleh "ditelan"< dikonsumsi> atau tidak? hmm?

dikutif dari: http://www.piss-ktb.com

31. الطهارة: Mimisen (Keluar Darah Dari Hidung) Saat Shalat

 PERTANYAAN

Ahmad Hanafi
Assalamu alaikum. Titipan p'tanyaan.
Sewaktu shalat mimisan (keluar darah dr hidung), batalkah shalatnya? Mhn brikut ktb rujukannya.


JAWABAN

1. Masaji Antoro

Waalaikumsalam wr wb
Ditafsil :
Bila darahnya sedikit, maka tidak membatalkan shalat. Apabila darah yang keluar banyak dan mengenai sebagian dari badan dan pakaiannya, maka wajib membatalkan shalatnya, meskipun shalat jumat.

فائدة : قال في التحفة : ولو رعف في الصلاة ولم يصبه إلا القليل لم يقطعها ، وإن كثر نزوله على منفصل عنه ، فإن كثر ما أصابه لزمه قطعها ولو جمعة ، وإن رعف قبلها واستمر فإن رجى انقطاعه والوقت متسع انتظره وإلا تحفظ كالسلس اهـ.

"Faidah: Mushannif (pengarang kitab) berkata dalam kitab Tuhfah: “Andai seseorang mimisan didalam shalat, dan darah yang keluar hanya sedikit, maka tidak membatalkan shalatnya. Apabila darah yang keluar banyak hingga mengenai bagian badan yang lain. Apabila darah yang mengenai bagian badan lain sangat banyak, maka seseorang yang sedang shalat itu harus membatalkan shalatnya meski dia sedang shalat jumat. Bila mimisan keluar sebelum shalat dan keluar terus, namun dimungkinkan mimisan berhenti dan waktu shalat masih cukup, maka dianjurkan untuk ditunggu hingga berhenti, apabila tidak mungkin ditunggu hingga berhenti, maka hidung disumpal saat shalat sebagaimana orang yang beser".
Bughyat al Musytarsyidin Halaman 53

2. A Nafik Halim
 ولو رعف في الصلاة لم تبطل و إن لوث بدنه مالم يكثر
بشرى الكريم 1/91
Keluar darah dari hidung/mimisan pada waktu shalat tidak membatalkan shalat sekalipun mengenai anggota badan. Dengan sarat darah yang keluar tidak banyak.
Busyral karim 1/91
tambahan : untuk ukuran banyak dan sedikitnya darah yg keluar di kembalikan pada 'Uruf

sumber: http://www.piss-ktb.com

30. الطهارة: Memasak Dengan Bahan Bakar Dari Barang Najis

PERTANYAAN :

Sulis Tyos
Assalamu'alaikum...saya mau nanya,.apa hukumnya memasak,merebus air dg menggunakan biogas yg mana bahan dasarnya dr kotoran binatang ternak atau manusia yg difermentasi menjadi uap gas,padahal bahan dasar tsb najis..monggo...


JAWABAN :

Masaji Antoro
Wa'alaikumsalam

Hukum asapnya bila memang itu terbuat dari kotoran, tetep najis. Hanya saja karena memasaknya tidak secara langsung maka tidak masalah, bahkan dalam kitab Bughyah andai lansungpun bisa suci hanya dengan membasuh dhohirnya meskipun rasa kotoran tersebut masih terasa pada makanannya

ومن المحكوم بنجاسته البخار الخارج من النجاسة المتصاعد عنها بواسطة نار ، إذ هو من أجزائها تفصله النار منها لقوتها لأنه رماد منتشر لكن يعفى عن قليله ، وشمل ذلك دخان الند المعجون بالخمر وإن جاز التبخر به لأن المتنجس هنا كالنجس ، وما لو انفصل دخان من لهب شمعة وقودها نجس أو من دخان خمر أغليت ولم يبق فيها شدة مطربة لنجاسة عينها ، أو من دخان حطب أوقد بعد تنجسه بنحو بول .

Tuhfah AlMuhtaaj I/247

================ ودخان انفصل من لهيب شمعة وقودها نجس

Hasyiyah jamal alaa almanhaj I/522

=================
مسألة : ي) : لحم عليه دم غير معفوّ عنه ذر عليه ملح فتشربها طهر بإزالة الدم ، وإن بقي طعم الملح كحب أو لحم طبخ ببول فيكفي غسل ظاهره ، وإن بقي طعم البول بباطنه إذ تشرب ما ذكر كتشرب المسام ، كما في التحفة

Bughyah I/34

http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/351574298198718/

29. الطهارة: Apakah Keputihan Membatalkan Sholat

PERTANYAAN :

Thiyah RizQie
Bagaimana hukumnya apabila seorang wanita sedang keputihan, waktu ia berwudu keputihannya tdk kluar. Tapi ketika sholat baru dapat 1 atau 2 rokaat keputihannya kluar sdikit.
Itu sholatnya batal tidak ya ???Di hentikan wudu lagi atau dilanjutkan ???


JAWABAN :

Nur Hasyim S. Anam
Da’imul hadats yang hendak salat fardlu, wudlunya wajib dilaksanakan setelah masuknya waktu salat. Setiap akan bersesuci (wudlu/tayamum), wajib membersihkan kemaluannya dengan air atau istinja’ dengan benda padat dsb. Lalu menyumbat lubang kemaluannya dengan sejenis kapas yang suci.Bila setelah disumbat hadasnya (darah/kencing) masih merembes keluar, ia wajib memakai pembalut dan bercelana dalam yang kuat.Untuk pria hal ini dilakukan dengan cara membalut kepala penis lalu mengikatnya.

Semua ini dilakukan bila memang;
1. Tidak membahayakan diri; misalnya menimbulkan rasa sakit atau panas dengan terhentinya aliran darah. Bila hal itu dirasa membahayakan / menyakitkan, maka boleh tidak melakukan penyumbatan atau pembalutan.
2. Tidak berpuasa. Bagi mereka yang berpuasa tidak boleh melakukan penyumbatan. Sebab bisa membatalkan puasa.

Jika setelah disumbat atau memakai pembalut hadasnya masih merembes keluar karena darah/kencingnya sangat kuat –bukan karena kurang kuat dalam membalut-, tidak menjadi masalah. Artinya salatnya sah, karena wudlunya tidak batal. Berbeda halnya jika hadas tersebut merembes karena kurang kuat dalam membalut.

Ketika menyumbat tidak boleh ada bagian kain/kapas penyumbat yang keluar, atau berada pada vagina/penis bagian luar. Meskipun sedikit. Sebab bila ada penyumbat yang keluar ke vagina/penis luar –walaupun hanya sehelai benang-, maka salatnya tidak sah. Sebab dianggap membawa barang najis. Yang dimaksud vagina bagian luar adalah daerah yang tampak ketika sedang jongkok buang air.

Semua hal di atas (membasuh kelamin, menyumbat sampai dengan salat) harus dilaksanakan setelah masuknya waktu dan tidak boleh lamban. Bila setelah wudlu, ia tidak langsung salat, maka wudlunya batal. Kecuali jika kelambanannya tersebut untuk kemaslahatan salat, semisal untuk menutup aurat, menunggu adzan /iqamah, mencari arah qiblat atau menunggu jamaah.

Perlu diketahui bahwa, wudlu bagi orang yang selalu berhadas (termasuk mustahadhah) hukumnya sama dengan orang bertayammum. Dalam artian, niat wudlunya sama dengan niat tayammum. Tidak boleh niat wudlu sebagaimana biasa.
Contoh niat wudlu bagi mustahadhah adalah;
a) niat wudlu agar diperbolehkan salat Ashar,
b) niat wudlu agar diperbolehkan membaca al-Qur’an, atau lainnya.
Satu kali wudlu yang diniatkan untuk salat fardlu hanya dapat dipakai untuk satu kali salat fardlu dan beberapa salat atau ibadah sunnat, sampai dengan keluarnya waktu salat. Jadi misalkan wudlunya untuk salat Zuhur, maka setelah melakukan salat Zuhur ia boleh melaksanakan ibadah-ibadah sunnah yang lain –tanpa mengulangi wudlunya– sampai keluarnya waktu Zuhur. Setelah itu wudlunya dianggap batal.

Da’imul hadats yang setelah wudlu hadasnya (darah/kencing) berhenti cukup lama (cukup untuk salat dan wudlu), maka wudlunya batal. Demikian juga sebaliknya, wudlu yang dilaksanakan saat darahnya berhenti (lama) tersebut batal dengan keluarnya darah.Mustahadhah yang memiliki kebiasaan kadang-kadang darahnya bersih (yang lama) dan kadang-kadang keluar, wajib melaksanakan salat dan wudlu pada saat masa bersih. Kecuali bila khawatir kehabisan waktu salat. Maka wajib wudlu dan salat pada saat darahnya mengalir, tanpa menunggu masa bersih.Mustahadhah yang jika melaksanakan shalat berdiri darahnya lebih deras daripada saat duduk, maka harus shalat dengan duduk.

Wallahu A’lam.


http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/335696603119821/

28. الطهارة: Jika Imam Ingat Punya Hadats atau Najis Setelah Shalat


Aldy Maula

Peratanyaan:
Bgmn jika seorang imam ketika di akhir sholat ingat klo dirinya py hadast atau najis,...
Apkh harus menyampaikan pd ma,mum,..?
Apakh si imam n ma,mum hrs mengulang sholatnya,...?
Tor nowon....


JAWABAN
Masaji Antoro
  Jika najis yang dibawa oleh imam itu tampak jelas sekira makmum memperhatikannya, najis tersebut dapat terlihat, maka imam wajib memberitahu dan makmum wajib mengulang shalat, namun menurut pendapat Imam Nawawi tidak wajib i’adah (mengulangi sholat).

Jika najis tersebut samar, maka :

~ Bila makmumnya bukan masbuq, imam tidak wajib memberitahu dan makmum tersebut tidak pula wajib i’adah, baik diberitahu ataupun tidak, dan;

~ Bila masbuq (makmum yang tidak cukup waktu untuk membaca Fatihah di saat berdirinya imam), imam wajib memberitahu dan si masbuq manakala belum salam atau sesudah salam tetapi masih dalam tempo yang pendek, maka ia harus menambah satu rekaat dan sujud sahwi dan manakala dalam tempo yang lama, maka ia harus i’adah.

Dalam semua kasus tersebut sudah barang tentu imam wajib i’adah.

(فَائِدَةٌ) يَجِبُ عَلَى اْلإِمَامِ إِذَا كَانَتِ النَّجَاسَةُ ظَاهِرَةً إِخْبَارُ الْمَأْمُوْمِ بِذَلِكَ لِيُعِيْدَ صَلاَتَهُ أَخْذًا مِنْ قَوْلِهِمْ: لَوْ رَأَى عَلَى ثَوْبِ مُصَلٍّ نَجَاسَةً وَجَبَ إِخْبَارُهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ آثِمًا اهاع ش عَلَى م ر [بجيرمي على المنهج

1/310]

“(Faedah). Wajib bagi imam yang membawa najis tampak jelas, memberitahu makmum perihal tersebut agar mengu-lang shalatnya, berdasarkan perkataan ulama, andaikan seseorang melihat najis pada baju seseorang yang sedang shalat maka ia wajib memberitahunya meskipun tidak ber-dosa”. (Bujairami ‘ala al-Manhaj 1/310).
وَصَحَّحَ النَّوَوِيُّ فِي التَّحْقِيْقِ عَدَمَ وُجُوْبِ اْلإِعَادَةِ مُطْلَقًا. (قَوْلُهُ مُطْلَقًا) سَوَاءٌ كَانَ الْخَبَثُ الَّذِيْ تَبَيَّنَ فِي اْلإِمَامِ ظَاهِرًا أَوْ خَفِيًّا

[إعانة الطالبين 2/46]

“Al-Nawawi di dalam kitab Al-Tahqiq membenarkan bahwa makmum tidak wajib mengulang shalat secara mutlak. Kata ‘mutlak‘ baik najis yang dibawa imam itu tampak jelas ataupun samar “. (I’anah al-Thalibin II/46).

وَلَوْ تَذَكَّرَ اْلإِمَامُ بَعْدَ صَلاَتِهِ أَنَّهُ كَانَ مُحْدِثًا أَوْ ذَا نَجَاسَةٍ خَفِيَّةٍ وَعَلِمَ أَنَّ بَعْضَ الْمَسْبُوْقِيْنَ رَكَعَ مَعَهُ قَبْلَ أَنْ يُتِمَّ الْفَاتِحَةَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُعْلِمَهُ بِحَالِهِ لِيُعِيْدَ صَلاَتَهُ إِنْ كَانَ قَدْ سَلَّمَ وَطَالَ الْفَصْلُ وَإِلاَّ يَأْتِيْ بِرَكْعَةٍ فَقَطْ وَيَسْجُدُ لِلسَّهْوِ [تنوير القلوب

156 –157]

“Andaikata usai shalat imam ingat bahwa dirinya sedang hadats atau membawa najis yang samar dan ia mengetahui bahwa sebagian makmum masbuq mengikuti rukuknya sebelum sempat menyempurnakan fatihah, maka ia wajib memberitahu perihal keadaan dirinya agar makmum tersebut mengulang shalat bila sudah salam dan dalam tempo yang lama. Bila belum/barusan salam maka menambah satu rekaat dan sujud sahwi.” (Tanwir al-Qulub 156-157).

لاَ إِنْ بَانَ ذَا حَدَثٍ وَلَوْ حَدَثًا أَكْبَرَ وَذَا نَجَاسَةٍ خَفِيَّةٍ فِيْ ثَوْبِهِ أَوْ بَدَنِهِ فَلاَ تَجِبُ اْلإِعَادَةُ عَلَى الْمُقْتَدِيْ لانْتِفَاءِ التَّقْصِيْرِ
مِنْهُ فِىْ ذَالِكَ [فتح الوهاب

1/63]

“Tidak wajib i’adah jika imamnya sedang berhadats sekalipun hadats besar dan membawa najis yang samar di pakaian atau badan, maka tidak wajib mengulang shalat bagi makmum karena tidak adanya kesalahan dari makmum dalam hal tersebut.” (Fath al-Wahhab I/63).

وَلَوْ صَلَّى بِنَجْسٍ غَيْرِ مَعْفُوٍّ عَنْهُ لَمْ يَعْلَمْهُ أَوْ عَلِمَهُ ثُمَّ نَسِيَ فَصَلَّى ثُمَّ تَذَكَّرَ وَجَبَتِ اْلإِعَادَةُ فِي الْوَقْتِ أَوْ بَعْدَهُ لِتَفْرِيْطِهِ بِتَرْكِ التَّطْهِيْرِ وَتَجِبُ إِعَادَةُ كُلِّ صَلاَةٍ تَيَقَّنَ فِعْلَهَا مَعَ النَّجْسِ، بِخِلاَفِ مَا إِذَا احْتَمَلَ حُدُوْثُهُ بَعْدَهَا فَلاَ تَجِبُ إِعَادَتُهَا، لَكِنْ تُسَنُّ كَمَا قَالَهُ فِي الْمَجْمُوْعِ [فتح الوهاب 1/50].

“Andaikan seseorang shalat tidak tahu bahwa dirinya mem-bawa najis yang tidak dimakfu, atau sebelumnya ia tahu kemudian lupa lalu shalat, kemudian ingat kembali maka wajib mengulang shalat ketika ingat atau sesudahnya, karena kesalahannya dengan meninggalkan bersuci. Begitu juga wajib mengulang tiap-tiap shalat yang ia yakini mengerjakannya dalam keadaan najis, berbeda jika najis tersebut dimungkinkan adanya setelah shalat maka tidak wajib mengulang, namun disunatkan sebagaimana keterangan di Al-Majmu’.” (Fath al-Wahhab I/50).

27. الطهارة: Cara Berwudhu Orang Yang Buntung Tangannya

PERTANYAAN :

Nadia Zulfa
Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Para asatid, asatidzah dan Masykhih...orang baru gabung di grup ini mau tanya. bagaimana wudlu'nya orang tangan buntung sampai siku-siku, apakah masih wajib dibasuh lengan atau tidak ?
terimakasih kepada semuanya atas pencerahan


JAWABAN :

Masaji Antoro
Wa'alaikumsalam wr wb

• Bila terpotong di bawah siku, wajib membasuh sisa lengan yang ada
• Bila terpotong tepat disikunya menurut pendapat yang paling shahih dan mashur wajib membasuh tulang sikunya yang masih ada
• Bila terpotong diatas siku, sunnah membasuh lengan diatas sikunya

( فَإِنْ قَطَعَ بَعْضَهُ ) أَيْ بَعْضَ مَا يَجِبُ غَسْلُهُ ( وَجَبَ ) غَسْلُ ( مَا بَقِيَ ) لِخَبَرِ { إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ } وَلِأَنَّ الْمَيْسُورَ لَا يَسْقُطُ بِالْمَعْسُورِ ( أَوْ ) قَطَعَ ( مِنْ مِرْفَقِهِ ) بِأَنْ سَلَّ عَظْمَ ذِرَاعِهِ وَبَقِيَ الْعَظْمَانِ الْمُسَمَّيَانِ بِرَأْسِ الْعَضُدِ ( فَرَأْسٌ ) أَيْ فَيَجِبُ غَسْلُ رَأْسِ ( عَظْمِ الْعَضُدِ عَلَى الْمَشْهُورِ ) لِكَوْنِهِ مِنْ الْمِرْفَقِ تَفْرِيعًا عَلَى أَنَّهُ اسْمٌ لِمَجْمُوعِ الْعَظْمَيْنِ وَالْإِبْرَةِ وَهُوَ الْأَصَحُّ ، وَالثَّانِي فَرْعُهُ عَلَى أَنَّهُ طَرَفُ عَظْمِ السَّاعِدِ فَقَطْ وَوُجُوبُ غَسْلِ رَأْسِ الْعَضُدِ بِالتَّبَعِيَّةِ ( أَوْ فَوْقَهُ ) أَيْ قَطَعَ مِنْ فَوْقِ مِرْفَقِهِ ( نُدِبَ ) غَسْلُ ( بَاقِي عَضُدِهِ ) كَمَا لَوْ كَانَ سَلِيمَ الْيَدِ لِئَلَّا يَخْلُوَ الْعُضْوُ عَنْ طَهَارَةٍ

“Bila terpotong sebagian tangan yang wajib ia basuh maka wajib membasuh yang tersisa dari yang terpotong tersebut berdasarkan hadits : “Bila aku perintahkan pada kalian satu perkara, maka laksanakan sebatas kemampuan kalian” dan karena kelapangan tidak semata dapat gugur sebab kesempitan.

Atau terpotong hingga kedua sikunya dan yang tersisa hanya kedua tulang disikunya maka ia wajib membasuh tulang sikunya menurut pendapat yang mashur karena ia bagian dari siku dengan pertimbangan bahwa kedua tangan adalah anggauta keseluruhan dari kedua tulang siku beserta lengannya dan ini adalah pendapat yang paling shahih.

Atau terpotong diatas tulang sikunya maka sunah membasuh sisa lengan atasnya sebagaimana orang yang kedua tangannya sempurna agar tidak terdapati anggota tubuhnya yang tidak ia sucikan”.
Hasyiyah as-Syibro Malisy Nihayah al-Muhtaaj I/51
Wallahu A'lam Bis showaab

Link Diskusi >>
http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/367327556623392/